Saturday, 27 October 2012

Indonesian Twinkle Twinkle Little Star for 2 pianos, 8 hands

  "JELIA's TWINKLE"
(for two pianos, eight hands)
by Michael Gunadi Widjaja


The TWINKLE TWINKLE LITTLE STAR
is one of the most famous songs for many decades.
Its origin is a lullaby. A Nursery song with the lyric of old English poem, 
that created by Jane Taylor.

The melody of this piece is stepping in common interval. 
So children can relatively easy to sing out this piece. 
The harmony structure seems like giving some kind of “open space” to being explored. 
This may be one cause of why the twinkles composed in many different forms of music, include as a lesson song.

Jelia asked me to make an attractive and unique arrangement 
for this twinkle that contains love, passion, 
and true friendship among her Suzuki colleagues. 
So I choose a popular music format for theme structure with kind of dissonant chordal. 
It expresses the meaning that friendship is not always going to be smooth.

In the second movement
I used one of the early Jazz form “RAGTIME” 
as a manifestation of dynamic relation.
In Jazz someone can share the musical passion 
to each other in jam session, just like friendship.

In the third movement, there is Dang Dut. 
Focused on the fact that it may contain many tradition elements. 
As if to remind that friendship never be loose from its cultural root. 
In the other side, Dang Dut is sexy, erotic, and passionate. 

In other words, this is Jelia’s Twinkle, 
 that has a lot of side – 
still has the virtuosity in true friendship, 
but also very passionate and exciting.

I call it a composition, even the theme is not mine.
Format: Piano Ensembles - 2 pianos, 8 hands 

Listen "Jelia's Twinkle" HERE
 



"JELIA's TWINKLE"
(for 2 pianos, 8 hands)
by Michael Gunadi Widjaja
Pianolicious Moment @ Istituto Italiano, October 6th, 2012  

for music sheet, please click: HERE

"ANGRY BIRDS Theme" for Piano Four Hands

ANGRY BIRDS THEME
(for one piano four hands)
Arr. by Michael Gunadi Widjaja

My re-arrangement of Angry Birds Theme. For me it's a cut off.
Because I'm only working on phrases, that I think it's essential character phrases.
I sneak some funny technique, like damper the piano strings and plucking the piano strings.

This work is for Jelia's Pianolicious Moment Concert on October 7th, 2012.
Something new for what she did to create attractive and innovative piano moments. 

Listen "ANGRY BIRDS" HERE

ANGRY BIRDS THEME
for one piano, four hands
Rearr. Michael Gunadi Widjaja

For music sheet, please contact:

Friday, 26 October 2012

Duo Guitar Piano for Astor Piazzolla "OBLIVION"

Duo Guitar Piano 
Astor Piazzolla "OBLIVION"
Arr. Michael Gunadi Widjaja



ABOUT ASTOR PIAZZOLLA "OBLIVION"

Astor Piazzolla's Oblivion was composed in 1982 as a chamber ensemble. 
This piece was one of Astor Piazzolla's most famous Tangos, 
and it became mostly popular when it was released 
on the soundtrack of Marco Bellochio's film Henry IV, the Mad King. 

It's one of the most famous Tango work ever done by Astor Piazzolla, and remains one of his best. 
It's a wonderful Tango that inspires many people, 
and is full of strong emotion and beautiful melodies. 
It's the elegance and inspiration all wrapped up into beautiful movements.

The melody is extremely melancholic and almost depressing. 
With long notes and beautiful, alternating notes and elegant figures, 
Oblivion is a song that spins a sad tale of love and woe.


"True silence is the rest of the mind;
it is to the spirit what sleep is to the body,
nourishment and refreshment.

And if tonight my soul may find peace in sleep,
and sink in good oblivion,
and in the morning  wake like a new opened flower"

Listen Piazzolla "Oblivion" Duo Guitar Piano

MP3 HERE


Live Performance HERE



Duo Guitar Piano
Astor Piazzolla "OBLIVION"
Rearr. Michael Gunadi Widjaja  
Pianolicious Moment @ Istituto Italiano, Jakarta - October 7th, 2012 

 

for music sheet, please contact:
  

Contemporary Guitar Solo Composition "1-2-5"

CONTEMPORARY GUITAR SOLO COMPOSITION

"1-2-5" 

for Solo Guitar
composed by Michael Gunadi Widjaja (2010)

The exploration of 1st, 2nd, 5th degree 
of C Major, F Major and B-flat Major


Midi version HERE


Live version HERE



get the music score HERE

Exotic Guitar Solo Composition

EXOTIC GUITAR SOLO COMPOSITION

"REB"
for solo guitar
composed by Michael Gunadi Widjaja
played for Manila Composer League in Philippines, 2011



In the silence there is still a exotic fantasies...

