Showing posts with label musik klasik. Show all posts
Showing posts with label musik klasik. Show all posts

Tuesday, 4 August 2026

Felix Mendelssohn: "Sang Arsitek Kebangkitan Musik Klasik" | by: Michael Gunadi | August 2026

FELIX MENDELSSOHN
“Sang Arsitek Kebangkitan Musik Klasik
By: Michael Gunadi


Felix Mendelssohn Bartholdy bukan sekadar komposer Era Romantik. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kejayaan masa lalu dengan inovasi masa depan. Di tengah hiruk-pikuk abad ke-19 yang dipenuhi emosi meluap-luap, Mendelssohn hadir dengan kejernihan struktur Klasik yang elegan namun tetap memiliki jiwa yang hangat.

 

1. Riwayat Hidup Singkat: Sang Anak Ajaib

 

Lahir pada 3 Februari 1809 di Hamburg, Jerman, Jakob Ludwig Felix Mendelssohn Bartholdy tumbuh dalam keluarga intelektual Yahudi yang sangat terpandang. Kakeknya, Moses Mendelssohn, adalah filsuf besar Pencerahan, sementara ayahnya, Abraham, adalah bankir sukses.

 

Berbeda dengan Mozart yang dipaksa bekerja keras oleh ayahnya, Felix tumbuh dalam lingkungan yang mendukung secara finansial dan intelektual. Ia adalah definisi "anak ajaib" yang sebenarnya. Pada usia 9 tahun, ia sudah melakukan debut konser publik, dan pada usia 13 tahun, ia telah menulis beberapa simfoni string dan opera.

 

Pendidikan Felix sangat komprehensif, mencakup sastra, lukisan, dan filsafat. Keluarganya berpindah ke Berlin pada tahun 1811, di mana rumah mereka menjadi pusat pertemuan para intelektual seperti Alexander von Humboldt dan Johann Wolfgang von Goethe. Pengaruh Goethe muda sangat membekas pada Felix, membentuk selera seninya yang menjunjung tinggi keseimbangan dan keindahan alam.

Thursday, 2 July 2026

SABOR A MI: Jejak Abadi Sang Legenda Bolero Meksiko | by: Michael Gunadi | Juli 2026

SABOR A MI:
“Jejak Abadi Sang Legenda Bolero Meksiko”
By: Michael Gunadi
Juli 2026

 


Dalam semesta musik Amerika Latin, hanya segelintir lagu yang mampu melampaui batas waktu, bahasa, dan tren mode sesaat. "Sabor a Mi" bukan sekadar lagu; ia adalah sebuah institusi budaya. Ditulis pada tahun 1959 oleh maestro asal Meksiko, Álvaro Carrillo, lagu ini telah menjadi standar emas genre Bolero yang terus bergema di pesta pernikahan, klub Jazz, hingga panggung konser internasional selama lebih dari enam dekade.

 

SEJARAH DAN ASAL USUL: Kelahiran Sebuah Mahakarya

Lahirnya "Sabor a Mi" berakar pada romantisme murni dan sedikit keberanian yang dipicu oleh alkohol. Alvaro Carrillo, seorang insinyur pertanian yang beralih profesi menjadi komposer, dikenal sebagai sosok yang sangat sentimental namun cerdas dalam merangkai kata.

INSPIRASI DI BALIK LIRIK

Legenda yang paling dipercaya menceritakan bahwa lagu ini terinspirasi dari momen nyata antara Carrillo dan tunangannya (yang kemudian menjadi istrinya), Ana María Incháustegui. Pada suatu malam di tahun 1957, saat mereka sedang minum bersama, Carrillo terus-menerus mencium Ana María.

 

Merasa sedikit terganggu namun terhibur, Ana María berkata bahwa suaminya itu akan membuatnya "merasa seperti wiski" karena banyaknya ciuman tersebut. Carrillo, dengan ketajaman insting seorang penyair, menjawab: "Bukan rasa wiski yang tertinggal, melainkan 'sabor a mi' (rasa dariku)." Frasa itu langsung menyalakan api kreatif. Carrillo menyadari bahwa ia baru saja menemukan konsep tentang cinta yang begitu mendalam sehingga meninggalkan bekas fisik dan spiritual pada orang lain. Lagu ini secara resmi didaftarkan pada tahun 1959 dan sejak saat itu, sejarah musik Latin berubah selamanya.

Monday, 1 June 2026

Harmoni yang Terganggu | Stress in Musician | by: Michael Gunadi | Staccato, June 2026

 “HARMONI YANG TERGANGGU”
STRES PADA PEMUSIK
By: Michael Gunadi
Staccato, June 2026

 

Dunia musik sering kali dipandang sebagai perpaduan antara keindahan, gairah, dan tepuk tangan meriah. Namun, di balik tirai panggung yang megah dan rekaman yang sempurna, terdapat realitas yang jauh lebih kelam. Bagi banyak pemusik, instrumen mereka bukan sekadar alat ekspresi, melainkan sumber tekanan yang luar biasa. Fenomena stres pada pemusik bukanlah hal baru, namun baru belakangan ini mendapatkan perhatian serius dari sudut pandang kesehatan mental profesional.

