Wednesday, 1 April 2026

Gamelan Jawa Dari Sudut Pandang Pesimistis - by: Michael Gunadi | Staccato, April 2026

GAMELAN JAWA
DARI SUDUT PANDANG PESIMISTIS
By: Michael Gunadi
Staccato, April 2026

 

Saya batasi dahulu semesta paparan ini dengan istilah gamelan Jawa. Karena di dunia ini ada banyak jenis dan bahkan genre gamelan. Prinsipnya, yang disebut Gamelan itu adalah Orkestra Metallophone. Tentu bisa dilengkapi dengan alat gesek, petik dan tiup. Di Indonesia saja kita mengenal, yang terkenal dan dikenal ya, Gamelan Sunda, Gamelan Jawa (ada gaya Surakarta dan Yogyakarta), Gamelan Bali. Belum lagi yang formatnya tidak sebagai sebuah “orkestra”. Di Lombok ada, NTT, NTB ada juga. Di belahan dunia lainnya kita mengenal Gamelan Thailand, Gamelan China, Gamelan Kamboja, dan Gamelan India. Maka dari itu perlu saya beri batasan bahwa tulisan ini adalah tentang Gamelan Jawa.

 

Sebagai orang Indonesia, tentu, dan semestinya kita berbangga bahwa kita memiliki Gamelan Jawa. Meski namanya menyandang istilah Jawa, Gamelan Jawa tentu bukan milik suku Jawa saja. Ia adalah national Treasure dan bahkan National Heritage. 

 

Sebetulnya, Gamelan Jawa ini memang layak dibanggakan. Karena ia memiliki sistem tala yang jauh lebih kaya dari Musik Barat. Memiliki struktur sampai tatanan mikro yang juga jauh lebih kaya dari Musik Barat. Gamelan Jawa kalah populer di dunia salah satunya adalah karena orang Indonesia khususnya suku Jawa tidak melakukan ekspedisi kesana kemari dan menjajah kesana kemari. Selain itu, orang Indonesia tidak punya andil karena kalah licik dalam mengatur tata dunia secara global. Jadilah Gamelan Jawa kalah popular. Karena yang di sebelah sana melakukan penetrasi budaya dan juga hegemoni serta mahir dalam membentuk dan menyodorkan kemasan menjadi lebih menarik. Ini adalah keprihatinan dan pesimistis yang pertama. Bagaimana Gamelan Jawa bisa tetap ada dan bisa tumbuh kembang ditengah aneksasi, infiltrasidan hegemoni budaya barat yang strategi industrinya sungguh menarik.


Dari segi format, memang harus jujur diakui Gamelan tidak fleksibel, tidak versatile, dan jelas tidak praktis. Gamelan Jawa HARUS DIMAINKAN sebagai sebuah bentuk Orkestra. Yang berarti membutuhkan peralatan yang banyak dan juga pemain yang banyak. Sudah pernah berulang kali dicoba, sebuah forma sajian Gamelan Jawa yang misalnya berupa solo. Gender saja main solo sendirian. Rebab Jawa main solo sendirianatau ya setidaknya duet atau trio deh. Rebab, Suling, Gender. Sering dicoba. Baik sebagai sajian Turisme di hotel, maupun sebagai musik eksperimental. Namun masalahnya, sajian semacam itu memberi kesan “pemiskinan” bagi Gamelan jawa yang memiliki sifat AGEMG AGUNG atau Grande hanya jika dia dalam format orkestra. 