Reb is a javanese word for the silence situation, 
when man holds the woman closely and so tight. 

It could be very romantic and intense...

hear "REB" HERE 

get the music sheet: HERE

Saturday, 6 October 2012

“BACH IS JAZZ” - Artikel Staccato, Oktober 2012

“BACH IS JAZZ”
Artikel Staccato – Oktober 2012
Oleh: Michael Gunadi Widjaja



KONSEP REVOLUSIONER BACH

Dunia seolah sudah menorehkan takdirnya bahwa akan ada sosok manusia seperti Johann Sebastian Bach. Dari silsilah keturunan Bach, dapat dirunut bahwa 5 generasi keluarga Bach, semuanya adalah pemusik professional. Kakek moyang dan generasi terdahulu dari keluarga Bach adalah organis dan pembuat orgel pipa, di sebuah desa kecil di bagian timur Jerman. Meskipun secara ilmiah perlu dibuktikan, namun setidaknya silsilah genetis semacam ini bisa menjadi satu faktor yang membuat Bach menjadi seorang jenius musik dengan konsep pembaharuan musiknya yang fantastis.


Konsep pembaharuan musik inilah yang menjadikan Bach berbeda dengan the great composer yang lainnya. Bach mengusung konsep bermusik yang untuk ukuran jaman itu benar-benar baru, revolutioner dan mencengangkan. Dapat dikatakan bahwa Bach adalah seorang “Avant Garde” di jamannya. Dari sisi inilah kita bertolak untuk dapat mengatakan bahwa BACH IS NOT JUST CLASSICAL MUSIC..but BACH IS (also) JAZZ.

Pembaharuan yang dilakukan Bach lebih berupa “pendobrakan” terhadap kemapanan pakem bermusik yang popular saat itu. Tengok saja misalnya Suita untuk Unaccompaniment Cello - suita untuk cello yang mandiri, tanpa iringan. Sebelum lahir komposisi Bach untuk cello mandiri, orang sudah membuat Ricercare untuk cello tanpa iringan. Tetapi dengan virtuositas yang sangat rendah dan tidak bagus. Bach membuat cello mandiri menjadi sebuah instrumen dengan virtuositas sangat tinggi dan sempurna sampai pada tatanan materi sebuah grand concert.

Upaya mengangkat kemandirian sebuah instrumen, juga merupakan sebuah fenomena penting dalam perkembangan musik Jazz. Dizzie Gillespie misalnya, ia dikenal karena terompetnya yang berbentuk cabang seperti tanduk rusa. Padahal terompet tersebut dapat melengkung bercabang karena rusak tergencet truk! Namun seperti Bach, Dizzie Gillespie membuat konsep kemandirian bermusik untuk terompet dengan keadaan rusak sedemikian itu. Sajian Free Jazz ala Miles Davis dalam batas tertentu juga adalah semburat konsep Bach. Dalam Free Jazz nya, secara lanskap kompositoris, Miles Davis membuat semua instrumen sebagai entitas yang mandiri. Jadi bukan siapa mengiringi siapa, melainkan masing-masing berdiri mandiri dalam sebuah koridor kompositoris yang sudah ditentukan.

Hal lain yang membuat Bach bisa disebut “Jazz” adalah filosofi musiknya. Karya Bach seolah dibingkai oleh filosofi “Panta Rei“ mengalir sebagaimana hakekatnya. English Suite Bach adalah sebuah suita yang terus mengalir bak aliran sungai yang hampir tak pernah berhenti. Jarang ada komposer yang memiliki filosofi bagi lanskap karyanya. Umumnya para komposer melakukan pengembangan konsep musikalitas DAN BUKAN MENGUSUNG SEBUAH FILOSOFI BARU, berbeda dengan Bach. Dalam Jazz juga terdapat banyak konsep dengan filosofi yang “baru”. Konsep dan filosofi Raga India dalam metrum 5/4 Dave Brubeck, Ritmik adiksi Africa dari Miles Davis, Tangganada baru lengkap dengan filosofisnya dari The Modern Jazz Quartet.