 

1. APA ITU STRES? (Pengertian Secara Umum dan Spesifik)

Secara umum, stres adalah respons fisiologis dan psikologis tubuh terhadap tuntutan atau ancaman yang dianggap melampaui kemampuan individu untuk mengatasinya. Dalam konteks biologis, stres memicu reaksi "fight-or-flight" (lawan atau lari), di mana hormon seperti adrenalin dan kortisol dilepaskan ke dalam aliran darah.

 

Bagi seorang pemusik, stres memiliki dimensi yang unik. Ini bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja delapan jam sehari. Stres musik sering kali bersifat eksistensial. Karena identitas seorang pemusik sering kali melekat erat pada kualitas permainannya, kegagalan dalam nada atau performa dirasakan sebagai kegagalan pribadi yang mendalam.

Sunday, 1 March 2026

PROPAGANDA - by: Michael Gunadi | Staccato, March 2026

PROPAGANDA
by: Michael Gunadi
Staccato, March 2026


 

Propaganda adalah salah satu bentuk praktek Politik. Propaganda sering dikonotasikan negatif. Padahal, Propaganda tak selalu buruk. Sering dan bahkan teramat sering propaganda menjadi alat agitasi bagi rakyat suatu negara untuk menjalankan satu program kesejahteraan tertentu. Dalam napak tilas peradaban manusia, propaganda seringkali menyertakan musik dan bahkan berbentuk sebagai sajian musik. Apa dan bagaimana duduk persoalannya sehingga musik dan propaganda bisa padu padan dalam peraduan nan mesra?

 

PENGERTIAN DASAR

 

MUSIK

Musik secara populer bisa diartikan sebagai seni bunyi yang disusun atas kombinasi nada, ritme, tempo, harmoni, melodi, dan dinamika, dengan tujuan ekspresi estetis serta komunikasi emosi atau gagasan. Dalam konteks “musik populer” (popular music) istilah ini sering merujuk pada genre musik yang dirancang agar mudah diterima khalayak luas, sering disebarkan lewat media massa seperti radio, televisi, streaming online, konser, dan sebagainya. 

 

Ciri‑utamanya adalah:

* Struktur melodi atau chorus yang mudah diingat;

* Irama yang menarik dan kadang sederhana agar mudah dinikmati dan dicerna;

* Distribusi melalui media massa diproduksi secara profesional;

* Daya tarik massal, sering kali berkaitan dengan tren budaya, sosial, atau bahkan mode.

 

Musik Klasik atau “musik seni” (art music) berbeda dalam beberapa hal: biasanya bersifat lebih kompleks secara teknis atau teoretis, menggunakan alat musik orkestra atau solo, ditulis lebih formal, sering menggunakan bentuk simfoni, sonata, opera, atau karya orkestra lainnya, dan biasanya tidak semata-mata ditujukan untuk pasar massal.

Monday, 1 December 2025

Masa Depan - by: Michael Gunadi | Staccato, December 2025

MASA DEPAN
By: Michael Gunadi
Staccato, December 2025

 


Sebetulnya, sebelum membaca artikel ini, sangat disarankan agar Anda tidak menjadi sok moralis. Tidak menjadi sosok yang belagu dan gagahan untuk bersikap selalu optimis. Saya pribadi memiliki prinsip, dan tentu ini tidak berarti bahwa anda diharapkan mengikuti prinsip saya, yakni bahwa seseorang dapat menjadi optimis jika dia tahu betul apa yang akan dia hadapi. Optimisme bukanlah kecemasan yang diselubungi sikap seolah tabah. Apalagi mengharap kuasa langit untuk campur tangan. Jangan dikecohkan antara optimisme dengan perjuangan realita. Kuasa langit pun dalam berbagai torehan sejatinya menorehkan pesan bahwa manusia, selagi dia masih menganggap dirinya fana, harus wajib untuk menghadapi realita dan berjuang.


Tulisan ini saya batasi dalam ranah Musik Klasik saja. Kenapa? Ya karena yang Pop, Jazz, Non Klasik sudah ada campur tangan industri. Meskipun bisa juga jatuh bangun, namun industri senantiasa terpaut dan terkait dengan kapital atau modal usaha yang adalah urat nadi semua pergerakan di dunia ini. Industri hampir selalu pasti mempertahankan eksistensinya meski seringkali harus menggerus idealisme dan ide-ide kreatif. Musik Klasik sejatinya tidak sepenuhnya ditopang dan dihidupi dengan cara-cara semacam itu. Sebab sekali saja Musik Klasik ditopang oleh industri, maka ia tidak akan lagi menjadi klasik. Ia akan menjadi entitas ekonomis belaka. Apa dampaknya? Asupan terhadap seni bunyi yang menginspirasi kalbu bening menjadi dipertanyakan.

Friday, 31 October 2025

KERJA APA? - by: Michael Gunadi | Staccato, November 2025

KERJA APA?
By: Michael Gunadi
Staccato, November 2025


Ketika seorang anak lulus SMA dan memutuskan untuk menjalani profesi sebagai seorang dokter, ada banyak nuansa yang berseliweran di benaknya. Bisa jadi ia memang suka dengan dunia kedokteran. Barangkali nilai biologi nya jauh lebih bagus dari nilai fisikanya. Bisa juga dia bingung antara harus tetap eksis sebagai sosok yang suka science dan hantu yang membisiki bahwa sebagai anaknya si A ia harus mapan secara prestis dan ekonomi. Atau, ini yang paling menggelikan, karena opa oma papa mama nya dokter ya dia harus menjadi dokter. Dan, tidak ada yang salah dengan semua itu. Fine saja. Ok saja.