Setiap alat dari Gamelan Jawa memiliki makna filosofis dari mulai bentuk, posisi tempatnya, karakter bunyi, sampai adab menabuhnya. Format Orkestra semacam itu tentu tidak praktis bagi orang modern. Rumah rumah orang jaman sekarang relatif kecil sempit. Memiliki Gamelan Jawa dalam rumah berbeda dengan memiliki Piano Steinway D series. Jika Anda punya satu set Gamelan Jawa Perunggu yang wilahannya besar dan rarely ultimato, orang “ hanya” menganggap anda yaaaaa seseorang yang berbudaya. Mencintai seni tradisi. Sudah. Hanya sampai di situ. Pada Grand Piano Steinway, orang akan menganggap Anda kaya raja tajir, berselera musik tinggi, mengeri relung sudut keindahan nada. Meskipun Gamelan Jawa dan Steinway sama sama milyaran dan sama-sama menyita banyak ruang. Itu keprihatinan dan pesimistis yang kedua.

 

Saat Ki Enthus Susmono, Dalang super terkenal menjadi Bupati tegal 2014 – 2019 namun beliau mati sakit pada 2018. Sebagai Bupati, beliau mencanangkan satu program yang bagus. Bahkan amat bagus. Beliau memfasilitasi sekolah sekolah di Kabupaten Tegal yang ingin memiliki Gamelan Besi, dengan mutu bagus dan harga terjangkau. Meskipun terbuat dari besi namun, karena Enthus juga dalang professional, mutu Gamelannya sangat bagus. Banyak sekolah SD, SMP, SMA, SMK yang minat beli. Ini menunjukkan bahwa ketertarikan masyarakat Kabupaten Tegal terhadap musik Gamelan Jawa sebetulnya saat itu masih cukup besar. Sayangnya. Ini tragis. Ketika sudah banyak sekolah yang membeli, kekurangan pelatih. Tadinya sudah diinventarisir siapa siapa yang lulus jurusan etno, seni pedalangan, ternyata mereka tidak tertarik menjadi pelatih ekstra kurikuler di sekolah. Honor nya kecil. Beban nya berat. Mereka lebih suka berjuang menjadi ASN Guru Seni Budaya. Ini keprihatinan dan pesimistis kedua. Bagaimana Gamelan Jawa bisa bertahan sedangkan tenaga pembinanya terhimpit masalah ekonomi dan harus berjuang di lahan yang lain.



Kita beralih ke Manca Negara. Satu kejadian yang sangat terkenal dan dibicarakan berpuluh tahun tak henti. Tentang Claude Debussy dan Gamelan. Pameran Dunia Paris tahun 1889 adalah tempat Debussy pertama kali menyaksikan gamelan. Debussy menyaksikan kelompok Gamelan Sari Oneng, yang para musisinya adalah pekerja perkebunan teh di Sukabumi, Jawa Barat, bersama empat penari dari keraton Mangkunegara. Jadi gini ya. Yang dilihat dan didengarkan Debussy itu BUKAN GAMELAN JAWA TETAPI GAMELAN SUNDA. Itupun bukan kelas professional karena pemainnya adalah pekerja perkebunan. Tariannya adalah tarian dari Jawa Tengah. Penari Kraton. Bisa dibayangkan kan. Bagaimana mungkin, tarian jawa Tengah diiringi Gamelan Sunda. Jelas itu pertunjukan asal-asalan. Dan pihak Kolonial Belanda juga pasti asal kirim, sekedar turut serta. Saya yakin Debussy menyadari carut marut ini. Karyanya sama sekali tidak ada yang menggunakan Pentatonik laras Jawa. Gamelan hanya dipakai idiom dan gramatiknya saja, tentu saja dengan sangat cerdik dan cermat. Karya yang diilhami Gamelan malahan terdengar seperti musik China.



Selain Debussy ada lagi Leopold Godowski. Dia malah terang terangan memberi judul karyanya sebagai GAMELAN. Tapi ya itu, sulit bagi kita untuk menemukan kesan nada nada bunyi sebagaimana Gamelan Jawa dalam ranah aslinya. Ada pula Collin Mc Phee. Dia juga membuat komposisi yang berteknik Gamelan Jawa. Misalnya teknik interlocking atau Imbal Imbalan. Trus ada lagi Lou Harrison. Masterpiece nya GENDHING PAK TJOKRO. Yang ini kita masih bisa mendengar laras Gamelan Jawa sebagaimana lazimnya. Dan Lou Harrison banyak membuat gubahan dalam idiomatik dan Gramatik Gamelan Jawa. Termasuk dengan Ensemble, Orkes Kamar dan Orkestra besar. Anehnya, alat Gamelan yang dipakai dia buat sendiri dan tentu dengan adjustment disana sini.