 

UNSUR IMPROVISATORIS BACH

Tidak banyak disadari bahwa gaya musikal Bach dalam esensinya adalah improvisasi. Bach adalah improvisator terbaik di jamannya. Musik Bach yang sejati selayaknya dibunyikan dengan penuh improvisasi, meski tentu improvisasinya bukan berwujud frase baru. Adalah keliru (jika tidak mau dikatakan salah) jika memainkan komposisi Bach secara tekstual kaku. Filosofi dan lanskap musikalitas Bach akan makin nampak jika performer senantiasa ber-“improvisasi” dalam bentuknya yang tersamar sekalipun. Improvisasi dalam konteks interpretasi Bach tentu bukanlah tempo rubato saat kita memainkan karya Chopin.

  


Sifat improvisatoris musik Bach inilah yang menjadikan musik Bach sangat luwes untuk dibawakan dalam ranah Jazz. Adalah Jacques Loussier, pianis Perancis yang bersama Trionya berhasil melegenda dengan membawakan repertoireBach in Jazz”. Ada sepenggal kisah unik dari wawancara Jacques Loussier dalam footnote DVD nya, yang kiranya dapat lebih mempertegas opini bahwa “Bach is Jazz”.

Semasa masih mempelajari piano klasik di usia muda, Jacques Loussier sudah sangat tertarik dengan musik karya Bach, terutama repertoire dalam Notebook for Anna Magdalena Bach. Loussier memainkan repertoire tersebut berkali-kali, puluhan kali dan bahkan ratusan kali. Setelah ratusan kali memainkan, ia merasa bahwa musik Bach bisa disisipi dan ditambahkan elemen-elemen lain agar memiliki nuansa yang unik. Mulailah Jacques Loussier bereksperimen, dia mulai mengubah tempo, kemudian dia mulai mengubah nilai notnya, harmoninya mulai dia utak-atik, sampai akhirnya dia mencoba berimprovisasi dengan menggunakan tema melodi Bach sebagai landasannya.

Saat melakukan improvisasi, Loussier muda sebetulnya tidak begitu paham akan tata gramatik musikal Jazz. Kemudian dia banyak bergaul dengan para musisi Jazz dan berdialog. Betapa terkejutnya ia bahwa ternyata sangat banyak tokoh Jazz yang mengolah musik Bach untuk diimprovisasi dalam tata gramatik Jazz. Selain sifat musiknya itu sendiri, aspek teknik kompositoris dalam musik Bach sangat memungkinkan untuk dilakukan pengolahan yang sangat improvisatif.

Berikut saya sertakan cantus firmus dari karya Bach dalam “Notebook for Anna Magdalena Bach”. Judulnya “MUSETTE”. Dalam birama biner, lanskap melodiknya seperti ini:

(gambar 1)

Dari lanskap melodik tersebut, kita dapat melakukan pengolahan dengan relatif mudah,
misalnya dengan lanskap melodik seperti ini:

(gambar 2)

Nampak bahwa biramanya dengan sangat luwes bisa diubah menjadi common time. Alur melodiknya juga bisa dikembangkan sampai pada pengembangan harmoniknya. Hal semacam ini akan sangat sulit dilakukan pada musik karya komposer lainnya. Misalnya saja karya Vivaldi. Kita harus berkeringat dahulu untuk melakukan pengembangan sebagaimana yang kita lakukan terhadap karya Bach.

Pokok persoalan berikutnya adalah, apa gunanya mengetahui bahwa “Bach is Jazz”? Secara ekonomi dan finansial tentu tak ada gunanya sama sekali. Bahkan mungkin hanya merupakan bacaan yang dibaca sepintas kilas karena ada gambarnya saja. Di sisi lain, jika orang mau meluangkan waktunya, mestinya banyak hal yang dapat kita maknai dan kita jadikan makna untuk memperkaya rona kehidupan kita.

