Showing posts with label opinion. Show all posts
Showing posts with label opinion. Show all posts

Thursday, 2 July 2026

SABOR A MI: Jejak Abadi Sang Legenda Bolero Meksiko | by: Michael Gunadi | Juli 2026

SABOR A MI:
“Jejak Abadi Sang Legenda Bolero Meksiko”
By: Michael Gunadi
Juli 2026

 


Dalam semesta musik Amerika Latin, hanya segelintir lagu yang mampu melampaui batas waktu, bahasa, dan tren mode sesaat. "Sabor a Mi" bukan sekadar lagu; ia adalah sebuah institusi budaya. Ditulis pada tahun 1959 oleh maestro asal Meksiko, Álvaro Carrillo, lagu ini telah menjadi standar emas genre Bolero yang terus bergema di pesta pernikahan, klub Jazz, hingga panggung konser internasional selama lebih dari enam dekade.

 

SEJARAH DAN ASAL USUL: Kelahiran Sebuah Mahakarya

Lahirnya "Sabor a Mi" berakar pada romantisme murni dan sedikit keberanian yang dipicu oleh alkohol. Alvaro Carrillo, seorang insinyur pertanian yang beralih profesi menjadi komposer, dikenal sebagai sosok yang sangat sentimental namun cerdas dalam merangkai kata.

INSPIRASI DI BALIK LIRIK

Legenda yang paling dipercaya menceritakan bahwa lagu ini terinspirasi dari momen nyata antara Carrillo dan tunangannya (yang kemudian menjadi istrinya), Ana María Incháustegui. Pada suatu malam di tahun 1957, saat mereka sedang minum bersama, Carrillo terus-menerus mencium Ana María.

 

Merasa sedikit terganggu namun terhibur, Ana María berkata bahwa suaminya itu akan membuatnya "merasa seperti wiski" karena banyaknya ciuman tersebut. Carrillo, dengan ketajaman insting seorang penyair, menjawab: "Bukan rasa wiski yang tertinggal, melainkan 'sabor a mi' (rasa dariku)." Frasa itu langsung menyalakan api kreatif. Carrillo menyadari bahwa ia baru saja menemukan konsep tentang cinta yang begitu mendalam sehingga meninggalkan bekas fisik dan spiritual pada orang lain. Lagu ini secara resmi didaftarkan pada tahun 1959 dan sejak saat itu, sejarah musik Latin berubah selamanya.

Monday, 1 June 2026

Harmoni yang Terganggu | Stress in Musician | by: Michael Gunadi | Staccato, June 2026

 “HARMONI YANG TERGANGGU”
STRES PADA PEMUSIK
By: Michael Gunadi
Staccato, June 2026

 

Dunia musik sering kali dipandang sebagai perpaduan antara keindahan, gairah, dan tepuk tangan meriah. Namun, di balik tirai panggung yang megah dan rekaman yang sempurna, terdapat realitas yang jauh lebih kelam. Bagi banyak pemusik, instrumen mereka bukan sekadar alat ekspresi, melainkan sumber tekanan yang luar biasa. Fenomena stres pada pemusik bukanlah hal baru, namun baru belakangan ini mendapatkan perhatian serius dari sudut pandang kesehatan mental profesional.

 

1. APA ITU STRES? (Pengertian Secara Umum dan Spesifik)

Secara umum, stres adalah respons fisiologis dan psikologis tubuh terhadap tuntutan atau ancaman yang dianggap melampaui kemampuan individu untuk mengatasinya. Dalam konteks biologis, stres memicu reaksi "fight-or-flight" (lawan atau lari), di mana hormon seperti adrenalin dan kortisol dilepaskan ke dalam aliran darah.

 

Bagi seorang pemusik, stres memiliki dimensi yang unik. Ini bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja delapan jam sehari. Stres musik sering kali bersifat eksistensial. Karena identitas seorang pemusik sering kali melekat erat pada kualitas permainannya, kegagalan dalam nada atau performa dirasakan sebagai kegagalan pribadi yang mendalam.

Friday, 1 May 2026

MUSIK DANGDUT: Sejarah, Perkembangan, dan Pengaruhnya dalam Masyarakat Indonesia | by: Michael Gunadi | Staccato, May 2026

“MUSIK DANGDUT”
Sejarah, Perkembangan, dan Pengaruhnya dalam Masyarakat Indonesia
By: Michael Gunadi
Staccato, May 2026


PENGERTIAN MUSIK DANGDUT

Musik dangdut merupakan salah satu genre musik populer di Indonesia yang memiliki ciri khas pada dentuman kendang dan gendang yang ritmis, disertai permainan seruling yang mendayu. Nama “dangdut” sendiri berasal dari suara khas pukulan kendang yang berbunyi “dang” dan “dut”. Karakteristik ini menjadi identitas utama yang membedakan dangdut dari genre musik lainnya. Dangdut dapat dipahami sebagai bentuk musik yang lahir dari perpaduan berbagai pengaruh budaya: Musik Melayu, India, Arab, serta Pop Barat.



