Monday, 11 August 2014

"J.EDU" (Part 1) - Menelisik Pendidikan Musik Jazz, by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, August 2014)

"J. EDU"
MENELISIK PENDIDIKAN MUSIK JAZZ (BAGIAN KE-1)
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato Article (August 2014)


“J. EDU” adalah singkatan dari Jazz Education. Pendidikan dalam Musik Jazz. Sebetulnya, pokok bahasan semacam ini adalah spesialisasi dari Ibu Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu. Dengan demikian, Saya akan memberi telaahan dari sudut pandang Saya sebagai pekerja musik semata. Dan bukan dimaksudkan sebagai paparan ilmiah edukasi musik. Semesta pembicaraan ini Saya anggap menarik dikedepankan sehubungan dengan beberapa fakta yang bertalian, berkenaan, dan bersinggungan dengan Musik Jazz itu sendiri. 

FAKTA TENTANG MUSIK JAZZ

BERAWAL DARI “KEKELIRUAN” HINGGA MENJADI SESUATU YANG CANGGIH

Jazz sejati sebetulnya adalah sebuah musik silang budaya. Bentuk sajian Jazz di awal masa pertumbuhannya banyak diwarnai oleh “kekeliruan.” 

Monday, 7 July 2014

"DEEPER IN JAZZ" - by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, July 2014)

"DEEPER IN JAZZ"
MENELISIK AKAR BUDAYA JAZZ
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato Article (July 2014)


JAZZ AS A MUSIC STYLE
Jazz dalam kesejatiannya adalah music style atau gaya bermusik. Terminologi ini meluas pada dua pengertian, yakni Jazz sebagai sebuah RHYTHM dan Jazz sebagai sebuah MUSIC GENRE. Jazz sebagai irama, mudah ditangkap manakala kita menikmati misalnya, sajian musik Bossa Nova yang tidak terlalu progresif. Pola ritme nya saja yang Bossa namun harmoni dan tata musiknya tidak beridiom Bossa. Juga misalnya lagu Pop nostalgia yang disajikan dengan pola irama Swing. Meski tentu tata musiknya tergolong sangat “manis” dan tidak Swing.

Sebagai Gaya Bermusik, Jazz berasal dari bagian selatan Amerika pada awal abad ke-20. Saat itu Jazz tumbuh dan berkembang secara unik. Apa uniknya? Yakni Jazz bersifat sangat luwes, kenyal, dan terbuka. Sehingga dalam perkembangannya, terutama di saat sekarang ini, sulit mengatakan bahwa Jazz adalah sebuah tradisi khas bangsa tertentu. Jazz memang berasal dari Amerika dan memang akar budayanya berada di Amerika. Namun perkembangan Jazz itu sendiri menjadikannya Harta Budaya Semesta. Sifat luwes, kenyal, dan terbuka dari Jazz, menjadikan semua bangsa dapat main Jazz menurut akar budaya masing-masing.

Wednesday, 4 June 2014

"BOSSA NOVA" - by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, June 2014)

"BOSSA NOVA"
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, June 2014



APA ITU JAZZ?
Saya ingin memulai artikel kali ini dengan memaparkan apa yang saya alami saat SMA. SMA saya itu SMA kampung. Namun demikian saat itu kami ada program pertukaran pelajar. Hadirlah di sekolah saya seorang siswa dari Amerika dan berkulit hitam. Saat perkenalan formal, dia memainkan saxophone dan melantunkan rangkaian melodi, yang untuk saat itu saya yakini sebagai Jazz. Kemudian saya dan teman-teman mengajaknya bergabung dengan band kami. Saat diajak bergabung, siswa Amrik tersebut melantunkan pertanyaan yang menarik. Bahkan untuk saat ini. Dia bertanya begini: "First I really want to know, WHAT KIND OF MUSIC YOU CALLED JAZZ?" dengan aksen orang kulit hitam New York yang kental. Pertanyaan tersebut setidaknya memberi acuan untuk tidak semena-mena mengelompokkan musik sebagai Jazz.

Wednesday, 7 May 2014

"CHEAT JAZZ" - by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato May 2014)

"CHEAT JAZZ"
by: Michael Gunadi Widjaja
Article Staccato May 2014


A GREAT JAZZ MUSICIAN
Sewaktu saya masih kuliah di Aussie jurusan komposisi,pernah saya menjasi reporter radio.di kampus. Suatu hari, ada gitaris Jazz top yang konser di Aussie. Beliau adalah Earl Klugh. Gitaris Jazz yang berekspresi dengan gitar berdawai nylon. Dalam sebuah kesempatan, saya mewawancarai itu Mr. Earl Klugh. Salah satu pertanyaan saya waktu itu, berbunyi begini:

“Mr. Earl Klugh, kayak apa sih seorang musisi Jazz dikatakan bagus dan hebat?”
“Apakah yang hebat itu adalah mereka yang bisa berimprovisasi dengan teknik seperti akrobat sirkus?”