 

Generasi yang lebih baru ada Jodi Diamond dengan GAMELAN SON OF THE LION. Dari USA. Kiblatnya sangat kontemporer. Gamelan tidak harus berformat Orkestra. Bisa Cuma satu alat dan dipadu dengan alat lain termasuk tape Reel recorder. Ada pula GAMELAN X dari USA juga. Gamelan di dekonstruksi menjadi ritmikal. Ritme nya adalah Fusi Irama dari banyak etnik.

 

Dari peristiwa Debussy, Godowski, Lou Harrison, Collin Mc Phee, Jodi Diamond, dan Gamelan X, yang bisa kita simpulkan adalah bahwa Gamelan Jawa diberi daya hidup baru. Revitalized. Apakah ini buruk? Tentu saja tidak. Hanya saja yang membuat pesimis adalah, jangan jangan perkembangan Gamelan Jawa nantinya hanya sebagai idiom bermusik. Gramatika musik. Sementara komposisi aslinya akan punah atau hanya sebatas sebagai nostalgia belaka. Bicara tentang nostalgia, di USA ada banyak museum yang menyimpan Gamelan Jawa sebagai koleksinya.

 

 1. **The Metropolitan Museum of Art (The Met) – New York. The Met memiliki koleksi alat musik dunia, termasuk gamelan Jawa. Koleksi ini sering digunakan untuk edukasi dan pertunjukan.

 

2. The American Museum of Natural History – New York. Museum ini memiliki koleksi gamelan Jawa dalam bagian etnografisnya yang memperkenalkan budaya dari berbagai belahan dunia.

 

3. The Smithsonian Institution – Washington, D.C.  Smithsonian memiliki beberapa set gamelan, termasuk gamelan Jawa dan Bali, yang digunakan untuk pertunjukan budaya dan pendidikan.Unit terkait : Freer Gallery of Art and Arthur M. Sackler Gallery (bagian dari Smithsonian).

 

4. The University of California, Berkeley – Berkeley, California

Sering kali disebut karena koleksi gamelannya, meskipun ini adalah universitas, ia juga memiliki museum dan pusat seni seperti Berkeley Art Museum and Pacific Film Archive (BAMPFA). Jenis gamelan: Gamelan Kyai Udan Mas (gamelan Jawa lengkap).

 

5. The Field Museum – Chicago, Illinois. Museum sejarah alam ini memiliki koleksi budaya dari Asia Tenggara, termasuk instrumen musik tradisional seperti gamelan.

 

6. The Musical Instrument Museum (MIM) – Phoenix, Arizona. MIM memiliki koleksi instrumen dari seluruh dunia. Gamelan Jawa (dan Bali) ditampilkan di galeri Asia Tenggara. Tersedia video dan audio agar pengunjung dapat mendengar suara gamelan.

 

7. University of Washington – Seattle, Washington. Meski lebih dikenal sebagai institusi akademik, “Burke Museum” dan “School of Music” di universitas ini memiliki gamelan Jawa yang aktif digunakan dalam pertunjukan.

 

Lalu apakah kita patut berbangga dengan begitu banyaknya Museum yang menjadikan Gamelan Jawa sebagai koleksinya? Ya tentu. Tapi yang bikin pesimis adalah Gamelan Jawa dijadikan materi studi, sementara di daerah asalnya ia adalah makhluk asing yang terasingkan. Bagaimana perkembangan Gamelan Jawa bisa tetap moncer hidup jika daerah asalnya saja dihinggapi erosi terhadap budaya tradisi nya.