Bahwa musik memang senantiasa memiliki tata gramatik dan bahasanya sendiri. Namun tetap ada pertalian universal yang mengatasnamakan passion. Bahwa apapun genre musiknya, passion nya selalu hadir dalam kandungan yang sama. Orang boleh berbangga dengan musik Klasik, orang boleh juga picik mengunggulkan jenis musik tertentu. Fenomena “Bach is Jazz” sudah menjelaskan bahwa ada benang merah, yakni passion yang mempertautkan aspek musikal apapun itu genrenya.

Orang sering menganggap bahwa Bach adalah segalanya dalam musik Klasik. Anggapan itu sah sah saja adanya. Bach memang super extraordinary dan termasuk salah satu karya Tuhan yang paling representatif dalam musik. Yang jadi persoalan adalah orang sering menganggap bahwa musik Bach itu harus tepat teks tanpa melihat konteksnya. Sejatinya musik Bach sangat kompleks, termasuk salah satunya adalah sifatnya yang improvisatif.

Jazz sendiri sering dipandang sebagai ranah musikal yang penuh “kekeliruan”. Dalam batas tertentu memang benar. Tata harmoni Jazz misalnya, dapat membuat paradigma harmoni klasik menjadi sakit mata dan sakit kepala. Setidaknya “Bach is Jazz” mau berujar bahwa bukan pada tempatnya memperbandingkan atau bahkan menelaah dan juga mengkritisi genre musik melalui sesuatu yang bukan ranahnya. Yang utama barangkali adalah bagaimana mengedepankan passion, sehingga apapun musik kita sejauh itu passionate dan jujur, itu adalah musik yang sejati.

Wednesday, 5 September 2012

"Belajar Jazz" - Artikel Staccato (September 2012)

“BELAJAR JAZZ”

Artikel Staccato (September 2012)
Oleh: Michael Gunadi Widjaja



KISAH SEORANG PENCINTA JAZZ

Tulisan ini akan diawali dengan kisah seorang pengusaha. Pengusaha yang juga seorang bapak. Kegemaran utamanya adalah musik Jazz. Uang baginya bukan masalah. Bapak ini memiliki koleksi CD Jazz yang jauh lebih lengkap dari diskografi radio yang 24 jam siaran Jazz. Dia juga mengkoleksi buku-buku tentang Jazz, dari mulai riwayat para pemusik Jazz sampai pada kliping artikel-artikel tentang Jazz - termasuk artikel di Staccato…hehehehe… Tidak cukup sampai disitu,  bapak ini juga mengkoleksi score musik Jazz meskipun dia sama sekali tidak bisa memainkan instrumen musik satupun. Bahkan, segala pernik-pernik Jazz pun dia kumpulkan - dari mulai stiker, gantungan kunci, kaos (tidak termasuk bra penyanyi Jazz)…. Merasa masih kurang lengkap koleksinya, si bapak sering memenangkan lelang alat musik yang bekas dipakai para pemusik Jazz lokal maupun manca negara.


Kehidupan sehari-harinya pun tak lepas dari Jazz. Di mobilnya selalu berbunyi alunan Jazz, di rumahnya home theatre selalu siap saji dengan menu musik Jazz. Berbagai konser Jazz juga dia hadiri, termasuk harus jauh-jauh terbang ke LA hanya untuk bersalaman dengan George Benson. Si bapak memiliki seorang anak yang berusia 6 tahun, tampan seperti pianis Aryo Wicaksono. Menurut si bapak, anaknya sangat musikal dan cerdas serta memiliki kemampuan multi tasking. Anaknya itu bisa makan sambil nonton TV sambil mewarnai gambar sekaligus main video games. Multi tasking kan…hehehehehe….Persoalan mulai muncul saat si bapak ingin agar anaknya BELAJAR JAZZ.

Bapak yang pengusaha tersebut bersikeras agar si anak belajar Jazz dan bukan musik yang lain. Alasannya sangat masuk akal, bapak itu menganggap bahwa musik Jazz memiliki nilai universal yang tinggi - dari mulai Presiden Amerika sampai gelandangan di 42nd Street dekat jembatan New York, memainkan Jazz. Juga menurutnya Jazz adalah musik yang sangat sosial - tidak congkak, tidak pongah, dan tidak dipenuhi orang yang sok tahu tentang Bach dan Chopin. Menurutnya, Jazz memiliki spirit untuk berbagi, misalnya dalam Jam Session;Dan juga mengembangkan saling pengertian dan saling menghargai. Jazz juga mengedepankan rasa “bebas yang bertanggung jawab” - Bukan bebas asal menjawab. Sampai disini nyata bahwa si bapak memiliki apresiasi yang bagus akan musik Jazz. Wajar jika si bapak ingin agar anaknya belajar Jazz, meskipun belum tentu si anak berminat pada musik Jazz. Mengingat usia dan bisa saja lingkup teman-temannya, mungkin si anak lebih suka menyanyi MARS DORAEMON ketimbang mendampingi bapaknya mendengar Jazz, yang bagi si anak laksana seekor monster aneh.

