Saturday, 3 January 2026

MESRA: PUISI & MUSIK | by: Michael Gunadi | Staccato, February 2026

“MESRA”
PUISI & MUSIK
By: Michael Gunadi
Staccato, February 2026

 


Hubungan antara puisi dan musik dapat dikatakan adalah sebuah hubungan kemesraan yang nyaris abadi. Sejak kebudayaan paling primitif orang mulai berpuisi. Bahkan di Cina kuno, kemampuan bersyair yang adalah berpuisi menjadi syarat wajib bagi seseorang yang akan menjadi pegawai negeri. Sepertinya akan menjadi menarik jika kita menelisik dan menguak serta menyeruak hal ikhwal tentang mesranya musik dan puisi.

 

KEDEKATAN MUSIK DAN PUISI

Musik dan puisi, dua wujud seni yang nampak berbeda, namun sesungguhnya memiliki akar dan jiwa yang berkelindan kuat. Dari zaman kuno, manusia sudah mengiringi kata-kata puitis dengan nada, irama, atau dentuman alat-alat musik sederhana. Dalam kenyataan kontemporer pun, banyak seniman membuat karya-karya yang menjembatani kata dan nada, dan cenderung memadukan puisi menjadi lagu, atau membuat musik yang lahir dari nuansa puisi.

 

Untuk memahami lebih jauh, pertama-tama mari kita definisikan terlebih dahulu apa itu puisi dan musik dalam pengertian populer.


PENGERTIAN PUISI (SECARA POPULER)

Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, puisi sering dianggap sebagai bentuk karya sastra yang memadukan unsur keindahan bahasa, susunan baris dan bait, serta kepekaan terhadap irama dan bunyi. Sebagai “bahasa yang dipadatkan,” puisi berusaha menyampaikan makna, citraan (gambar), emosi, dan pengalaman secara ringkas, padat, penuh makna. 

 

Beberapa ciri khas yang sering dikaitkan dengan puisi:

 

1. Padat dan terkompresi

Puisi menggunakan diksi (pilihan kata) yang biasanya lebih kaya, padat dan efisien dibanding prosa. Setiap kata dalam puisi bisa memuat lapisan makna.

 

2. Irama/musikalitas internal

Walau tidak selalu berima, puisi tradisional sering memakai pola metriks (misalnya pantun, syair, soneta) atau setidaknya kesadaran terhadap tekanan kata, jeda, aliterasi, asonansi, dan elemen bunyi lainnya.

 

3. Struktur bait/baris

Puisi dibagi ke dalam baris dan bait, sehingga ada jarak visual dan ritmis dalam penyajiannya. Baris dan bait membentuk cara puisi “bernafas.”

 

4. Makna tersirat/simbolik

Puisi sering membuka ruang interpretasi. Bukan hanya apa yang tersurat, tetapi bagaimana kata-kata itu bekerja di balik permukaan.

 

5. Daya estetika (keindahan kata)

Meski makna penting, keindahan bunyi, imaji, dan aspek fonetik (bunyi) ikut menjadi bagian inti puis. Secara populer, banyak orang juga menganggap bahwa lirik lagu adalah puisi yang dipasangi musik,dan memang dalam praktiknya, seringkali benang merah antara keduanya sangat tipis.



 

PENGERTIAN MUSIK (SECARA POPULER)

Musik, dalam pengertian populer, adalah seni bunyi yang disusun secara sadar (melodi, harmoni, ritme, timbre) untuk menyampaikan ekspresi, emosi, citraan, atau cerita. Musik sering dipahami sebagai “bahasa universal” karena kemampuannya menyentuh perasaan yang tidak tergantung bahasa lisan. Musik Populer (Pop, Rock, Jazz, Hip-Hop, dll.) biasanya dilengkapi vokal dan lirik, sedangkan Musik Klasik atau instrumental lebih menitikberatkan aspek musikal murni tanpa teks (atau dengan teks dalam kontes tertentu seperti opera, lieder, oratorio).

