Saturday, 3 January 2026

MESRA: PUISI & MUSIK | by: Michael Gunadi | Staccato, February 2026

“MESRA”
PUISI & MUSIK
By: Michael Gunadi
Staccato, February 2026

 


Hubungan antara puisi dan musik dapat dikatakan adalah sebuah hubungan kemesraan yang nyaris abadi. Sejak kebudayaan paling primitif orang mulai berpuisi. Bahkan di Cina kuno, kemampuan bersyair yang adalah berpuisi menjadi syarat wajib bagi seseorang yang akan menjadi pegawai negeri. Sepertinya akan menjadi menarik jika kita menelisik dan menguak serta menyeruak hal ikhwal tentang mesranya musik dan puisi.

 

KEDEKATAN MUSIK DAN PUISI

Musik dan puisi, dua wujud seni yang nampak berbeda, namun sesungguhnya memiliki akar dan jiwa yang berkelindan kuat. Dari zaman kuno, manusia sudah mengiringi kata-kata puitis dengan nada, irama, atau dentuman alat-alat musik sederhana. Dalam kenyataan kontemporer pun, banyak seniman membuat karya-karya yang menjembatani kata dan nada, dan cenderung memadukan puisi menjadi lagu, atau membuat musik yang lahir dari nuansa puisi.

 

Untuk memahami lebih jauh, pertama-tama mari kita definisikan terlebih dahulu apa itu puisi dan musik dalam pengertian populer.

Wednesday, 31 December 2025

SWIFTNOMICS - by: Michael Gunadi | Staccato, January 2026

SWIFTNOMICS
By: Michael Gunadi
Staccato, January 2026

 

Dunia pernah mengalami masa kegemilangan dan kejayaan luar biasa dari industri rekaman. Para tokoh dunia musik hiburan menjadi ikon sekaligus “superhero” bagi ukuran keberhasilan kehidupan. Popularitas nya mengalahkan profesi profesi agung di dunia. Dokter, pengacara, insinyur menjadi nampak nisbi dibanding kesuksesan para pelaku industri musik masa itu. Bukan hanya musik hiburan atau lazim dikenal sebagai Musik Pop atau Popular. 


Musik Klasik pun turut menikmati kejayaan dan kegemilangan industri musik. Dunia terkesima, takjub, ternganga. Melihat charming dan spektakulernya glamorous kehidupan seorang Leonard Bernstein sang dirigen. Dunia juga berdecak kagum melihat gaya hidup Herbert Von Karajan sang Maestro dirigen. Bergelimang harta. Punya Private Jet yang untuk ukuran jaman itu adalah sebuah kekayaan yang hanya bisa di dapat oleh para Pangeran Arab sebagai Raja Minyak. Karajan juga mengkoleksi Mobil balap dan selalu bersantap dengan hidangan dengan bahan bahan premium dari berbagai belahan bumi.

Monday, 1 December 2025

Masa Depan - by: Michael Gunadi | Staccato, December 2025

MASA DEPAN
By: Michael Gunadi
Staccato, December 2025

 


Sebetulnya, sebelum membaca artikel ini, sangat disarankan agar Anda tidak menjadi sok moralis. Tidak menjadi sosok yang belagu dan gagahan untuk bersikap selalu optimis. Saya pribadi memiliki prinsip, dan tentu ini tidak berarti bahwa anda diharapkan mengikuti prinsip saya, yakni bahwa seseorang dapat menjadi optimis jika dia tahu betul apa yang akan dia hadapi. Optimisme bukanlah kecemasan yang diselubungi sikap seolah tabah. Apalagi mengharap kuasa langit untuk campur tangan. Jangan dikecohkan antara optimisme dengan perjuangan realita. Kuasa langit pun dalam berbagai torehan sejatinya menorehkan pesan bahwa manusia, selagi dia masih menganggap dirinya fana, harus wajib untuk menghadapi realita dan berjuang.