Diajaknya si anak untuk mendatangi sekolah musik yang punya nama…ooopppssss…maksudnya terkenal..gito loh…wkwkwkwkw….Sekolah musik tersebut secara terang benderang memasang promo membuka (emang baju ya bisa dibuka) jurusan piano Jazz!!! Wow... Dengan penuh harapan si bapak mulai berdialog dengan receptionist di sekolah tersebut. Melihat penampilan si bapak yang sangat dandy dan perlente, tergopoh-gopoh sang receptionist memanggil (dengan hormat) pemilik sekolah yang merangkap kepala sekolah, administrasi dan juga tukang tagih school fee (alasannya efisiensi).

Bapak                            : “Mas, nanya, disini ada kursus piano Jazz ya?”
Pemilik sekolah         : “Ahaaa…betul, Pak..kami membuka jurusan piano Jazz.
    Dengan guru  yang kami pilih Pak “
Bapak                           : “Apa seumuran anak saya gini bisa les piano Jazz, Mas?”
Pemilik sekolah         : “BISA!!!!”
 (Melihat ada kesempatan emas, langsung saja pemilik sekolah menjawab dengan   tegas dan lantang)

Jam berdetak, hari berganti, minggu terlewati, bulan terlampaui… bahkan tahun pun tertapaki. Si anak sudah berusia 9 tahun. Artinya dia sudah belajar yang dinamakan “piano Jazz” selama tiga tahun. Namun yang selalu bapaknya dengar tak ubahnya dengan anak partner businessnya yang belajar piano klasik. Etude, etude, etude, etude dan etude serta latihan dexteritas jari yang membosankan. Tak ada itu ROUND MIDNIGHT. Tak pernah terdengar lagunya Dave Brubeck, apalagi Miles Davis dan Oscar Peterson. Bapak itupun sangat kecewa.

Kisah yang panjang lebar luas dan dalam tadi memang sangat membosankan dan mungkin sama sekali tak berguna untuk dibaca. Namun setidaknya kisah tadi memberi sekelumit gambaran tentang BELAJAR JAZZ. Ada anomali di sini. Literatur mengatakan bahwa pemusik Jazz terutama pada awal lahirnya Jazz adalah mereka-mereka yang miskin kumuh dan “tidak makan” sekolahan. Mereka memainkan musik dengan passionate. Lalu kenapa orang jaman sekarang yang “makan” sekolahan, difasilitasi tetap saja sulit dalam belajar Jazz.

KATEGORI PARA JAZZ MASTER

Sebetulnya, dalam belajar Jazz kita perlu mengacu pada para pendekar Jazz/para Jazz Master.
Ada dua kategori Jazz Master:  

1. Mereka yang “dari sononya” sudah memiliki Jazz dalam sanubarinya. Yang termasuk golongan ini misalnya: Gitaris Wes Montgomery, Louis Armstrong
Louis Armstrong
Wes Montgomery
 
2. Mereka yang mengecap pendidikan sekolah untuk kemudian main Jazz. Dalam golongan ini misalnya: Herbie Hancock, Chick Corea, dan bahkan Oscar Peterson.

Herbie Hancock

Untuk yang kategori  No. 1 jelas tidak mungkin kita tiru. Biarlah mereka menjadi bukti kebesaran Tuhan dan tetap menjadi bagian dari legenda dunia. Kita mengacu pada golongan No.2 Herbie Hancock misalnya, dia adalah pemain piano klasik yang sangat matang dalam teknik maupun musikalitas. Begitu juga dengan Chick Corea. Hingga kini, Chick Corea tetap menggunakan lagu-lagu karya Bach untuk mengasah terus menerus teknik permainannya.