Sebagai musik rakyat, Dangdut tidak hanya hadir dalam bentuk hiburan, tetapi juga sarana komunikasi sosial. Liriknya sering menyoroti kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari kisah cinta, kritik sosial, hingga pesan moral dan religius. Dangdut mudah diterima oleh berbagai kalangan karena iramanya sederhana, enak didengar, dan mampu membuat pendengarnya ikut bergoyang.

Wednesday, 1 April 2026

Gamelan Jawa Dari Sudut Pandang Pesimistis - by: Michael Gunadi | Staccato, April 2026

GAMELAN JAWA
DARI SUDUT PANDANG PESIMISTIS
By: Michael Gunadi
Staccato, April 2026

 

Saya batasi dahulu semesta paparan ini dengan istilah gamelan Jawa. Karena di dunia ini ada banyak jenis dan bahkan genre gamelan. Prinsipnya, yang disebut Gamelan itu adalah Orkestra Metallophone. Tentu bisa dilengkapi dengan alat gesek, petik dan tiup. Di Indonesia saja kita mengenal, yang terkenal dan dikenal ya, Gamelan Sunda, Gamelan Jawa (ada gaya Surakarta dan Yogyakarta), Gamelan Bali. Belum lagi yang formatnya tidak sebagai sebuah “orkestra”. Di Lombok ada, NTT, NTB ada juga. Di belahan dunia lainnya kita mengenal Gamelan Thailand, Gamelan China, Gamelan Kamboja, dan Gamelan India. Maka dari itu perlu saya beri batasan bahwa tulisan ini adalah tentang Gamelan Jawa.

 

Sebagai orang Indonesia, tentu, dan semestinya kita berbangga bahwa kita memiliki Gamelan Jawa. Meski namanya menyandang istilah Jawa, Gamelan Jawa tentu bukan milik suku Jawa saja. Ia adalah national Treasure dan bahkan National Heritage. 

 

Sebetulnya, Gamelan Jawa ini memang layak dibanggakan. Karena ia memiliki sistem tala yang jauh lebih kaya dari Musik Barat. Memiliki struktur sampai tatanan mikro yang juga jauh lebih kaya dari Musik Barat. Gamelan Jawa kalah populer di dunia salah satunya adalah karena orang Indonesia khususnya suku Jawa tidak melakukan ekspedisi kesana kemari dan menjajah kesana kemari. Selain itu, orang Indonesia tidak punya andil karena kalah licik dalam mengatur tata dunia secara global. Jadilah Gamelan Jawa kalah popular. Karena yang di sebelah sana melakukan penetrasi budaya dan juga hegemoni serta mahir dalam membentuk dan menyodorkan kemasan menjadi lebih menarik. Ini adalah keprihatinan dan pesimistis yang pertama. Bagaimana Gamelan Jawa bisa tetap ada dan bisa tumbuh kembang ditengah aneksasi, infiltrasi, dan hegemoni budaya barat yang strategi industrinya sungguh menarik.

Sunday, 1 March 2026

PROPAGANDA - by: Michael Gunadi | Staccato, March 2026

PROPAGANDA
by: Michael Gunadi
Staccato, March 2026


 

Propaganda adalah salah satu bentuk praktek Politik. Propaganda sering dikonotasikan negatif. Padahal, Propaganda tak selalu buruk. Sering dan bahkan teramat sering propaganda menjadi alat agitasi bagi rakyat suatu negara untuk menjalankan satu program kesejahteraan tertentu. Dalam napak tilas peradaban manusia, propaganda seringkali menyertakan musik dan bahkan berbentuk sebagai sajian musik. Apa dan bagaimana duduk persoalannya sehingga musik dan propaganda bisa padu padan dalam peraduan nan mesra?

 

PENGERTIAN DASAR

 

MUSIK

Musik secara populer bisa diartikan sebagai seni bunyi yang disusun atas kombinasi nada, ritme, tempo, harmoni, melodi, dan dinamika, dengan tujuan ekspresi estetis serta komunikasi emosi atau gagasan. Dalam konteks “musik populer” (popular music) istilah ini sering merujuk pada genre musik yang dirancang agar mudah diterima khalayak luas, sering disebarkan lewat media massa seperti radio, televisi, streaming online, konser, dan sebagainya. 

 

Ciri‑utamanya adalah:

* Struktur melodi atau chorus yang mudah diingat;

* Irama yang menarik dan kadang sederhana agar mudah dinikmati dan dicerna;

* Distribusi melalui media massa diproduksi secara profesional;

* Daya tarik massal, sering kali berkaitan dengan tren budaya, sosial, atau bahkan mode.