Tulisan ini saya batasi dalam ranah Musik Klasik saja. Kenapa? Ya karena yang Pop, Jazz, Non Klasik sudah ada campur tangan industri. Meskipun bisa juga jatuh bangun, namun industri senantiasa terpaut dan terkait dengan kapital atau modal usaha yang adalah urat nadi semua pergerakan di dunia ini. Industri hampir selalu pasti mempertahankan eksistensinya meski seringkali harus menggerus idealisme dan ide-ide kreatif. Musik Klasik sejatinya tidak sepenuhnya ditopang dan dihidupi dengan cara-cara semacam itu. Sebab sekali saja Musik Klasik ditopang oleh industri, maka ia tidak akan lagi menjadi klasik. Ia akan menjadi entitas ekonomis belaka. Apa dampaknya? Asupan terhadap seni bunyi yang menginspirasi kalbu bening menjadi dipertanyakan.

Friday, 31 October 2025

KERJA APA? - by: Michael Gunadi | Staccato, November 2025

KERJA APA?
By: Michael Gunadi
Staccato, November 2025


Ketika seorang anak lulus SMA dan memutuskan untuk menjalani profesi sebagai seorang dokter, ada banyak nuansa yang berseliweran di benaknya. Bisa jadi ia memang suka dengan dunia kedokteran. Barangkali nilai biologi nya jauh lebih bagus dari nilai fisikanya. Bisa juga dia bingung antara harus tetap eksis sebagai sosok yang suka science dan hantu yang membisiki bahwa sebagai anaknya si A ia harus mapan secara prestis dan ekonomi. Atau, ini yang paling menggelikan, karena opa oma papa mama nya dokter ya dia harus menjadi dokter. Dan, tidak ada yang salah dengan semua itu. Fine saja. Ok saja.

 

Begitupun dengan seseorang yang ingin menjadi pengacara. Macam-macam nuansa juga yang berseliweran. Sah dan baik jika dia ingin menjadi pengacara karena terinfluence pengacara top yang secara ekonomi sangat mapan. Bagus juga jika ia terusik oleh penegakan hukum yang masih penuh drama. Bisa juga karena Fakultas Hukum adalah satu dari sekian banyak Fakultas yang bisa ditempuh sambil bekerja. Sekali lagi, itu semua Fine, Ok dan sah saja. Lalu....ini persoalan kita. Bagaimana dengan menjadi Pemusik?

 

Pemusik itu beda dengan dokter dan pengacara. Iyalah, makhluk dungu juga paham itu. Bukan begitu. Jika dokter dan pengacara memperoleh kepastian lahan penghasilan, tidak bagi pemusik. Siapa yang berani mengatakan bahwa pemusik memiliki penghasilan yang pasti. Tidak ada. Ana Vidovis, seorang Gitaris Klasik hebat asal Kroatia, dalam sebuah wawancara di situs gitar dengan gamblang menjelaskan. Jadi Pemusik itu berat. Anda harus benar benar TOTAL passion dan cinta musik. Beratnya tuh bahwa pemusik selalu harus menunggu tanpa ada kepastian kapan dia akan bisa konser dan/atau perform untuk mendapat nafkah. Dan sementara menunggu itu, KERJA APA. Mengajar dong. Hahahaha. Tak semua Pemusik bisa mengajar. Lagipula, guru musik itu, fenomenanya bisa dapat murid sekonyong konyong banyak, tapi juga bisa sekonyong konyong lenyap. Sampai di sini menjadi jelas bahwa diperlukan satu “kerja apa” untuk mengatasi problem utama pemusik masa kini yakni menunggu orderan.

Wednesday, 1 October 2025

JUARA | by: Michael Gunadi | Staccato, October 2025

“JUARA”
By: Michael Gunadi
Staccato, October 2025


Ada satu, dua pertanyaan yang sering diajukan khalayak. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebetulnya klise, membosankan dan memuakkan. Namun anehnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu dapat menjadi panduan tolok ukur dan bahkan parameter untuk mengukur perkembangan musik, khususnya “Musik Klasik” , saya beri tanda petik, di tanah air. 


Mengapa orang harus peduli dengan perkembangan “Musik Klasik” di negara seperti Indonesia? Ya jawabnya karena musik, yang klasik itu bisa dianggap sebagai musik seni. Musik yang masih mengedepankan dan mempertahankan ide-ide dan citarasa musikal yang menempatkannya sebagai entitas seni, yang tentu saja dapat memberi masukan bagi siapa saja pada hal yang sifatnya “baik” dan semestinya. 


