Monday, 9 July 2012

Pesona Sex Pada Gitar Klasik


PESONA SEX PADA GITAR KLASIK





Sudah lama orang,terutama laki-laki,mempersepsikan body gitar klasik sebagai body perempuan.Kita tentu belum melupakan ungkapan seperti : “ waaahhh…bodynya seperti gitar Spanyol..” Gitar Spanyol disini maksudnya ya gitar klasik,karena memang gitar klasik lazim dipadankan dengan Spanish Style.Body seperti gitar itu mengarah pada perempuan yang memiliki pinggang ramping dan pinggul yang montok.Bahasa Betawinya,Dhenok ,Deblong, bohay..hmmmm…Entah karena apa tidak pernah disitir tentang dada perempuan dalam perspektif gitar.Dan juga bulu ketiak perempuan.Mungkin karena tidak pernah mungkin gitar klasik akan ditempelin bulu ya..hehehehe..just joke.Yang jelas,sejak dari anatomi fisiknya,gitar menghantar angan pada sebuah persepsi fantasi sexual.Ini adalah salah satu pesona plus dari gitar.Tentu kita mengandaikan sebuah fantasi sexual yang sehat,dan tetap pada ranah kodrati sexual itu sendiri.

Beberapa situs,nama situsnya tidak penting,karena bukan itu esensinya,telah memperbincangkan para perempuan pemain gitar klasik,yang disebut memiliki pesona sex dalam konteks dengan fisik dan permainan gitarnya.Mereka adalah :


Sharon Isbin
Filomena Moretti
Liona Boyd
Elena  Papandreou
Badi Assad


 

 

 

 







Secara fisik,mereka adalah perempuan dengan pesona sex tinggi.Raut wajah sensual,dada montok (meski tidak besar ) dan sorot mata yang “mengundang”.Termasuk tatapan mata Elena Papandreou yang sayu dan tetap “mengundang”.Dari action figure pun,para perempuan ini memancarkan sex appeal yang tinggi.Holding position yang mengekspos ketiak terbuka,buka paha lebar menjepit gitar.Belum lagi ekspresi wajah yang …so hot…

Pesona sexual perempuan,yang adalah pemain gitar,sama sekali bukan hal tabu.Ini adalah sebuah realita.Dan tidak ada yang salah jika sebatas kita merasa ekstase dengan sebuah keindahan anatomi yang adalah karya Tuhan.Bukan ecstase ragawi yang cabul,melainkan ecstase bathin dengan kebersyukuran akan karunia Tuhan pada anatomi tubuh yang indah.Satu hal lagi,action figure para diva gitar klasik ini menyiratkan makna pada kita : BAHWA UNTUK MENJADI SEXY ORANG TIDAK HARUS BERBUGIL DAN BERPOSE SERONOK.Dengan anatomi fisik dan gitarnya,para diva gitar klasik ini membawa kita pada ranah sex yang sublime dan subtil.Lebih dari sekedar pamer pusar,paha,dada dan bulu ketiak.

Diva-diva gitar klasik ini,bukan pamer body.permainan gitarnya adalah mastery artistry yang sangat tinggi.Badi Assad misalnya.Dalam CD nya yang berjudul RHYTHM,Badi Assad berhasil mewujudkan sebuah music gitar yang erotic,sexy,cool namun tetap dengan virtuositas sangat tinggi.Music yang dibawakan adalah mix culture latin dan mediterania yang memang harus dibawakan sexy karena sudah menjadi kodrat musikalnya.Ditambah lagi dengan vocal yang berkarakter warm dan berat.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah,APA SIH UNTUNGNYA KALO TAHU BAHWA DI GITAR KLASIK ADA PESONA SEX??????? SAMA SEKALI TIDAK ADA UNTUNGNYA !!!!!
Hanya saja ada sedikit penyadaran bahwa sex adalah salah satu esensi hakiki dari kehidupan.Dan gitar klasik,melalui mkusiknya adalah sebuah life passion yang mengupas tuntas hasrat sexual namun tetap dalam kesejatian kodratinya.