 

Begitupun dengan seseorang yang ingin menjadi pengacara. Macam-macam nuansa juga yang berseliweran. Sah dan baik jika dia ingin menjadi pengacara karena terinfluence pengacara top yang secara ekonomi sangat mapan. Bagus juga jika ia terusik oleh penegakan hukum yang masih penuh drama. Bisa juga karena Fakultas Hukum adalah satu dari sekian banyak Fakultas yang bisa ditempuh sambil bekerja. Sekali lagi, itu semua Fine, Ok dan sah saja. Lalu....ini persoalan kita. Bagaimana dengan menjadi Pemusik?

 

Pemusik itu beda dengan dokter dan pengacara. Iyalah, makhluk dungu juga paham itu. Bukan begitu. Jika dokter dan pengacara memperoleh kepastian lahan penghasilan, tidak bagi pemusik. Siapa yang berani mengatakan bahwa pemusik memiliki penghasilan yang pasti. Tidak ada. Ana Vidovis, seorang Gitaris Klasik hebat asal Kroatia, dalam sebuah wawancara di situs gitar dengan gamblang menjelaskan. Jadi Pemusik itu berat. Anda harus benar benar TOTAL passion dan cinta musik. Beratnya tuh bahwa pemusik selalu harus menunggu tanpa ada kepastian kapan dia akan bisa konser dan/atau perform untuk mendapat nafkah. Dan sementara menunggu itu, KERJA APA. Mengajar dong. Hahahaha. Tak semua Pemusik bisa mengajar. Lagipula, guru musik itu, fenomenanya bisa dapat murid sekonyong konyong banyak, tapi juga bisa sekonyong konyong lenyap. Sampai di sini menjadi jelas bahwa diperlukan satu “kerja apa” untuk mengatasi problem utama pemusik masa kini yakni menunggu orderan.

Wednesday, 1 October 2025

JUARA | by: Michael Gunadi | Staccato, October 2025

“JUARA”
By: Michael Gunadi
Staccato, October 2025


Ada satu, dua pertanyaan yang sering diajukan khalayak. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebetulnya klise, membosankan dan memuakkan. Namun anehnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut selalu dapat menjadi panduan tolok ukur dan bahkan parameter untuk mengukur perkembangan musik, khususnya “Musik Klasik” , saya beri tanda petik, di tanah air. 


Mengapa orang harus peduli dengan perkembangan “Musik Klasik” di negara seperti Indonesia? Ya jawabnya karena musik, yang klasik itu bisa dianggap sebagai musik seni. Musik yang masih mengedepankan dan mempertahankan ide-ide dan citarasa musikal yang menempatkannya sebagai entitas seni, yang tentu saja dapat memberi masukan bagi siapa saja pada hal yang sifatnya “baik” dan semestinya. 


Tentu saja juga sebagai penyeimbang di tengah maraknya industri dan industrialisasi musik. Industri dan Industrialisasi musik itu sama sekali tidak jelek. Bagus saja. Hanya kadang-kadang, kebutuhan akan cuan dapat membuat sebagian kalangan mengkeremus ide dan kepatutan musik sebagai entitas seni.

Monday, 1 September 2025

GURU MUSIK - by: Michael Gunadi | Staccato, September 2025

“GURU MUSIK”
By: Michael Gunadi
Staccato, September 2025


Karena media ini adalah media dalam ranah musik, maka tentu yang dimaksud GURU dalam tulisan ini adalah GURU MUSIK. Anda tidak perlu khawatir dan tak perlu juga merasa jengah, karena tulisan ini sama sekali tidak membicarakan tentang hal-hal basi yang membosankan dan memuakkan seperti misalnya: apa fungsi dan peran guru musik atau apa jasa-jasa guru musik. Tidak, bukan hal-hal semacam itu. Tulisan ini dihadirkan di hadapan Anda untuk berbicara tentang hal-hal yang mungkin terluput dari perhatian Anda dan bisa jadi malahan tak pernah Anda pikirkan dan bayangkan sebelumnya. Ok? Baik, ayo kita mulai.
 
Hal pertama yang bisa jadi tak pernah diusik oleh rasa ingin tahu anda adalah pertanyaan seperti ini. Guru Musik itu orang yang mengajar musik atau orang yang memberi pendidikan musik? Jawaban dari pertanyaan seperti itu sangat berdampak luas bagi pemahaman orang akan guru musik. Dalam batas tertentu, guru musik bisa sangat bersahaja untuk dipahami definisinya. Namun juga sangat bisa menjadi ruwet, ribet, dan sangat kompleks untuk dimaknai. Apalgi jika dipertautkan dengan dinamika kehidupan sosial seperti di era sekarang ini.
 