Tentu saja juga sebagai penyeimbang di tengah maraknya industri dan industrialisasi musik. Industri dan Industrialisasi musik itu sama sekali tidak jelek. Bagus saja. Hanya kadang-kadang, kebutuhan akan cuan dapat membuat sebagian kalangan mengkeremus ide dan kepatutan musik sebagai entitas seni.

Monday, 1 September 2025

GURU MUSIK - by: Michael Gunadi | Staccato, September 2025

“GURU MUSIK”
By: Michael Gunadi
Staccato, September 2025


Karena media ini adalah media dalam ranah musik, maka tentu yang dimaksud GURU dalam tulisan ini adalah GURU MUSIK. Anda tidak perlu khawatir dan tak perlu juga merasa jengah, karena tulisan ini sama sekali tidak membicarakan tentang hal-hal basi yang membosankan dan memuakkan seperti misalnya: apa fungsi dan peran guru musik atau apa jasa-jasa guru musik. Tidak, bukan hal-hal semacam itu. Tulisan ini dihadirkan di hadapan Anda untuk berbicara tentang hal-hal yang mungkin terluput dari perhatian Anda dan bisa jadi malahan tak pernah Anda pikirkan dan bayangkan sebelumnya. Ok? Baik, ayo kita mulai.
 
Hal pertama yang bisa jadi tak pernah diusik oleh rasa ingin tahu anda adalah pertanyaan seperti ini. Guru Musik itu orang yang mengajar musik atau orang yang memberi pendidikan musik? Jawaban dari pertanyaan seperti itu sangat berdampak luas bagi pemahaman orang akan guru musik. Dalam batas tertentu, guru musik bisa sangat bersahaja untuk dipahami definisinya. Namun juga sangat bisa menjadi ruwet, ribet, dan sangat kompleks untuk dimaknai. Apalgi jika dipertautkan dengan dinamika kehidupan sosial seperti di era sekarang ini.
 
Sebetulnya, ada 3 tingkatan guru musik. Yang pertama adalah yang disebut sebagai Music Instructor atau Instruktur musik. Pada tingkat atau level ini, guru musik hanya menjalankan fungsi menjadikan seseorang bisa bermaian atau memainkan alat musik sampai taraf layak menurut standar umum yang berlaku. Seorang Instruktur musik, hanya mengajar berdasarkan hal empirik yang dia trima dari instrukturnya saat dia belajar. Dia tidak peduli bagaimana keunikan siswanya. Dia juga masa bodoh dengan kesulitan siswa dalam berlatih. Tugasnya adalah menularkan ilmu dan ketrampilan seperti yang dia peroleh. 

Thursday, 31 July 2025

Chopin Melanglang Buana - by: Michael Gunadi | Staccato, August 2025

CHOPIN MELANGLANG BUANA
By: Michael Gunadi
Staccato, August 2025


Ketika anda mendengar nama Chopin, salah satu hal yang terlintas di benak anda adalah POLANDIA. Tanah yang sangat dicintai dan dibanggakan Chopin. Lalu Anda akan bertanya, ngapain Chopin ke Inggris yang pada jaman itu tergolong jauh? Kisah kujungan Chopin ke Inggris merasa perlu diketengahkan karena sangat mirip dengan fenomena yang terjadi pada para guru musik terutama piano di tanah air. Mencermati kisah Chopin mungkin anda bisa menarik sedikit benang dari semburat realita salah seorang legenda Musik Klasik. Bahan dari kumpulan lecturer saya dan saya usahakan dengan bahasa yang formil, namun mudah dicerna.

 

Pada tanggal 16 Februari 1848, Chopin menggelar konser di Paris, tepatnya di Salle Pleyel bersama temannya,seorang pemain cello, Franchomme, dan pemain biola, Alard. Konser tersebut sukses besar dan ada rencana untuk konser berikutnya pada bulan Maret. Kemudian pada tanggal 23 Februari, revolusi meletus di jalan-jalan Paris. Monarki Juli yang dipimpin Raja Louis Philippe digulingkan, dan keluarga Kerajaan Perancis melarikan diri ke Inggris. Dunia Chopin hancur. Sebagian besar murid bangsawannya meninggalkan kota, acara musik terhenti, dan ia mendapati dirinya tanpa mata pencaharian. Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan, dan dengan kesehatan yang terus menurun karena tuberkulosis stadium lanjut, situasi Chopin menjadi sangat menyedihkan.