GLADIATOR MUSIK


GLADIATOR MUSIK




Entah karena apa,sebulan terakhir ini kompetisi piano menjadi sangat marak di tanah air kita.Jika kita sempat menengok majalah music terkemuka yakni STACCATO,di situ banyak sekali pemberitahuan tentang kompetisi piano.Bahkan hamper 35% dari advertensi Staccato adalah pengumuman kompetisi piano.

Saya tergelitik untuk mensikapi,dan mengkritisi fenomena marfaknya kompetisi piano ini.Tentu saya usahakan tanpa tendensi,pretense,apalagi dugaan busuk.Semata hanya karena fenomena marfaknya kompetisi piano tersebut begitu menggebu dan membabi yang buta.

Apa yang salah dengan kompetisi piano ?? oooppsss…sama sekali tidak ada yang salah.Musik,tidak pernah salah !Kalo anda tidak suka musiknya A atau permainan music si B,ya jangan dengerin,habis perkara.Yang jadi masalah adalah,kompetisi piano menjadi marak di tengah-tengah “perjuangan” beberapa laskar music klasik Indonesia untuk membumikan music klasik.Teguh Sukaryo dengan gagah berani mengkampanyekan sebuah forum music klasik yang sangat kekeluargaan.Jelia Megawati Heru dengan gigih mengumandangkan pendidikan music  yang baik.Sudirman Leman juga tanpa kenal lelah  memperjuangkan sekolah music yang  “berbeda”.Lalu apa dampak maraknya kompetisi piano bagi semua gerakan mulia tersebut.

Maraknya kompetisi piano di tanah air menunjukkan bahwa dunia music piano di Indonesia sedang dihinggapi euphoria lomba.Bahkan sekolah music yang baru berdiri dan terletak di sudut kota secara terpencil pun ikut-ikutan latah menggelar kompetisi piano.Rupanya,sedang ada trend bahwa SEKOLAH MUSIC BERUBAH FUNGSI MENJADI EVENT ORGANIZER LOMBA.Ini kacau dan memprihatinkan.

Hal kedua adalah,dengan maraknya kompetisi piano,beberapa orang penggagas secara tanpa sadar telah merajut sebuah keaadaan MENCETAK PARA GLADIATOR MUSIK.Remaja bahkan anak usia 6 tahun sudah diiming imingi dan diseret ke dalam ajang perlombaan bagai gladiator.Musik dijadikan ajang aduan,persis seperti arena gladiator.Secara tanpa sadar ada stigma bahwa pemenang lomba adalah anak atau remaja yang sangat musical.Music bukan lagi diukur dari passion melainkan aduan secara nyata dalam kompetisi.

Orang yang sok tahu dan sok pintar bisa saja berujar begini : “ lho kan hidup itu sendiri pada hakekatnya adalah sebuah kompetisi…jadi ya  dari kecil anak  dibiasakan menghadapi kenyataan dong,bahwa hidup itu kompetisi…dan music kan bagian dari kehidupan…” Mereka lupa bahwa music itu adalah seni yang kontribusinya membangun jiwa,Kalaupun jiwa ini diwarnai sikap kompetitif,ya mestinya bisa direduksi semua efek negatifnya.Dengan maraknya kompetisi piano,saya tidak yakin bahwa kompetisinya akan fair dan mengedepankan passion for music.Karena dengan semakin maraknya sebuah trend,semakin besar pula distorsi dan kekotorannya.

Orang bisa saja mengatakan bahwa acara kompetisinya menghadirkan juri-juri yang maha pianis.Jurinya mungkin maha pianis.Tapi ingat,maha pianis pun tetap manusia yang bisa salah,bisa jenuh oleh kebosanan dan situasi.Belum lagi jika panitianya hanya berorientasi cari masukan uang semata.Dan…fatalnya,frekuensi event kompetisi piano ini banyak jumlahnya.Jadi ya…susah mengkontrol…dan memang rupanya tak perlu dikontrol ya.Biarkan saja.Toh hanya music.Salah pun,kotor pun,tengik pun tak membuat nyawa melayang kan.