Sebetulnya, ada 3 tingkatan guru musik. Yang pertama adalah yang disebut sebagai Music Instructor atau Instruktur musik. Pada tingkat atau level ini, guru musik hanya menjalankan fungsi menjadikan seseorang bisa bermaian atau memainkan alat musik sampai taraf layak menurut standar umum yang berlaku. Seorang Instruktur musik, hanya mengajar berdasarkan hal empirik yang dia trima dari instrukturnya saat dia belajar. Dia tidak peduli bagaimana keunikan siswanya. Dia juga masa bodoh dengan kesulitan siswa dalam berlatih. Tugasnya adalah menularkan ilmu dan ketrampilan seperti yang dia peroleh. 

Thursday, 31 July 2025

Chopin Melanglang Buana - by: Michael Gunadi | Staccato, August 2025

CHOPIN MELANGLANG BUANA
By: Michael Gunadi
Staccato, August 2025


Ketika anda mendengar nama Chopin, salah satu hal yang terlintas di benak anda adalah POLANDIA. Tanah yang sangat dicintai dan dibanggakan Chopin. Lalu Anda akan bertanya, ngapain Chopin ke Inggris yang pada jaman itu tergolong jauh? Kisah kujungan Chopin ke Inggris merasa perlu diketengahkan karena sangat mirip dengan fenomena yang terjadi pada para guru musik terutama piano di tanah air. Mencermati kisah Chopin mungkin anda bisa menarik sedikit benang dari semburat realita salah seorang legenda Musik Klasik. Bahan dari kumpulan lecturer saya dan saya usahakan dengan bahasa yang formil, namun mudah dicerna.

 

Pada tanggal 16 Februari 1848, Chopin menggelar konser di Paris, tepatnya di Salle Pleyel bersama temannya,seorang pemain cello, Franchomme, dan pemain biola, Alard. Konser tersebut sukses besar dan ada rencana untuk konser berikutnya pada bulan Maret. Kemudian pada tanggal 23 Februari, revolusi meletus di jalan-jalan Paris. Monarki Juli yang dipimpin Raja Louis Philippe digulingkan, dan keluarga Kerajaan Perancis melarikan diri ke Inggris. Dunia Chopin hancur. Sebagian besar murid bangsawannya meninggalkan kota, acara musik terhenti, dan ia mendapati dirinya tanpa mata pencaharian. Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan, dan dengan kesehatan yang terus menurun karena tuberkulosis stadium lanjut, situasi Chopin menjadi sangat menyedihkan.

Monday, 30 June 2025

SUMBER - by: Michael Gunadi | Staccato, July 2025

“SUMBER”
By: Michael Gunadi
Staccato, July 2025

 

Siapapun yang belajar Musik Klasik, mengajar Musik Klasik atau mencintai Musik Klasik, mestinya, atau setidaknya sangat diharapkan, untuk memiliki pemahaman. Bahwa Musik Klasik adalah BUDAYA LITERER. Yakni kebudayaan, yang berwujud seni dan bersifat literatif atau menggunakan literasi atau bahan bacaan, dengan demikian harus tertulis. Ini yang membedakan Musik Klasik dengan Genre lainnya, Pop, Jazz, Rock, Traditional atau apapun genrenya. Di ranah tertulis inilah, para pelaku Musik Klasik, akan bergumul, bergelut dan berkutat dengan SUMBER. Sumber tertulis. Sumber ini menjadi penting mengingat dalam performansi Musik Klasik pertaruhannya adalah PRESISI. Ketepatan yang tak kenal kompromi, meski tetap ada ruang untuk kebebasan berekspresi.

 

Sumber, dalam batas tertentu, sangat menentukan kelayakan permainan seorang siswa Musik Klasik dan/atau para pemusik professional. Dalam ranah Pustaka Musik Klasik, dikenal tentu, sumber secara fisik dan Digital. Sumber fisik dan Digital ini memiliki editio typica atau sumber induk dan para musikolog biasa membaginya menjadi:

 

Edisi faksimili adalah salinan persis dari naskah asli komposer atau edisi awal sebuah karya. Edisi Faksimili sering kali merupakan reproduksi fotografi yang meniru ukuran, kertas, warna, penjilidan, dan kondisi fisik aslinya. Edisi Faksimili berguna bagi siswa, guru, dan peneliti yang mungkin tidak memiliki akses terhadap materi aslinya. Mereka dapat memperoleh gambaran tentang tempat kerja dan suasana kerja sang komposer, menunjukkan nuansa seperti penghapusan, koreksi, dan tempelan material. Istilah "faksimili" berasal dari frasa Latin fac simile yang berarti "membuat serupa". Penutur bahasa Inggris mulai menggunakan kata tersebut pada akhir tahun 1600-an. 

Monday, 31 March 2025

"BUNUH": Menguak Misteri Kematian Para Musisi - by: Michael Gunadi | Staccato, April 2025

"BUNUH"
MENGUAK MISTERI KEMATIAN PARA MUSISI
By: Michael Gunadi
Staccato, April 2025

Mozart's Death

Waduuuh kok ngeri amat nih.. mosok kita bicara tentang bunuh sih?! Mosok kita bicara tentang bunuh bunuhan?! Ngeri serem takuut. Bunuh itu bisa sebagai istilah. Bisa sebagai perintah. Kegiatannya disebut membunuh. Bentuk pasifnya adalah dibunuh. Pelakunya disebut pembunuh. Memang, BUNUH terkesan mengerikan. Namun, kali ini kita akan menelisik kata tersebut. Bukankah: Music is Beyond The Words. Jadi mestinya musik memang mampu menguak dan menyeruak apapun. Tentu, termasuk BUNUH ini. Kita akan menelisik BUNUH dalam ranah musik untuk kemudian mengambil pelajaran. Siapa tahu bisa menjadikan hidup anda bertambah stress dan pusing serta tak happy. 