 

Sudut pandang Pesimistis perlu jika suatu entitas budaya tetap bertahan dan berkembang. Pesimistis ini harus diimbangi dengan upaya generasi terkini dalam menjaga entitas budayanya. 

 

Berikut adalah langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan oleh orang muda Indonesia:

1. Manfaatkan Media Sosial dan Digital. Buat konten kreatif: video main gamelan, tutorial, cover lagu modern dengan gamelan.Gunakan platform seperti YouTube, TikTok, atau Instagram Reels untuk memperkenalkan gamelan ke khalayak luas. Kolaborasi dengan musisi digital, DJ, atau producer untuk eksperimen dengan gamelan dan musik elektronik.

 

2. Edukasi dan Promosi Budaya. Menulis tentang gamelan di blog, jurnal, atau media kampus.Bikin acara open studio" gamelan di sekolah, kampus, atau komunitas lokal. Libatkan anak-anak muda dan anak-anak kecil, biar gamelan tidak eksklusif.

 

3. Lanjutkan Studi dan Dokumentasi Gamelan. Studi etnomusikologi, budaya Jawa, atau komposisi musik tradisional. Dokumentasikan gamelan lokal: rekam audio, video, tulis notasi, wawancara empu pembuat gamelan. Digitalisasi gamelan: bikin VST / plugin gamelan untuk musisi modern (beberapa sudah mulai dibuat!).

 

4. Jaga Nilai dan Ruhnya. Gamelan bukan hanya alat musik — ia bagian dari ritual, filosofi, dan cara hidup.Pelajari konteks gamelan: wayang, upacara adat, tari-tarian, dan nilai harmoni (karawitan).Jangan hanya "eksperimen", tapi juga hormati akar budayanya.

 

Tentu hasil akhirnya adalah sudut pandang yang pesimistis. Bagaimana upaya semua itu bisa terwujud. Sebetulnya patut selalu disadari bahwa Gamelan Jawa itu bukan sekedar musik tradisionil melainkan entitas budaya yang juga merupakan kekayaan dan National Pride. Menepis sudut pandang pesimistis berarti juga menengarai apa sebetulnya yang membuat orang muda enggan ber Gamelan Jawa.Selain tentu saja peralatan yang banyak dan dibutuhkan jumlah pemain yang juga banyak.



Ada beberapa alasan kenapa banyak anak muda sekarang enggan bermain gamelan, meskipun gamelan adalah warisan budaya yang sangat berharga. Beberapa faktor utamanya:

 

1. Kurangnya Popularitas di Kalangan Anak Muda.Gamelan sering dianggap "kuno" atau hanya untuk acara tradisi, sementara anak muda lebih tertarik pada musik modern seperti pop, K-pop, EDM, atau hip-hop.

 

2. Minimnya Paparan dan Edukasi. 

Tidak semua sekolah atau lingkungan menyediakan akses belajar gamelan. Akibatnya, banyak anak muda bahkan tidak pernah mencoba atau mengenal gamelan secara dekat.

 

3. Citra Sosial. 

Ada anggapan bahwa bermain gamelan tidak sekeren bermain gitar, drum, atau alat musik modern lainnya, sehingga mereka khawatir dianggap kurang gaul.

 

4. Pengaruh Globalisasi dan Teknologi. 

Akses ke musik modern lebih mudah melalui gadget dan media sosial. Musik tradisional seperti gamelan jarang ditampilkan dalam platform populer, sehingga makin tenggelam.

 

5. Kurangnya Inovasi Penyajian.

Gamelan sering ditampilkan dengan format yang formal dan kaku. Padahal, bila dikombinasikan dengan genre modern atau dikemas lebih kreatif, bisa lebih menarik bagi generasi muda.

 

6. Keterbatasan Fasilitas. 

Gamelan adalah instrumen besar dan mahal. Tidak semua tempat memiliki perangkat gamelan lengkap, jadi tidak semudah mengambil gitar atau keyboard di rumah.


No comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.