Bagaimana dengan Chopin Piano Competition ? Yang membedakan ajang tersebut adalah bahwa ajang semacam kompetisi piano Chopin,tumbuh berkembang dan dijaga dengan tradisi yang ketat.Lalu bagaimana mungkin sih jika penyelenggaranya hanya sekolah music yang baru berdiri 5 tahunan dan tempatnya sangat terpencil,gelap dan kumuh.Tradisi macam apa yang mereka bisa tawarkan.Lha membangun dirinya saja gelap kok.



Satu hal yang nampaknya layak kita renungkan adalah : Stefan Janis,anak dari legenda piano Byron Janis,yang mana Stefan adalah kawan saya,berujar demikian : “Ayah saya adalah salah satu pianis kelas dunia yang sama sekali tak pernah ikut kompetisi piano “


Saturday, 7 July 2012

"IMPRO" - Artikel STACCATO Juli 2012

"IMPRO"
Artikel STACCATO Juli 2012
Oleh: Michael Gunadi Widjaja

 

Oleh: Michael Gunadi Widjaja

Saat orang mendengar pieces Jazz, tanpa harus mengadakan penelaahan yang rumit, langsung dapat dikenali bahwa saat itu sedang dikumandangkan pieces Jazz. Lalu apa sebetulnya yang secara instingtif membuat orang langsung mengenali sebuah performance sebagai Jazz?

Beberapa orang mengatakan bahwa “akor miring” (disonan) lah yang menjadikan Jazz spontan dapat dikenali. Anggapan ini tak sepenuhnya tepat. Jaman Dixieland dan juga masa-masa Louis Armstrong, Jazz hadir nyaris tanpa harmoni disonan. Toh tetap saja orang gampang mengenalinya sebagai Jazz. Ada lagi yang berujar bahwa sinkopasi lah yang menjadikan Jazz spontan dikenali - anggapan ini dalam beberapa konteks juga tidaklah pas. Sebab sinkopasi bukan monopoli dan bukan ciri monopolis Jazz. Musik etnik bahkan seperti Jathilan Jawa Tengah pun mengeksplorasi sinkop.


Dalam ranah studi musik dikatakan bahwa jiwa Jazz adalah improvisasi. Pernyataan ini memang benar, namun persoalannya adalah improvisasi yang bagaimana yang merupakan jiwa sekaligus ciri utama musik Jazz. Sebab jangan sampai terlupa, di era J.S Bach pun improvisasi sudah sedemikian maraknya. Menarik untuk diungkap sampai seberapa dalam peran improvisasi bagi identitas Jazz. Karena setidaknya, permenungan mengenai hal tersebut dapat menyemburatkan pemaknaan yang lebih dalam esensinya tentang keberadaan Jazz itu sendiri.

Improvisasi, sering disebut sebagai IMPRO saja. Saat saya berguru pada almarhum Jack Lesmana, beliau dengan arif memberi pengantar pada pelajaran impro dengan berkata sebagai berikut: “Michael, perlu kamu pahami: nada-nada dalam komposisi musik bisa lahir dalam hitungan menit, jam, hari, minggu, bulan - bahkan bertahun-tahun. Tapi nada-nada dalam impro, hanya lahir dalam seper sekian detik saja. Bahkan seringkali nada-nada tersebut hadir sebelum otak sempat bekerja…”

 
Secara sederhana, impro dalam Jazz sama lazimnya dengan impro dalam genre musik lainnya: mengandalkan olahan rasa dan spontanitas. Tentu saja ada satu faktor yang sangat menentukan bagi lahirnya sebuah impro, yakni TEKNIK INSTRUMENTASI. Tanpa teknik bermain yang mumpuni, apa yang bisa dibuat untuk berimprovisasi. Itulah mengapa pelajaran Jazz piano atau Jazz gitar pada tahap awal, tak ubahnya seperti pelajaran musik klasik pada umumnya. Karena dasar teknik sangat menentukan agar orang bisa berimprovisasi secara “baik”. ”Baik” dalam artian sejalan senada seirama dengan passion-nya.