 

5 Desember 1791. Si Genius Wolfgang Amadeus Mozart, meninggal. Kematiannya menimbulkan banyak spekulasi. Salah satu yang paling ramai adalah bahwa Mozart dibunuh. Siapa pembunuhnya? Kenapa pemusik, komposer jenius seperti dia dibunuh? Berbagai rumor beredar. Diantaranya adalah bahwa Mozart dibunuh oleh Salieri. Akibat persaingan “dagangan” komposisi. Tapi hal ini sangat tidak logis. Karena pada jaman Mozart pun, dagangan komposisi musik bukanlah sebuah profesi yang menjanjikan dan membuat seseorang menjadi tajir. Mungkin status sosial. Komposer dan pemusik yang luar biasa bisa sangat dekat dengan kekuasaan. Tapi, Mozart sejatinya tidak begitu suka dengan aristokrasi bau-bau penguasa. Mozart lebih khusyuk berasyik masyuk dengan kebebasan dan keeksentrikannya. Kematian Mozart memang misterius. Semisterius kejeniusannya. Ia meninggalkan beberapa karya yang belum selesai. Termasuk Fantasia dalam D minor. Karya ini kemudian diselesaikan dengan hasil rekayasa untuk keperluan publikasi oleh August Eberhard Müller.

Friday, 28 February 2025

HIKMAH BAGI SEORANG KOMPOSER - by: Michael Gunadi | Maret 2025

“HIKMAH BAGI SEORANG KOMPOSER”
By: Michael Gunadi
Staccato, Maret 2025


Kita akan bicara tentang HIKMAH dalam carut marutnya ranah musik. Hikmah ya. Bukan Hikmat. Ohhh beda ya,Pak? Ya. Sangat beda. Dalam KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA, hikmah diberi batasan leksikografi sebagai: hikmah/hik·mah/ n 1 kebijaksanaan (dari Allah): kita memohon -- dari Allah Swt.; 2 sakti; kesaktian: -- kata-kata; 3 arti atau makna yang dalam; manfaat: wejangan yang penuh --;berhikmah/ber·hik·mah/ v 1 berguna; bermanfaat; 2 memiliki kesaktian (kekuatan gaib dan sebagainya). Wah maknanya banyak dan luas banget yaaa. Gini lah. Kita ambil satu contoh mudah saja. Misal dalam kalimat: semua kejadian itu pasti ada hikmahnya. Dengan pemaknaan sebagaimana saripati kalimat semacam itulah kita akan menarik hikmah dalam ranah musik.

 

Perjalanan kita akan mulai dengan menjenguk JOHAN SEBASTIAN BACH. Seorang komposer yang sangat luar biasa. Lebih dari berbakat. Lebih dari Jenius. Bach mungkin adalah manusia penggubah musik paling hebat sepanjang napak tilas kehidupan manusia. Karya nya abadi karena memang begitu layak untuk diabadikan. Satu hal yang unik adalah, bahwa Bach semasa hidupnya bukanlah seorang Megastar. Hidupnya jauh dari Glamour. Jauh dari histeria puja puji massa seperti misalnya Franz Liszt. Bach sangat bersahaja. Profilnya juga tidak flamboyan sebagaimana misalnya Nicolo Paganini. Iya pun tidak elegante bergaya priyayi sebagaimana Mendelssohn. Bach juga bukan pemusik eksentrik sebagaimana Mozart. Bach biasa saja sebagai manusia.

 

Bach itu tidak macam-macam. Sepanjang hidupnya ia nyaris tak pernah jalan-jalan, healing-healing ke luar kota. Pakaiannya juga itu itu saja. Makanannya juga bolak-balik Apple Struddle dan makanan Jerman ndeso yang sederhana. Hidupnya dapat dikatakan tertib. Selain, tentu saja ini yang menarik, anaknya banyak. Benar-benar bukan Keluarga Berencana. Banyak orang yang heran dan tak habis pikir. Bagaimana bisa dengan anak segitu banyaknya, seorang Bach masih bisa menghasilkan komposisi musik yang luar biasa. Jawabannya: Gereja. Ya. Bach ini penggereja yang setia. Ia bukan Katolik namun seorang Kristen Protestan. Ya sebetulnya fakta semacam itu tidaklah penting. Namun ya, faktual hal hal semacam itu masih sering disebut dan dinyatakan. Gereja itulah yang berfungsi sebagai living studio bagi Bach. Ia bisa menyepi dan berkonsentrasi serta bereksperimen dengan ide musikalnya. Bebas merdeka dari gangguan hiruk pikuk kikuk anak–anaknya.