 

MENGAPA PUISI DAN MUSIK “NYAMBUNG”?

Sebelum masuk ke contoh konkret,  kita pahami terlebih dahulu beberapa alasan mendasar mengapa puisi dan musik punya daya tarik yang dapat saling melengkapi:

 

Irama: Puisi memiliki irama kata-kata (melalui tekanan, panjang pendek suku kata, jeda) dan musik punya irama berupa Beat. Keduanya bisa disinergikan.

Bunyi/sonorita: Puisi memperhatikan bunyi (alfabet, vokal, konsonan) , aliterasi, asonansi, enjambmen, dsb. Musik menekankan bunyi nada, akord, resonansi. Aspek bunyi di puisi dapat diangkat oleh musik.

 

Sejarah bersama: Dalam banyak tradisi lisan, puisi dan musik tidak bisa dipisahkan. Misalnya syair Islami, gurindam, kidung, pantun yang dinyanyikan, bahkan dalam seni puisi Yunani kuno (lyric poetry) yang diiringi lyre sejenis Harpa mini. Dengan latar tersebut, banyak seniman menggunakan puisi sebagai sumber inspirasi bagi musik, baik dalam dunia musik Klasik maupun populer.

 

CONTOH KARYA MUSIK YANG DIILHAMI PUISI

Di bawah ini beberapa contoh menarik, dari ranah musik klasik dan populer, di mana puisi dijadikan bahan atau sumber inspirasi (langsung atau tidak langsung) bagi musik.

 

Karya Musik Klasik/Lieder/Art Song di tradisi Barat

Di dunia musik klasik Barat, adaptasi puisi ke dalam lagu vokal adalah tradisi panjang. Komposer-komposer seperti Franz Schubert, Robert Schumann, Johannes Brahms, Hugo Wolf, dan Gustav Mahler menulis “lieder” (lagu vokal dengan piano) berdasarkan puisi pujangga seperti Goethe, Heine, Rilke, dan lainnya. Masing-masing lieder berusaha menangkap atmosfer puisi melalui melodi, harmoni, dan hubungan vokal-piano.

 

Komposisi kontemporer vokal berdasarkan puisi

Dalam musim pertunjukan vokal modern, sering muncul “song cycles” atau siklus lagu yang disusun dari teks puisi, misalnya puisi kontemporer dalam bahasa Inggris yang diatur oleh komposer baru. (Contoh dalam pertunjukan Theatre of Voices, ada karya yang menyambungkan puisi Italia dan Inggris dalam pengaturan vokal modern) 

 


Karya populer/lintas genre

1. Leonard Cohen

Musisi ini adalah contoh klasik bagaimana seseorang menjembatani puisi dan musik. Banyak lagu-lagunya terasa seperti puisi yang diseing dalamt nada, dan ia memang juga dikenal sebagai penyair/naratív awalnya. Lagu-lagu seperti *Suzanne*, *Bird on the Wire*, *Hallelujah*, dan banyak lagi, menyerupai puisi dalam semiotik puitika.

 

2. Patti Smith

Patti Smith adalah figur yang dikenal sebagai “punk poetess.” Dalam album *Horses* dan karya-karya selanjutnya, dia menggabungkan spirit puisi beat dengan rock / punk. Ia juga menerbitkan buku puisi dan sangat menekankan bahwa musiknya adalah medium bagi kata-kata dan gagasan.

 

3. Jim Morrison (The Doors)

Jim Morrison sering disebut sebagai “rock poet.” Lirik-liriknya sangat puitis, penuh simbolisme, jiwa kelam, imaji, dan pengaruh dari puisi lama serta literatur. Ada buku puisi karya Morrison sendiri pula. 