 

Musik Klasik atau “musik seni” (art music) berbeda dalam beberapa hal: biasanya bersifat lebih kompleks secara teknis atau teoretis, menggunakan alat musik orkestra atau solo, ditulis lebih formal, sering menggunakan bentuk simfoni, sonata, opera, atau karya orkestra lainnya, dan biasanya tidak semata-mata ditujukan untuk pasar massal.

Monday, 1 December 2025

Masa Depan - by: Michael Gunadi | Staccato, December 2025

MASA DEPAN
By: Michael Gunadi
Staccato, December 2025

 


Sebetulnya, sebelum membaca artikel ini, sangat disarankan agar Anda tidak menjadi sok moralis. Tidak menjadi sosok yang belagu dan gagahan untuk bersikap selalu optimis. Saya pribadi memiliki prinsip, dan tentu ini tidak berarti bahwa anda diharapkan mengikuti prinsip saya, yakni bahwa seseorang dapat menjadi optimis jika dia tahu betul apa yang akan dia hadapi. Optimisme bukanlah kecemasan yang diselubungi sikap seolah tabah. Apalagi mengharap kuasa langit untuk campur tangan. Jangan dikecohkan antara optimisme dengan perjuangan realita. Kuasa langit pun dalam berbagai torehan sejatinya menorehkan pesan bahwa manusia, selagi dia masih menganggap dirinya fana, harus wajib untuk menghadapi realita dan berjuang.


Tulisan ini saya batasi dalam ranah Musik Klasik saja. Kenapa? Ya karena yang Pop, Jazz, Non Klasik sudah ada campur tangan industri. Meskipun bisa juga jatuh bangun, namun industri senantiasa terpaut dan terkait dengan kapital atau modal usaha yang adalah urat nadi semua pergerakan di dunia ini. Industri hampir selalu pasti mempertahankan eksistensinya meski seringkali harus menggerus idealisme dan ide-ide kreatif. Musik Klasik sejatinya tidak sepenuhnya ditopang dan dihidupi dengan cara-cara semacam itu. Sebab sekali saja Musik Klasik ditopang oleh industri, maka ia tidak akan lagi menjadi klasik. Ia akan menjadi entitas ekonomis belaka. Apa dampaknya? Asupan terhadap seni bunyi yang menginspirasi kalbu bening menjadi dipertanyakan.

Friday, 31 October 2025

KERJA APA? - by: Michael Gunadi | Staccato, November 2025

KERJA APA?
By: Michael Gunadi
Staccato, November 2025


Ketika seorang anak lulus SMA dan memutuskan untuk menjalani profesi sebagai seorang dokter, ada banyak nuansa yang berseliweran di benaknya. Bisa jadi ia memang suka dengan dunia kedokteran. Barangkali nilai biologi nya jauh lebih bagus dari nilai fisikanya. Bisa juga dia bingung antara harus tetap eksis sebagai sosok yang suka science dan hantu yang membisiki bahwa sebagai anaknya si A ia harus mapan secara prestis dan ekonomi. Atau, ini yang paling menggelikan, karena opa oma papa mama nya dokter ya dia harus menjadi dokter. Dan, tidak ada yang salah dengan semua itu. Fine saja. Ok saja.

 

Begitupun dengan seseorang yang ingin menjadi pengacara. Macam-macam nuansa juga yang berseliweran. Sah dan baik jika dia ingin menjadi pengacara karena terinfluence pengacara top yang secara ekonomi sangat mapan. Bagus juga jika ia terusik oleh penegakan hukum yang masih penuh drama. Bisa juga karena Fakultas Hukum adalah satu dari sekian banyak Fakultas yang bisa ditempuh sambil bekerja. Sekali lagi, itu semua Fine, Ok dan sah saja. Lalu....ini persoalan kita. Bagaimana dengan menjadi Pemusik?

 

Pemusik itu beda dengan dokter dan pengacara. Iyalah, makhluk dungu juga paham itu. Bukan begitu. Jika dokter dan pengacara memperoleh kepastian lahan penghasilan, tidak bagi pemusik. Siapa yang berani mengatakan bahwa pemusik memiliki penghasilan yang pasti. Tidak ada. Ana Vidovis, seorang Gitaris Klasik hebat asal Kroatia, dalam sebuah wawancara di situs gitar dengan gamblang menjelaskan. Jadi Pemusik itu berat. Anda harus benar benar TOTAL passion dan cinta musik. Beratnya tuh bahwa pemusik selalu harus menunggu tanpa ada kepastian kapan dia akan bisa konser dan/atau perform untuk mendapat nafkah. Dan sementara menunggu itu, KERJA APA. Mengajar dong. Hahahaha. Tak semua Pemusik bisa mengajar. Lagipula, guru musik itu, fenomenanya bisa dapat murid sekonyong konyong banyak, tapi juga bisa sekonyong konyong lenyap. Sampai di sini menjadi jelas bahwa diperlukan satu “kerja apa” untuk mengatasi problem utama pemusik masa kini yakni menunggu orderan.