Saturday, 1 February 2025

MENJADI MODERN ITU HARUS - by: Michael Gunadi | Staccato, February 2025

MENJADI MODERN ITU HARUS
By: Michael Gunadi
Staccato, Februari 2025

 


Artikel kali ini, akan mebahas tentang keadaan Musik Klasik yang kian buruk dan menyedihkan saat kita sebetulnya sudah memulai masuk pada dekade ketiga abad ke-21. Sebetulnya bahkan sejak tahun 1940-an dan 1950-an, para kritikus musik sudah mulai mengeluhkan bahwa sangat banyak para pemain musik klasik yang tidak bermain, menyanyi, atau membawakan Musik Modern. Hal ini mencapai puncaknya pada tahun 1960-an dan 1970-an. Namun, keluhan para kritikus musik tersebut, sebagian besar telah mereda selama 40 tahun terakhir. Mungkin saja, reda  karena tidak ada seorang pun di bidang Musik Klasik yang mau mendengarkan musik modern.

Tapi sekarang, saat ini kita sebetulnya sudah sampai pada titik dimana sudah ada lebih banyak musik modern hebat yang ditulis dan direkam dibandingkan sebelumnya, dan yang dimaksud dengan “modern” terkadang adalah karya para komposer yang berasal dari tahun 1940-an. Lihatlah rata-rata program konser simfoni, pertunjukan lagu atau instrumen solo, atau repertoar gedung opera favorit di dunia zaman sekarang. Kita tidak akan menemukan banyak hal. Jikapun ada sesuatu yang diprogram, yang ditulis lebih kuno dari awal tahun 1930-an, hampir selalu mengarah pada hal yang sama: yakni musik tonal oleh para Great Masters. 


Jika ada kebangkitan dalam dunia Musik Klasik, biasanya hal tersebut disebabkan oleh promosi beberapa komposer yang menulis musik yang lumayan indah dari pertengahan abad ke-18 hingga tahun 1930-an. Sebut saja semisal penemuan Florence B. Price. Peristiwanya merupakan anugerah bagi musisi klasik dan khususnya stasiun radio yang memutar Musik Klasik. Florence B. Price ini, dia menulis musik yang dibuat dengan baik namun impersonal, cantik dan menarik tetapi sejatinya tidak mengatakan apa-apa, dan yang paling menarik di sini adalah karena dia itu orang Afrika-Amerika, yang mana mereka dapat merasa nyaman dengan diri mereka sendiri dengan mempromosikannya, meskipun musiknya indah tapi tak mengandung “pesan” apapun.

Sunday, 1 December 2024

PARA AMATIR HEBAT - by: Michael Gunadi | Staccato, December 2024

PARA AMATIR HEBAT
By: Michael Gunadi
Staccato, December 2024

 

Jika anda mendengar musik karya Chopin, pasti hati nurani anda akan berkata bahwa ini adalah sebuah karya musik yang dikerjakan oleh seorang Professional. Professional dalam artian pekerjaan utamanya adalah sebagai pemusik. Dan memang. Chopin adalah seorang pemusik yang professional. Chopin sangat professional dan pakar dalam performansi piano. Chopin juga sangat pakar dan berkemampuan sangat professional dalam menggubah karya musik untuk piano. Semua karya musik Chopin menunjukkan hal tersebut. Bahkan Valse in A minor Op. posthumous yang sering diledek sebagai musik anak-anak grade 1, sebetulnya adalah sebuah komposisi karya musik piano yang sama sekali tidak sederhana.


Selain Chopin, Beethoven juga adalah pemusik dan komposer professional. Profesi utamanya adalah pemusik. Meski hidupnya miskin melarat, kemampuan dalam bermain piano dan menggubah musik sangatlah professional. Banyak kali Beethoven ditolak perempuan saat meminang, hanya karena Beethoven sangat miskin dan berpenghasilan tidak tetap. Beethoven pun sering berselisih paham dengan pihak penerbit karya-karyanya. Dalam rentang hidupnya, Beethoven hanya beberapa kali saja menggelar konser dengan menerima honorarium. Selebihnya, ya biasa. Dikemplang, wassalam dan panitianya alasan ini itu anu. Meski demikian, Beethoven tertera dalam sejarah sebagai The Professional Music Grand Master.

Thursday, 31 October 2024

SISI LAIN CHOPIN - by: Michael Gunadi | Staccato, November 2024

“MENILIK CHOPIN ALLA BEDA”
SISI LAIN CHOPIN
By: Michael Gunadi
Staccato, November 2024


Lazimnya orang mengenal Chopin sebagai komposer piano. Banyak menganggap bahwa jika sudah bisa memainkan karya Chopin, maka seseorang menjadi berhak untuk disebut sebagai “bisa” main piano. Kata BISA berada dalam tanda petik, yang maksudnya adalah sangat relatif. Kenapa relatif? Karena untuk dapat memainkan musik Chopin, seseorang mestinya tak hanya berurusan dengan teknik semata. Melainkan kedalaman untuk tahu emosional karya nya dan juga mampu mengkaji secara inteligensia apa yang tersirat dibalik yang tersurat. Sebut saja misalnya TEMPO RUBATO yang menjadi salah satu ciri khas karya Chopin. Begitu banyak orang memainkan Walts karya Chopin dengan tempo yang strict. Persis seperti memainkan Waltz dari Johann Strauss. Beberapa lagi dengan sangat tolol dan bodoh memainkan Waltz Chopin dengan Phrasering atau pengkalimatan yang dipenggal dengan sesuka hatinya dengan dalih ia memainkan TEMPO RUBATO.