Impro dalam Jazz dalam esensinya adalah to improve the theme phrase atau meningkatkan frase temanya. Dan tentu, upaya peningkatan ini dilakukan secara spontan. Belakangan banyak beredar buku-buku yang memuat pieces Jazz namun tanpa impro atau impro nya sudah sekalian dituliskan. Seperti Jazz piano oleh Mike Cornick, Pauline Hall dan, Robert D.Vandall. Jadi impro dilakukan tak spontan lagi. Fenomena ini dilakukan juga oleh maestro seperti Daniel Barenboim. Ranah studi musik menyebut fenomena ini sebagai JAZZ LITERER atau Jazz yang di “tulis”.


Impro dalam Jazz memiliki gaya dan musical approach tersendiri dan sangat khas. Menjadi menarik saat kita menengok ke belakang sejenak saat awal-awal Jazz menyatakan kelahirannya.Pianis Jazz masa awal, seperti Art Tatum bukanlah seorang yang mengenyam pendidikan akademik dalam musik. Secara naluri dan instingtif Art Tatum memainkan frase melodi dengan menggabungkan identitas kulturalnya. Hal ini menarik bagi para musikolog, antara lain Benny Goodman - sang master Jazz klarinet. Orang-orang seperti Benny Goodman mencoba mengungkap “rahasia”. Apa yang menjadikan alur melodi yang dimainkan pianis seperti Art Tatum dapat begitu unik dan sungguh orisinil.

Hasilnya adalah sebuah studi. Bahwa senantiasa ada unsur improvisasi dalam alur frase melodi Jazz dan ragam improvisasi ini ternyata merujuk pada CHURCH MODE atau tangga nada Gereja Roma Katolik kuno. Tangga nadanya sendiri dikenal sebagai Tangganada Gregorian. Untuk menghormati Paus Gregorius yang mengumpulkan tangga nada-tangga nada dalam modus yang sebetulnya adalah native culture atau budaya asli orang Yunani. Berbeda dengan tangga nada Mayor dan Minor yang berporos sentral, dalam tangga nada Gregorian, semua nada dapat menjadi poros bagi tangganada baru. Ada tujuh mode dalam tangga nada Gregorian, sbb:

CHURCH MODES

MODE
NAMA
NADA



I
Ionian
C  D  E  F  G  A  B  C
II
Dorian
D  E  F  G  A  B  C  D
III
Phrygian
E  F  G  A  B  C  D  E
IV
Lydian
F  G  A  B  C  D  E  F
V
Mixolydian
G  A  B  C  D  E  F  G
VI
Aeolian
A  B  C  D  E  F  G  A
VII
Locrian
B  C  D  E  F  G  A  B




Modus tersebut adalah bahan baku bagi impro. Namun persoalannya adalah bagaimana modus-modus tersebut diinteraksikan dengan tata harmoni yang juga memiliki aturannya tersendiri. Tentang tata harmoni dalam hubungannya dengan impro(visasi), pernah ada joke begini: Kalau misalnya, pianonya membunyikan chord C, trus gitarnya membunyikan chord G dalam waktu yang bersamaan, mungkin apa tidak ya? Orang yang skeptis pasti langsung teriak-teriak kebakaran jenggot ”GILA!!! YA TIDAK MUNGKIN DONG !!! KAN FALS tuh”. Dalam Jazz hal tersebut sangat mungkin dan malah bagus, sebab akor C dan G jika berbunyi bersamaan akan menghasilkan akor CMaj7(9).

Sepintas, impro dan konteksnya nampak sangat rumit. Dan kesemuanya itu harus dilakukan dalam sebuah kesesaatan in the real time and spontaneos. Untuk mencapai hal ini, tidak ada jalan lain selain sublim menjadi Jazz. Dan.ini membutuhkan waktu, proses, dan jam terbang yang tinggi. Pada hakekatnya, Jazz menawarkan sebuah ekstase rasa dalam ranah spontan yang tetap terukur.