Saturday, 1 February 2025

MENJADI MODERN ITU HARUS - by: Michael Gunadi | Staccato, February 2025

MENJADI MODERN ITU HARUS
By: Michael Gunadi
Staccato, Februari 2025

 


Artikel kali ini, akan mebahas tentang keadaan Musik Klasik yang kian buruk dan menyedihkan saat kita sebetulnya sudah memulai masuk pada dekade ketiga abad ke-21. Sebetulnya bahkan sejak tahun 1940-an dan 1950-an, para kritikus musik sudah mulai mengeluhkan bahwa sangat banyak para pemain musik klasik yang tidak bermain, menyanyi, atau membawakan Musik Modern. Hal ini mencapai puncaknya pada tahun 1960-an dan 1970-an. Namun, keluhan para kritikus musik tersebut, sebagian besar telah mereda selama 40 tahun terakhir. Mungkin saja, reda  karena tidak ada seorang pun di bidang Musik Klasik yang mau mendengarkan musik modern.

Tapi sekarang, saat ini kita sebetulnya sudah sampai pada titik dimana sudah ada lebih banyak musik modern hebat yang ditulis dan direkam dibandingkan sebelumnya, dan yang dimaksud dengan “modern” terkadang adalah karya para komposer yang berasal dari tahun 1940-an. Lihatlah rata-rata program konser simfoni, pertunjukan lagu atau instrumen solo, atau repertoar gedung opera favorit di dunia zaman sekarang. Kita tidak akan menemukan banyak hal. Jikapun ada sesuatu yang diprogram, yang ditulis lebih kuno dari awal tahun 1930-an, hampir selalu mengarah pada hal yang sama: yakni musik tonal oleh para Great Masters. 


Jika ada kebangkitan dalam dunia Musik Klasik, biasanya hal tersebut disebabkan oleh promosi beberapa komposer yang menulis musik yang lumayan indah dari pertengahan abad ke-18 hingga tahun 1930-an. Sebut saja semisal penemuan Florence B. Price. Peristiwanya merupakan anugerah bagi musisi klasik dan khususnya stasiun radio yang memutar Musik Klasik. Florence B. Price ini, dia menulis musik yang dibuat dengan baik namun impersonal, cantik dan menarik tetapi sejatinya tidak mengatakan apa-apa, dan yang paling menarik di sini adalah karena dia itu orang Afrika-Amerika, yang mana mereka dapat merasa nyaman dengan diri mereka sendiri dengan mempromosikannya, meskipun musiknya indah tapi tak mengandung “pesan” apapun.

Wednesday, 1 January 2025

SEKELUMIT - by: Michael Gunadi | Staccato, January 2025

SEKELUMIT
By: Michael Gunadi
Staccato, January 2025


Jika bicara soal Gamelan dari sudut pandang musik barat, tentu yang terbersit dalam benak secara langsung adalah karya Claude Debussy, dan tentu Leopold Godowsky. Bagi yang piknik nya lumayan jauh, bisa menyebut karya Lou Harrison dan Collin McPhee. Bagi yang sering piknik bisa ditambah dengan Jody Diamond atau malahan Gamelan X (yang sekarang entah gimana nasibnya). Lalu mungkin ada yang berceloteh. Bagaimana dengan Pak Sumarsam? Beliau sudah malang melintang dan lintang pukang mengajar dan mempopulerkan Gamelan di USA. Terus bagaimana juga dengan Mas Rahayu Supanggah. Mas Otto Bima Sidharta. Hmmm. Ya kenapa dengan beliau-beliau itu. Beliau-beliau tersebut sudah moksa dalam keabadian karyanya. Secara ritual. Kompositoris maupun atma nya. Tulisan ini mau mengetengahkan pernik yang mungkin terlewat tentang Gamelan. Dipersandingkan dengan budaya musik barat karena pembaca majalah ini didominasi oleh kaum piano dan musik budaya barat.

 

Apa sih Gamelan itu? Orkestra nya Jawa. Seperangkat bebunyian yang terdiri dari piranti Idiofon, kendang, suling, terus terkadang ada juga alat musik berdawai semisal rebab, kecapi. Perangkat bebunyian ini bisa dimainkan antara 3 sampai 20-an manusia. Sejatinya, sejalan dengan napak tilas peradaban manusia, Gamelan juga memiliki sejarah napak tilas yang sangat panjang. Sebetulnya, Gamelan itu, bagi yang sempat mencermati ya, juga mengalami perkembangan. Banyak unsur-unsur budaya lain yang masuk dalam Gamelan. Sebut saja misalnya dari ragam budaya musik India, China, Persia, Eropa. Malahan sejak tahun 1990-an sudah ada karya komposisi Gamelan yang berbirama ¾ dan berirama Waltz. Tentu saja tak ketinggalan selusupan musik DangDut.