 

URAIAN RINGKAS CARA MEMUSIKKAN PUISI

Membuat puisi menjadi musik  atau menyisipkan puisi ke dalam musik  bukan hanya menerangkan teks secara literal, melainkan meramu interaksi antara kata dan nada. Berikut adalah langkah-langkah atau pendekatan yang sering digunakan seniman (komposer, penyanyi, pencipta lagu) dalam “memusikkan” puisi:

 

1. Memahami puisi secara mendalam

Sebelum mulai memberikan musik, penting untuk membedah puisi itu sendiri:  Makna literal dan makna kiasan. Mood (suasana), warna emosional. Struktur baris dan bait.Irama internal (di mana tekanan, pause).Kata-kata yang “keras”, “lunak”, vokal terbuka atau sempit

 

2. Menentukan bentuk penyajian :nyanyian, pembacaan dengan iringan, atau hybrid

Ada beberapa model:

  • Nyanyian penuh (song): puisi diatur menjadi lirik dan dinyanyikan (vokal melodis), dengan melodi, harmoni, dan instrumen penunjang.
  • Pembacaan puisi dengan iringan musik ringan: di mana penyair membaca (spoken word), sementara latar musik (gitar, piano, string) mendukung suasana.
  • Puisi sebagai “instrumen” (Jazz, recitatif): puisi dibacakan dengan intonasi puitis, sedangkan musik menanggapi langsung ritme, pitch, jeda dari puisi tanpa menjadikannya “lagu” konvensional.
  • Puisi di antara bagian musik instrumental: seolah puisi adalah bagian naratif dalam rangkaian musik instrumental (seperti “narrator” dalam orkestra).

 

3. Menentukan ritme dan tempo

Karena puisi punya irama sendiri, komposer harus memilih tempo musik yang cocok agar kata-kata tak tertekan atau terlampau longgar. Dalam kasus pembacaan, musik bisa “mengikuti” irama bacaan atau sedikit mengakomodasi fleksibilitas tempo. Kalau puisi sudah memiliki meter (misalnya puisi yang terikat metrum), komposer bisa menjadikan metrum itu sebagai dasar takaran nada / Beat musik.

 

4. Menentukan nada dasar (key), melodi, dan harmoni

Memilih tangga nada atau skala yang cocok dengan suasana puisi (minor untuk suasana muram, mayor untuk cerah, skala modal atau non-diatonik untuk suasana ambigu). Menelusuri kata-kata yang mungkin bisa “ditekankan” lewat nada, misalnya mengangkat kata “langit” dengan melodi naik, atau menurunkan nada saat kata “sedih” muncul Membuat progresi harmoni yang mendukung warna emosi, kadang akord sederhana, kadang modulasi untuk meningkatkan ketegangan.

 

5. Menata frasa musikal agar sinkron dengan struktur puisi

Menyesuaikan panjang bar dengan panjang baris puisi . Ada kalanya satu bait puisi menjadi satu bagian musik (verse), atau satu bait dipotong menjadi beberapa frase musik. Memperhatikan jeda (rest) antara baris . Dalam musik bisa diterjemahkan sebagai jeda instrumen, pengurangan tekstur, atau pergeseran harmoni.

 

6. Menangani repetisi, refrains, dan pengulangan

Bila puisi memiliki frasa yang sangat penting atau Rheuma, bagian itu bisa dijadikan “refrain” dalam musik (diulang sebagai hook). Atau bagian tertentu bisa diulang dengan variasi harmoni/melodi agar tetap segar.

 

7. Menentukan aransemen instrumen dan tekstur musik

Instrumen apa yang akan dipakai (gitar, piano, string, elektronik, alat tradisional)? Textur: minimalis (aksen ringan) atau padat orkestral? Dinamika: kapan musik harus lembut (mendukung kata), kapan harus “menggebu” (mempuncak). Efek (reverb, delay) atau ornamen (ornamentasi nada) untuk memperkaya suasana.

 

8. Integrasi vokal / atau pembacaan puisi

Bila puisi dinyanyikan: vokal harus menjaga kejelasan kata-kata (artikulasi, porsi melodi, jeda internal). Bila puisi dibacakan: penyair bisa diberikan ruang ekspresi (ritmis, tempo variatif) dan musik menanggapi bukan menekan kecepatan bacaan.


No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.