PSEUDO IMPROVISASI PADA CHOROS VILLA LOBOS


PSEUDO IMPROVISASI PADA CHOROS VILLA LOBOS

Choros dalam makna musical dapatlah dikatakan sebagai music jalanan atau street music, yang juga menjadi bagian integral budaya folkloric masyarakat Brazil.Performansi Choros dalam konteks budayanya,sarat dengan improvisasi.

Musik klasik,secara lebih spesifik adalah citar klasik,sangat akrab dengan choros,terutama melalui komposisi dari Hector Villa Lobos.Yang paling terkenal dan hamper menjadi standar gitaris papan atas adalah CHOROS No. 1.

Choros No.1 terdiri dari 3 movement.Yang masing masing movement berbeda dalam kunci nada dan gramatik musikalnya.Musical formnya adalah A – B – A - C – A.Jika dicermati,hampir tak ada peluang dan sama sekali tak ada kerangka untuk berimprovisasi.Tentu jika yang diartikan improvisasi adalah sebagaimana dalam music jazz.Choros Villa Lobos sama sekali tak membuka keleluasaan ruang untuk improvisasi macam itu.Apalagi akar dari lanskap kompositorisnya adalah klasik modern.Jadi jelas konsep improvisasi TIDAK dipandang sebagai olahan kebebasan menguangkap rasa dalam kesesaatan

Lalu bagaimana dengan batasan Choros sebagai street music yang mestinya sarat improvisasi.Beberapa interpretator Villa Lobos melakukan apa yang pas disebut sebagai PSEUDO IMPROVISASI yakni improvisasi “semu”.Improvisasi ini berupa olah rasa dengan menyajikan “perubahan” kecil yang tidak merubah thema namun member nuansa yang sangat beragam.Untuk lebih jelasnya berikut disajikan dua buah video dari para interpretator Villa Lobos.

Yang pertama adalah  TURIBIO SANTOS.Di tangan Turibio Santos,Choros No 1 diimprovisasi dengan ritmik cepat dan musical approach yang klasikal.Musical form juga tidak dimainkan sebagaimana lazimnya,yakni bagian A tidak dimainkan lagi setelah B dan C.Turibio santos juga menambahkan Orchestra section di awal movement A meski hanya secuil saja.pada Movement 3 (bagian C),Turibio melakukan kontras dinamika dan gradasi tempo yang sangat mencolok,sehingga member nuansa yang berbeda dengan dua movement sebelumnya.

http://youtu.be/lqnVCIzyVEU

Video kedua adalah Alvaro Pierri.Alvaro Pierri memainkan Choros No 1 dengan pendekatan musical yang sangat jazz.Persisnya adalah sangat bossa nova.Manis,mendayu,manja dan romantic.Nada B E G yang diberi fermata dan mestinya dimainkan dengan luas,benar-benar dilanggar oleh Alvaro Pierri.Dan nampaknya ini adalah salah satu wujud dari pseudo improvisasi.Pada penghujung permainan,bagian A setelah repetisi,mendadak berubah tempo menjadi cepat ganas namun tetap solid dan passionate.


Choros dari Villa Lobos menyemburatkan satu makna bagi kita bahwa ada bentuk lain dari improvisasi selain yang lazim kita nikmati dalam music jazz.pseuso improvisasi (istilah saya) yang meski tak banyak bicara namun tetap menyiratkan nuansa makna yang dalam.

Sunday, 1 July 2012

ASPEK SEXUAL DALAM MUSIK KLASIK


ASPEK SEXUAL DALAM MUSIK KLASIK

Ada beberapa ungkapan di seputar music,seperti: “saat kata-kata kehilangan makna,saatnyalah music  berbicara “.Juga ada pernyataan seperti Music for Life.Music is something passionate and passion. Dari tiga ungkapan tersebut saja,dapat disimpulkan bahwa music berkenaan dengan semua aspek dalam kehidupan manusia.Semua aspek.Tentu dalam hal ini termasuk juga ASPEK SEXUAL.