Monday, 30 September 2024

KUSUT - by: Michael Gunadi | Staccato, October 2024

KUSUT

By: Michael Gunadi

Staccato, October 2024



Jika kita mau sedikit menaruh perhatian pada keadaan sekarang, tentu kita akan menyadari bahwa banyak, bahkan terbilang sangat banyak hal-hal KUSUT dalam ranah musik. Di segala sektornya. Baik pertunjukan, apresiasi, pembelajaran dan pendidikan musik sampai pada dokumentasi musik. Kusut. Penyebabnya macam macam dan mengurat akar sehingga memang kusut nyaris tak terurai. Beberapa orang yang mencoba peduli dengan keberadaan musik, tentu saja sudah berupaya dengan bercucuran keringat, menipiskan pundi-pundi dan bahkan tersok seok untuk mencoba mengurai kusutnya musik. Tak hanya Indonesia, namun merata di seluruh dunia. Apakah keadaan kusut ini mengganggu keberadaan musik? Begini. Orang berpikiran kusut tetap dapat berpikir. Orang muka kusut tetap bisa dapat jodoh. Persoalannya, yang seperti apakah yang didapat dengan kusutnya itu.

 

Di kota besar seperti Jakarta, pembelajaran musik sebetulnya kusut dan bahkan sangat kusut. Anak dan remaja kota besar seperti Jakarta, nyaris tak memiliki waktu untuk belajar musik. Jikapun masih ada yang les musik, mereka melakukan pengorbanan yang sesungguhnya luar biasa dan tentu layak diacungi jempol. Jadwal sekolahnya sendiri sudah tergolong padat. Ambil contoh saja SMA. Di seluruh Indonesia, siswa SMA itu bersekolah dari Senin sampai Jumat mulai jam 7 pagi sampai jam 4 sore. Kapan dia bisa les musik?! Lhoooo kan Sabtu mereka libur, Pak... Eit jangan salah. Sabtu mereka full. Proyek kurikuler sekolah. Plus Bhakti sosial. Mulai dari acara bikin tugas film pendek sampai kegiatan keagamaan. Minggu? Hahaha. Satu-satunya hari untuk acara keluarga. 

Sunday, 1 September 2024

VALUE - by: Michael Gunadi | Staccato, September 2024

VALUE
By: Michael Gunadi
Staccato, September 2024


Yang dimaksud Value dalam artikel ini adalah NILAI. Ya tentu nilai dalam hubungan mesranya dengan entitas seni, dalam ranah seni bunyi atau musik. Lalu kenapa tak dipergunakan istilah NILAI saja. Karena penulis khawatir akan terjadi kerancuan pemaknaan dengan Nilai sebagaimana halnya Nilai mata uang, nilai rapor pendidikan dan semacamnya. Nilai pada musik tak sekedar bicara angka. Namun cita rasa. Daya apresiasi. Gengsi dan aneka rupa variabel dan parameter yang terkadang bisa membuat kita tercengang dan bahkan ternganga nyaris tak percaya.

 

Kita akan mulai dari ART VALUE atau nilai seni pada umumnya. Ada satu pertanyaan klasik. Bagaimana sih cara memberi nilai pada sebuah karya seni. Value nya tentu berupa price. Dan price tentu bicara soal banyak entitas ekonomi. Satu lukisan misalnya. Berapa harga lukisan itu? Ada yang hanya ratusan ribu saja jika anda ingin mendapatkan lukisan dari pekerja lukisan. Namun tentu anda harus merogoh kocek sampai milyaran dan bahkan puluhan milyar jika anda punya minat terhadap karya seorang Maestro. 

Thursday, 1 August 2024

MISKIN - by: Michael Gunadi | Staccato, August 2024

MISKIN
By: Michael Gunadi 
Staccato, August 2024


Jika kita mau jujur, dan melepaskan diri dari segala syakwasangka, harus kita akui bahwa Gitar Klasik adalah instrunen yang sering dianggap miskin. Tapi, jangan khawatur. Artikel ini tidak bercerita tentang gitar klasik. Hanya sepintas lintas kilas saja. Anggapan bahwa Gitar Klasik adalah miskin maupun ”miskin” (dalam tanda petik). Dapat dengan mudah kita amati pada institusi semacam Sekolah Musik dan/atau kursus-kursus musik. Tak dapat dipungkiri, Piano adalah instrumen musik yang paling digemari. Perbandingan siswa Piano dan Gitar Klasik dalam satu institusi pembelajaran musik, sangat menyolak. Siswa Gitar Klasik hampir tak pernah mencapai 10% dari jumlah siswa piano. Dan ini terjadi bukan saja di Indonesia.