 

Bicara tentang Chopin, kita berbicara tentang satu pribadi yang sangat kompleks. Melafalkan namanya saja banyak yang salah. Orang dengan sok tahu dan sok ke Perancis Perancisan menyebutnya sebagai SYOPANG. Untunglah era internet memberi pencerahan yang luar biasa bagi orang sok tahu, koplak dan songong untuk melafalkan nama Chopin sebagai (Syopen, pen dilafalkan seperti pulpen). Selama hidupnya Chopin bukanlah seorang yang narsis. Ia tidak seperti Pianis Instagram masa kini yang gemar pamer sampai pakai topi kelinci, main Piano dengan menjungkir balikkan badan, pura pura menangis sedih haru di tengah capaian siswanya. Chopin adalah pribadi yang tertutup. Ia pemalu. Ia memainkan musik piano sebagai satu kebutuhan hidupnya dan sama sekali tidak mencita citakan dirinya untuk glamour sebagaimana pianis kagetan yang tenar lewat potongan Instagram.

Monday, 30 September 2024

KUSUT - by: Michael Gunadi | Staccato, October 2024

KUSUT

By: Michael Gunadi

Staccato, October 2024



Jika kita mau sedikit menaruh perhatian pada keadaan sekarang, tentu kita akan menyadari bahwa banyak, bahkan terbilang sangat banyak hal-hal KUSUT dalam ranah musik. Di segala sektornya. Baik pertunjukan, apresiasi, pembelajaran dan pendidikan musik sampai pada dokumentasi musik. Kusut. Penyebabnya macam macam dan mengurat akar sehingga memang kusut nyaris tak terurai. Beberapa orang yang mencoba peduli dengan keberadaan musik, tentu saja sudah berupaya dengan bercucuran keringat, menipiskan pundi-pundi dan bahkan tersok seok untuk mencoba mengurai kusutnya musik. Tak hanya Indonesia, namun merata di seluruh dunia. Apakah keadaan kusut ini mengganggu keberadaan musik? Begini. Orang berpikiran kusut tetap dapat berpikir. Orang muka kusut tetap bisa dapat jodoh. Persoalannya, yang seperti apakah yang didapat dengan kusutnya itu.

 

Di kota besar seperti Jakarta, pembelajaran musik sebetulnya kusut dan bahkan sangat kusut. Anak dan remaja kota besar seperti Jakarta, nyaris tak memiliki waktu untuk belajar musik. Jikapun masih ada yang les musik, mereka melakukan pengorbanan yang sesungguhnya luar biasa dan tentu layak diacungi jempol. Jadwal sekolahnya sendiri sudah tergolong padat. Ambil contoh saja SMA. Di seluruh Indonesia, siswa SMA itu bersekolah dari Senin sampai Jumat mulai jam 7 pagi sampai jam 4 sore. Kapan dia bisa les musik?! Lhoooo kan Sabtu mereka libur, Pak... Eit jangan salah. Sabtu mereka full. Proyek kurikuler sekolah. Plus Bhakti sosial. Mulai dari acara bikin tugas film pendek sampai kegiatan keagamaan. Minggu? Hahaha. Satu-satunya hari untuk acara keluarga. 

Sunday, 1 September 2024

VALUE - by: Michael Gunadi | Staccato, September 2024

VALUE
By: Michael Gunadi
Staccato, September 2024


Yang dimaksud Value dalam artikel ini adalah NILAI. Ya tentu nilai dalam hubungan mesranya dengan entitas seni, dalam ranah seni bunyi atau musik. Lalu kenapa tak dipergunakan istilah NILAI saja. Karena penulis khawatir akan terjadi kerancuan pemaknaan dengan Nilai sebagaimana halnya Nilai mata uang, nilai rapor pendidikan dan semacamnya. Nilai pada musik tak sekedar bicara angka. Namun cita rasa. Daya apresiasi. Gengsi dan aneka rupa variabel dan parameter yang terkadang bisa membuat kita tercengang dan bahkan ternganga nyaris tak percaya.

 

Kita akan mulai dari ART VALUE atau nilai seni pada umumnya. Ada satu pertanyaan klasik. Bagaimana sih cara memberi nilai pada sebuah karya seni. Value nya tentu berupa price. Dan price tentu bicara soal banyak entitas ekonomi. Satu lukisan misalnya. Berapa harga lukisan itu? Ada yang hanya ratusan ribu saja jika anda ingin mendapatkan lukisan dari pekerja lukisan. Namun tentu anda harus merogoh kocek sampai milyaran dan bahkan puluhan milyar jika anda punya minat terhadap karya seorang Maestro. 

Thursday, 1 August 2024

MISKIN - by: Michael Gunadi | Staccato, August 2024

MISKIN
By: Michael Gunadi 
Staccato, August 2024


Jika kita mau jujur, dan melepaskan diri dari segala syakwasangka, harus kita akui bahwa Gitar Klasik adalah instrunen yang sering dianggap miskin. Tapi, jangan khawatur. Artikel ini tidak bercerita tentang gitar klasik. Hanya sepintas lintas kilas saja. Anggapan bahwa Gitar Klasik adalah miskin maupun ”miskin” (dalam tanda petik). Dapat dengan mudah kita amati pada institusi semacam Sekolah Musik dan/atau kursus-kursus musik. Tak dapat dipungkiri, Piano adalah instrumen musik yang paling digemari. Perbandingan siswa Piano dan Gitar Klasik dalam satu institusi pembelajaran musik, sangat menyolak. Siswa Gitar Klasik hampir tak pernah mencapai 10% dari jumlah siswa piano. Dan ini terjadi bukan saja di Indonesia.