Beberapa genre music baik secara sadar maupun tidak,sudah menyatakan aspek sexual dalam ranah komposisi dan performansinya.Blues misalnya.Memang aspek sexual ini bias sangat relative,sangat abstrak dan sangat personal bagi tiap individu.Namun ada beberapa generalisasi fenomena yang mau tidak mau,suka tidak suka,mempertautkan ranah kompositoris sebuah genre musical,dengan aspek sexual.Lalu bagaimana dengan Classicasl Music yang seringkali menampilkan persepsi Aristokrat dan agak angkuh.

Sudah menjadi aturan tidak tertulis,bahwa aspek sexual dalam music klasik tabu untuk dibicarakan.Padahal bahwa dalam pagelaran music klasik banyak sekali aspek sexual.Dari mulai figure performer sampai ranah kompositorisnya.Dan…harap diingat,bahwa ASPEK SEXUAL DI SINI BUKANLAH SEBUAH EXHIBISIONIST VULGAR YANG MURAHAN.Aspek sexual dalam music klasik,tetap dalam konteks sex pada ranah kesejatiaannya.

Ada seorang pemain biola anggota orchestra nasional Finlandia.Namanya Linda Brava.Postur bodynya sangat sexy.Linda Brava lebih dikenal sebagai miss Playboy ketimbang teknik biolanya yang sebetulnya sangat baik.Legenda biola JOSHUA BELL juga pernah dianggap memancarkan aspek sexualitas dalam music klasik,saat ia berpose membungkuk di sepeda motor,untuk cover album CD nya.

 


Jika saja kita mau jujur,sebetulnya sejarah mencatat bahwa public Eropa di jamannya pernah tergila-gila oleh Rigoletto dari Giuseppe Verdi.Rigoletto Verdi dianggap memancarkan aspek sexualitas yang luar biasa,meskipun sayangnya,dihubungkan dengan perselingkuhan.

Pada abad ke-19 sebetulnya timbul kesadaran. Kesadaran yang dipertautkan dengan feminisme. Sexualitas dalam aspeknya tidak pernah mencuat dalam ranah music klasik karena aturan yang ketat dan aristocrat.yang secara samar sebetulnya adalah maskulinitas dan bentuk terselubung dari dominasi laki-laki.Kita tidak perlu memperdebatkan isu fenomenal ini. Karena pada esensinya bukan feminism dan hegemoni yang penting, namun bahwa aspek sexualitas sesungguhnya ada dalam ranah music klasik.

Setelah Perang Dunia II di sekitar tahun 1950an terjadi rangkai peristiwa menarik. Karya Olivier Messiaen dan Pierre Boulez mulai mencuat.Materi karyanya adalah gelombang bunyi dan serialisme.Aturan angka-angka dalam komposisi music.Apa ini maksudnya?

Messiaen dan Boelez menggunakan seri angka-angka sebetulnya adalah sindiran dan sebuah normatic deconstruction.Merombak tatanan music klasik yang cenderung maskulin.Perombakan itu sendiri dalam batas tertentu bias ditafsirkan sangat sexy dan “mengundang”.Bahkan bias menimbulkan ecstase positif.Dan lanskap kompositoris Messiaen dan Boulez dalam esensinya tetaplah classical music.

Aspek sexualitas dalam Musik Klasik,setidaknya mengingatkan kembali pada kita.Bahwa adalah benar bahwa music adalah passionate sampai ke relung keberadaan manusia yang terdalam,yakni ranah sexual nya.Dan bukan hal tabu sexualitas dikedepankan sejauh tetap berpegang pada kepatutan yang meski dalam beberapa hal sangat relative.Bukankah sex itu tidak selalu harus buka baju dan pamer bulu ketiak dan pusar.