 

Dan memang, rasa atau kesan miskin itu nampak jelas ketika kita menghadiri Konser Gitar Klasik. Satu panggung yang luas. Kemudian muncul seseorang menjinjing Gitar Klasik dan duduk. Ia nampak sangat kecil dan mini dibanding luasnya panggung Konser pada umumnya. Kesan miskin tersebut diperkuat dengan misalnya, Sang Gitaris sudah uzur, berjalan gontai, sedikit terbatuk batuk. Meskipun mainnya jago seperti Dewa Gitar Angkasa, tetap saja kesan miskin itu ada. Dan rupanya, sudah sejak dahulu, Gitar Klasik dianggap miskin. 

Sunday, 30 June 2024

UJI | by: Michael Gunadi | Staccato, July 2024

UJI
By: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, July 2024


Dalam pembelajaran musik, belum tentu berupa pendidikan ya, karena bisa saja pengajarnya sama sekali tidak paham akan psikologi pendidikan, dikenal adanya evaluasi. Evaluasi pembelajaran musik ini status dan tarafnya berbeda dengan evaluasi sekolah umum. Dalam pembelajaran, atau ya sudahlah, pengajaran musik, evaluasi, terutama di kursusan musik dan/atau sekolah musik, sifatnya lebih kepada Progress Report. Dan Progress Report ini lebih kepada pertanggung jawaban terhadap parents yang dalam hiruk pikuk ini adalah BOSS. Yang membayar biaya pembelajaran musik. Jadi, karena Boss keluar duit dia harus dapat “laporan” dong, tentang progress atau kemajuan anaknya. Dalam Androgogi, atau terhadap Adult Learner, siswa dewasa, juga perlu ada laporan semacam itu. Karena bisa saja si suami atau si koko, si sugar daddy yang keluar duit.

 


Ada beberapa jenis Progress Report yang dilakukan kursusan dan/atau “sekolah” musik di Indonesia. Kata SEKOLAH diberi tanda kutip karena sekarang teramat banyak sekolah yang tidak punya kurikulum. Tidak paham beda kurikulum dan silabus itu apa. Hanya contek sana sini ambil mentah-mentah dari pihak lain. Tapi ya sudahlah. Bentuk Progress Report yang paling sederhana adalah berupa LAPORAN TERTULIS bagi parents. Persis seperti buku Rapor sekolah umum. Anaknya selama sekian waktu sudah bisa ini itu. Kekurangannya ini itu. Harapan ke depannya begini begitu. Kemudian ada lagi Konser. Baik Studio Konser yang biasanya si siswa main dengan jadwal yang tidak jelas, dihadapan staf Tata Usaha Sekolah, pakai celana pendek, kaos renang juga nggak apa-apa. Naaah, Parentsnya akan melihat, bahwa ini lho anak loe ini bisanya begini doang.

Friday, 31 May 2024

Masalah Klasik untuk Klasik - by: Michael Gunadi | Staccato, June 2024

MASALAH KLASIK UNTUK KLASIK
By: Michael Gunadi
Staccato, June 2024


Musik Klasik Telah Kehilangan Penonton: Benarkah? Mengapa? Kok bisa? Lalu bagaimana dengan Pagelaran di Monas dan Gedung Konser Kemayoran? Sebetulnya, ini adalah satu mata rantai masalah klasik yang berlaku untuk Musik Klasik. Sangat komplex dan ruwet. Selera, tempo dan timing pertunjukan, teknologi baru, dan media sosial, semuanya berperan dalam masalah klasik untuk Musik Klasik.

 

Tak dapat dipungkiri, bahwa Taylor Swift, K-pop, dan lainnya telah menarik perhatian penonton di seluruh dunia. Fans nya sampai berjumlah ratusan juta dan hal ini merupakan fenomena yang benar-benar menggemparkan dunia modern. Pada saat yang sama, jumlah penonton Musik Klasik telah mengalami penurunan selama beberapa dekade. Ada yang menduga, hal ini dipicu oleh kekhawatiran selama pandemi COVID, yang cenderung semakin membatasi jumlah penggemar. Anehnya, mengapa hal ini tak terjadi pada Blantika Musik Pop.


Ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa konser orkestra dan kehadiran opera di Amerika Serikat menurun sebesar 30% dalam beberapa tahun terakhir. Sekitar dua puluh tahun yang lalu, laporan Knight Foundation,yang tertuang dalam “Studi Segmentasi Konsumen Musik Klasik,” menemukan bahwa “hanya 10-15% orang Amerika memiliki keintiman dengan Musik Klasik.” Masalah ini, yang berkaitan dengan alasan fenomena ini, sejatinya rumit. Namun dasar fenomenanya itu sendiri, mencakup lanskap budaya modern dan teknologi yang membentuk kebiasaan konsumsi musik pada penonton di mana pun di dunia.