 

Dan memang, rasa atau kesan miskin itu nampak jelas ketika kita menghadiri Konser Gitar Klasik. Satu panggung yang luas. Kemudian muncul seseorang menjinjing Gitar Klasik dan duduk. Ia nampak sangat kecil dan mini dibanding luasnya panggung Konser pada umumnya. Kesan miskin tersebut diperkuat dengan misalnya, Sang Gitaris sudah uzur, berjalan gontai, sedikit terbatuk batuk. Meskipun mainnya jago seperti Dewa Gitar Angkasa, tetap saja kesan miskin itu ada. Dan rupanya, sudah sejak dahulu, Gitar Klasik dianggap miskin. 

Sunday, 30 June 2024

UJI | by: Michael Gunadi | Staccato, July 2024

UJI
By: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, July 2024


Dalam pembelajaran musik, belum tentu berupa pendidikan ya, karena bisa saja pengajarnya sama sekali tidak paham akan psikologi pendidikan, dikenal adanya evaluasi. Evaluasi pembelajaran musik ini status dan tarafnya berbeda dengan evaluasi sekolah umum. Dalam pembelajaran, atau ya sudahlah, pengajaran musik, evaluasi, terutama di kursusan musik dan/atau sekolah musik, sifatnya lebih kepada Progress Report. Dan Progress Report ini lebih kepada pertanggung jawaban terhadap parents yang dalam hiruk pikuk ini adalah BOSS. Yang membayar biaya pembelajaran musik. Jadi, karena Boss keluar duit dia harus dapat “laporan” dong, tentang progress atau kemajuan anaknya. Dalam Androgogi, atau terhadap Adult Learner, siswa dewasa, juga perlu ada laporan semacam itu. Karena bisa saja si suami atau si koko, si sugar daddy yang keluar duit.

 


Ada beberapa jenis Progress Report yang dilakukan kursusan dan/atau “sekolah” musik di Indonesia. Kata SEKOLAH diberi tanda kutip karena sekarang teramat banyak sekolah yang tidak punya kurikulum. Tidak paham beda kurikulum dan silabus itu apa. Hanya contek sana sini ambil mentah-mentah dari pihak lain. Tapi ya sudahlah. Bentuk Progress Report yang paling sederhana adalah berupa LAPORAN TERTULIS bagi parents. Persis seperti buku Rapor sekolah umum. Anaknya selama sekian waktu sudah bisa ini itu. Kekurangannya ini itu. Harapan ke depannya begini begitu. Kemudian ada lagi Konser. Baik Studio Konser yang biasanya si siswa main dengan jadwal yang tidak jelas, dihadapan staf Tata Usaha Sekolah, pakai celana pendek, kaos renang juga nggak apa-apa. Naaah, Parentsnya akan melihat, bahwa ini lho anak loe ini bisanya begini doang.

Friday, 31 May 2024

Masalah Klasik untuk Klasik - by: Michael Gunadi | Staccato, June 2024

MASALAH KLASIK UNTUK KLASIK
By: Michael Gunadi
Staccato, June 2024


Musik Klasik Telah Kehilangan Penonton: Benarkah? Mengapa? Kok bisa? Lalu bagaimana dengan Pagelaran di Monas dan Gedung Konser Kemayoran? Sebetulnya, ini adalah satu mata rantai masalah klasik yang berlaku untuk Musik Klasik. Sangat komplex dan ruwet. Selera, tempo dan timing pertunjukan, teknologi baru, dan media sosial, semuanya berperan dalam masalah klasik untuk Musik Klasik.

 

Tak dapat dipungkiri, bahwa Taylor Swift, K-pop, dan lainnya telah menarik perhatian penonton di seluruh dunia. Fans nya sampai berjumlah ratusan juta dan hal ini merupakan fenomena yang benar-benar menggemparkan dunia modern. Pada saat yang sama, jumlah penonton Musik Klasik telah mengalami penurunan selama beberapa dekade. Ada yang menduga, hal ini dipicu oleh kekhawatiran selama pandemi COVID, yang cenderung semakin membatasi jumlah penggemar. Anehnya, mengapa hal ini tak terjadi pada Blantika Musik Pop.


Ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa konser orkestra dan kehadiran opera di Amerika Serikat menurun sebesar 30% dalam beberapa tahun terakhir. Sekitar dua puluh tahun yang lalu, laporan Knight Foundation,yang tertuang dalam “Studi Segmentasi Konsumen Musik Klasik,” menemukan bahwa “hanya 10-15% orang Amerika memiliki keintiman dengan Musik Klasik.” Masalah ini, yang berkaitan dengan alasan fenomena ini, sejatinya rumit. Namun dasar fenomenanya itu sendiri, mencakup lanskap budaya modern dan teknologi yang membentuk kebiasaan konsumsi musik pada penonton di mana pun di dunia.