Chick Corea

Dari napak tilas para master Jazz dapatlah kita tarik benang merah, bahwa belajar Jazz bukanlah sebuah metode didaktik yang sekonyong-konyong dan instan. Seseorang, berapa pun usianya, jika ingin belajar Jazz, terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan dasar musik. Termasuk teknik-teknik dasar bagi keluwesan jari jemari ataupun organ tubuh lainnya.

Musik senantiasa memiliki dua aspek yang saling bermesraan, yaitu: aspek teknik dan aspek musikalitas. Aspek teknik dalam musik Jazz tidak berbeda dengan aspek teknik musik Klasik. Ada latihan dexteritas, speed, accuracy, finger jump, sampai bagaimana mengolah tone yang colorful. Jadi semestinya, seseorang harus lulus tingkat lanjut (advanced) terlebih dahulu, jika dia ingin belajar Jazz dengan lancar dan menyenangkan. Yang membedakan Jazz dengan genre musik lain, dari sudut pandang belajar, adalah musikalitas dan bahwa Jazz memiliki ragam improvisasi yang sangat khas.

Aspek musikalitas dalam Jazz tidaklah hal yang bisa dipelajari dengan gampang. Jazz tidak seperti musik Klasik yang literer. Dalam musik Klasik, jika seseorang berhasil membunyikan teks secara persis seperti yang tertulis, dapatlah dikatakan orang tersebut sudah menghadirkan musik yang klasik. Lain halnya dengan Jazz - ada touch, feel, dan nuance yang membutuhkan sublimasi tinggi. Lagu “In The Mood” dari Glenn Miller misalnya, pada bagian awal secara teori memang berupa rangkaian semiquaver. Namun, dalam Jazz ada aksen-aksen tertentu yang menjadikan “In The Mood” sungguh Jazz dan aksen seperti ini tidak bisa dipelajari hanya dengan guru Jazz yang punya reputasi. Orang harus sublim di dalamnya. Dengan cara masuk dalam pergaulan komunitas Jazz ataupun sering mendengar Jazz.  


Saat saya belajar Jazz pada Alm. Jack Lesmana, saya dipinjami sekoper kaset. Dengan pesan agar didengar dan didengarkan sesering mungkin. Bukan untuk meniru kaset, melainkan agar nuansa dan touch, serta feel Jazz benar-benar merasuk dalam sanubari bahkan alam bawah sadar kita. Saya tahu persis bahwa Alm. pianis Bubbi Chen pun melakukan hal yang sama bagi muridnya.

IMPROVISASI

Berikutnya adalah improvisasi. Improvisasi Jazz sangat kompleks untuk dipelajari. Jazz improvisation bisa ditelaah secara metodik dan ilmiah. Namun hal itu sangat memusingkan, karena orang harus mengenal harmoni open-close terlebih dahulu. Baru kemudian diperkenalkan dengan konsep “Black Harmony” dan harmoni progresif. Barulah dia bisa mulai tertatih-tatih untuk ber-improvisasi, dan hal demikian sangat membutuhkan waktu panjang.

Banyak komposer menyadari bahwa menjadikan seseorang mampu ber-improvisasi adalah sebuah hal yang menuntut intensitas dan totalitas luar biasa. Itulah sebabnya, komposer seperti Christopher Norton, Mike Cornick memperkenalkan konsep “Jazz Literer”. Dalam Jazz literer, improvisasi tidak dilakukan spontan melainkan ditulis sepenuhnya. Daniel Barenboim pun main Jazz dengan konsep Jazz Literer. Daniel Barenboim adalah legenda musik Klasik, jadi rupanya agak aneh baginya jika melakukan sesuatu yang sifatnya spontan. Banyak kritik terhadap Jazz literer semacam ini. Para musikolog menganggap Jazz literer belum bisa disebut Jazz, karena improvisasinya bukan pengembangan potensi pemainnya melainkan sudah ditulis dan di plot oleh komposernya. Bagi saya pribadi, Jazz literer ok ok saja, sejauh rasa Jazz nya tetap terjaga.

Belajar Jazz adalah sebuah keniscayaan jika tidak dilatari dengan dasar musik yang mumpuni. Jadi, sebaiknya jika parents mengantar anaknya untuk belajar Jazz, teliti dahulu menu apa yang ada di sekolah musiknya. Karena jangan-jangan hanya tersedia menu Jazz-Jazz an belaka.