Sunday, 31 March 2024

POLITISASI MUSIK | by: Michael Gunadi | Staccato, April 2024

POLITISASI MUSIK
By: Michael Gunadi
Staccato, April 2024


Apa sih Politisasi itu? Semua upaya untuk menjadikan satu hal menjadi bersifat Politis. Politik berasal dari bahasa Yunani yaitu polis yang artinya negara. Dalam arti luas, politik itu sendiri adalah suatu aktivitas yang dibuat, dipelihara, dan di gunakan untuk masyarakat sebagai upaya untuk menegakkan peraturan yang ada di dalam masyarakat itu sendiri. Terus, apa itu Musik? Secara gampang saja ya. Musik adalah SENI BUNYI. 


Jadi Politisasi Musik adalah upaya menjadikan seni bunyi menjadi bersifat politis. Perlu dicatat dan digaris bawahi, upaya tersebut dapat terencara secara TSM (Terstruktur Sistematik Masif) dapat pula terjadi secara alami dalam napak tilas musik pada peradaban manusia. Pertanyaan berikutnya adalah: “Lho kalau batasan Politik dan/atau Politisasi sebagaimana disebutkan di atas, ya berarti Politisasi Musik itu baik dong”. Ya mari kita bahas kupas dan kita lihat bagaimana duduk soalnya.

Sunday, 1 October 2023

GIG - by: Michael Gunadi | Staccato, October 2023

GIG
By: Michael Gunadi
Staccato, October 2023


Seorang Gitaris perempuan yang hebat, namanya Ana Vidovic, asal Croatia, bilang bahwa jika ingin meniti karir sebagai Gitaris, syarat mutlaknya adalah memiliki cinta yang luar biasa pada Gitar dan dunianya. Pendapat ini tak hanya berlaku bagi Gitar, namun berlaku juga bagi setiap pemusik apapun instrumen musiknya, termasuk penyanyi.Kenapa harus ada rasa cinta yang luar biasa pada alat musik dan dunianya? Ya karena kehidupan sebagai pemusik itu sangat berat. Latihan berjam-jam tiap hari, manggungnya belum tentu setahun sekali. Manggung inilah yang sebetulnya menjadi inti pokok kehidupan seorang pemusik. Perform. As a Performance. Untuk apa? Ya tentu untuk cari nafkah. Dalam menjalani kehidupannya, seorang pemusik, yang hidup murni dari musik memiliki 2 jenis lahan penghasilan. Konser dan/atau Resital serta GIG.


ANA VIDOVIC

Gig ini sebetulnya ya performance. Tampil. Manggung. Lalu apa bedanya dengan Konser dan/atau Resital? Begini. Konser itu penampilnya banyak. Resital penampilnya fokus satu atau dua saja. Baik Konser maupun Resital, mengusung idealisme pemusiknya. Jadi Konser/Resital biasanya akan disponsori sambil Jual Tiket. Dalam event semacam itu, Pemusik bebas main musik apapun yang dia suka dan dia hayati. Yang hadir ya mau tidak mau suka atau tidak suka “menikmati” sajian yang sudah dirancang si Pemusik bersama Team kreatifnya.

Thursday, 3 August 2023

ORI - by: Michael Gunadi | Staccato, August 2023

ORI
By: Michael Gunadi
Staccato, August 2023


Misalkan Anda membuat lagu yang progresi Chordnya begini: C-Am-Dm-G7-C. Begitu terus dan terus sampai habis. Melodinya, Anda buat dengan mencampur dan mengutak-atik serta meramu dan mengaduk-aduk nada-nada yang cuma hanya Do Re Mi Fa So La Si D(or). Terus Anda bilang: “Ini lagu Karya Cipta saya. Asli. Genuine. Ori lho”. Apakah persoalannya selesai sampai di situ? Tidak. Sangat tidak. 

 

Pertanyaan pertama: Anda mencipta apa? Akor model begitu sudah ada kok. Dan sudah puluhan juta bahkan mungkin milyaran orang bikin lagu dengan progresi akor semacam itu. Pertanyaan kedua: Apakah melodinya karya cipta Anda secara Ori(ginal)? Haha. Pret. Bukankah Anda itu memakai nada-nada yang sudah ada?Trilyunan kegiatan per hari nyanyi Do Re Mi fa pret dan seterusnya. Kemudian Pertanyaan ketiga: Oh kalo begitu ya ramuannya. Racikan nada-nada tersebut yang ori. Haha.Hihi.Huhu.Xixi. Tidak juga. Perhatikan saja Cadens nya. Perhatikan saja nada nada Akordis nya. Trilyunan kegiatan bermusik yang memakai Cadens, Chordal Tone seperti Anda.

Saturday, 27 May 2023

SAAT - by: Michael Gunadi | Staccato, June 2023

“SAAT”
By: Michael Gunadi
Staccato, June 2023


Seorang guru gitar sedang gundah gulana, bingung lintang pukang. Dia bingung memainkan karya BACH PRELUDE dari Lute Suite BWV 998. Yang membuatnya bingung adalah bahwa di score nya sama sekali tak ada petunjuk seberapa cepat Prelude tersebut dimainkan. Karena dia produk jaman sekarang, mulailah ia mencari jawaban kegundahannya pada GOOGLE. Eeeee gak ketemu. Dia kemudian mencari contoh para Maestro. Dibukalah YOUTUBE. Di YouTube dia lihat permainan John Christopher William, Julian Bream, Andres Segovia, Juara-juara Kompetisi Gitar Dunia, semua memainkan Prelude Bach BWV 998 dengan sangat lambat.



Monday, 1 May 2023

BOSAN - by: Michael Gunadi | Staccato, May 2023

“BOSAN”
By: Michael Gunadi
Staccato, May 2023

 

“Lagunya itu itu doank”..... uuuuuufffff...... bosaaaaannn.... cape dech :(

 

Kalimat di atas memang sebuah kalimat dalam dialek Betawi. Jika hendak dipadankan dalam bahasa Indonesia “baku”, kalimat tersebut kira-kira bermakna: lagunya hanya itu-itu saja. Kata “itu-itu” saja menunjukkan sebuah hamparan pilihan yang terbatas. Sedemikian terbatasnya hingga nampaknya malah hampir tak ada lagi pilihan. Sehingga, wajar jika nuansa yang terasa adalah nuansa kebosanan dan kejenuhan.

 

KONDISI TERBATAS

Kata “itu-itu” yang sudah menunjukkan hamparan pilihan yang sangat terbatas, masih juga ditambah kata “doank”. Nampaknya ini adalah sebuah ungkapan yang ingin menekankan secara tandas suatu keadaan yang benar-benar tanpa pilihan. Dalam kalimat tersebut, keadaan tanpa pilihan diletakkan dalam konteks lagu. Lagu yang adalah salah satu manifestasi musik.

 

Lagu yang adalah pengejawantahan nilai estetis dalam rasa terhadap bunyi. Dan lagu yang adalah metamorfosa seni bunyi. Sebuah sublimasi karsa dalam karya, yakni kehidupan itu sendiri. Jadi apakah kalimat “lagunya itu-itu doank” merujuk pada sebuah kehidupan yang tanpa pilihan sama sekali??? Boleh jadi dan bisa jadi, sinyalemen ini benar adanya. 

Friday, 31 March 2023

UNTUK APA - by: Michael Gunadi | Staccato, April 2023

UNTUK APA
By: Michael Gunadi
Staccato, April 2023

Slamet Abdul Sjukur, Alm.

Seorang Slamet Abdul Sjukur, Almarhum, memiliki kesenangan untuk menganalisa, menelisik, menguak,dan menyeruak naskah musik. Banyak bahkan teramat banyak score musik yang sudah beliau telaah. Penelaahannya sangat detil seperti seorang Detektif ahli forensik. Yang menjadi pertanyaan adalah, untuk apa Mas Slamet melakukan itu semua? Pada saat beliau diminta untuk membuat tulisan essay panjang pada Hari Ulang Tahun Chopin ke-200 oleh Dewan Kesenian Jakarta, Mas Slamet pun mempertanyakan upayanya. 

 

Apa untungnya memahami musik Chopin? Apakah menghasilkan uang? Sama sekali tidak. Apakah menghasilkan ketenaran? Sama sekali juga tidak. Mengingat pada waktu itu Koran, Tabloid, majalah lebih suka memuat berita olah raga dan selebriti. Dengan demikian, sebetulnya untuk apa Mas Slamet melakukan itu semua.

 

Seorang Dokter spesialis penyakit dalam. Perempuan. Secara finansial sangat berkecukupan. Karirnya gilang gemilang. Anak-anaknya sudah purna belajar dan menjadi Dokter juga. Pasiennya sangat banyak. Beliau tenar sebagai Dokter bertangan dingin. Di sela sela kesibukan dunia medisnya, beliau masih menyempatkan diri untuk membeli buku-buku tentang musik. Menyempatkan diri membaca buku-buku musik. Dan, masih menyempatkan diri meski hanya sebentar untuk bermain piano. Main pianonya sama sekali tidak bagus. Lagu-lagunya hanya Light Classic, yaaaaaaa sebangsa Toselli, Maiden’s Prayer, dan itupun dimainkannya dengan salah-salah. 


Menjadi menarik mencermati kesenangannya. Seorang Dokter top sekaliber dia, untuk apa main musik dan baca musik. Untuk apa dan apa untungnya bagi beliau. Jelas tidak akan dapat uang, Kan mainnya buruk kok. Jelas tidak akan tenar karena beliau gak punya IG ,FB maupun YouTube. Untuk apa coba.