Saturday, 19 April 2014

PENGANTAR KECIL KISAH SENGSARA YESUS KARYA JS. BACH (by: Michael Gunadi Widjaja)

PENGANTAR KECIL 
KISAH SENGSARA YESUS
JS.BACH'S "St. Matthew & St.John Passion"

by: Michael Gunadi Widjaja



ISTILAH PASSION
Dalam terminologi Liturgi Gereja Katolik, kisah Sengsara Yesus dikenal dengan istilah PASSION yang jika dipadankan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi PASSIO. Passio sebetulnya adalah kisah kronologis peristiwa yang dialami Yesus sejak menghadapi sakratul maut, ditangkap, disiksa dengan sangat tak beradab sampai wafat-NYA melalui penyaliban. Keempat pengarang Injil menorehkan kisah sengsara tersebut. Lanskap.dan dramaturginya bisa berbeda. Esensinya tetap sama, yakni Tuhan - Putra yang sengsara dan mati demi penebusan dosa manusia.

MAKNA PASSION
Ritus Gereja Katolik sangat menjunjung tinggi musik. Malahan musik dapat dikatakan adalah ritual Gereja itu sendiri. Bertalian dengan hal tersebut, Passio harus juga ditarik benang merahnya dalam ranah musikal. Istilah PASSION dalam ranah musikal, merupakan istilah yang sangat evokatif. Ada dua makna mendasar terhadap istilah tersebut. PASSION dalam kesejatian makna sebagai HASRAT dan PASSION dalam konteks terpadu sebagai PASSIO atau Kisah Sengsara Yesus. Dalam ritus Gereja Katolik Indonesia, lazim dikenal Passio dengan ragam kompositoris bermazhab Gregorian tradisional. Sepuluh tahun lalu, dengan dipelopori oleh Pusat Musik Liturgi Yogyakarta, Pastor Karl Edmund Prier, SJ. memperkenalkan bentuk baru dari komposisi Passio sebagai karangan seorang komposer Belanda. 

Tuesday, 8 April 2014

"JELAGA KERETA DI DAUN GUGUR" - by: Michael Gunadi Widaja (Staccato April 2014)

"JELAGA KERETA DI DAUN GUGUR"
by: Michael Gunadi Widjaja
Artikel Staccato April 2014


“Lho?! Mas Michael sedang kasmaran ya? Kok judulnya kayak puisi?”

“Ah, untuk apa lah kasmaran lagi? I’ve found my true Love!
Zaman sekarang ini yang namanya kasmaran sudah bukan zamannya lagi.
Karena cinta zaman sekarang sudah banyak direkayasa!“

INDUSTRIALISASI MUSIK
Sebetulnya, bukan cuma cinta yang di zaman sekarang ini penuh rekayasa. Hampir segala aspek kehidupan zaman sekarang marak dengan rekayasa. Bahkan soal agama pun tidak luput dari jamahan rekayasa. Kalau beragama saja sudah dijamah rekayasa, tentu budaya pun akan digerayangi rekayasa. Akibatnya tentu, musik pun akan terekayasa. Demi kepentingan bisnis, orang dengan seenaknya merekayasa musik, dengan mengatas namakan industrialisasi. Jika hasilnya memiliki mudharat, tentu kita akan mengacungi jempol. Namun jika hasilnya hanya sekedar berkoar dan duit semata, sebetulnya secara moral kita ikut bertanggung jawab. Namun apa mau dikata, budaya moralitas kita pun sudah direkayasa dan terekayasa.

INDUSTRIALISASI DALAM MUSIK JAZZ
Dalam semesta tentang rekayasa, Musik Jazz pun tak luput dari jamahan dan bahkan perkosaan. Tak jarang orang merekayasa Jazz dengan menampilkan sajian yang sebetulnya sama sekali tidak Jazz. Sebagai apologi nya dimunculkan istilah Pop Jazzy, Jazzy Light, Jazzy easy listening, dan bahkan ada yang secara sembrono mengklaim musiknya sebagai musik yang setengah Mainstream Jazz dan setengah Pop

Tuesday, 4 March 2014

"SMOOTH JAZZ" - Sebuah Upaya Yang Tidak Smooth! Artikel Staccato, Maret 2014 - by: Michael Gunadi Widjaja

SMOOTH JAZZ:
"SEBUAH UPAYA YANG TIDAK SMOOTH"
Artikel Staccato Maret 2014
Oleh: Michael Gunadi Widjaja


Sudah kita maklumi bersama, bahwa salah satu sifat esensial Musik Jazz adalah kekenyalannya. Jazz sangat kenyal sehingga leluasa menerima, dimasuki, disusupi bahkan disetubuhi berbagai mazhab musik maupun genre musik. Penerimaan, pemasukan, penyusupan, dan persetubuhan Jazz dengan mazhab dan genre musik lain, secara global memiliki dua macam aksi. Yakni PENGARUH dan PELEBURAN - Influence and Fuse. Dari pengaruh dan/atau peleburan itu kita mengenal istilah-istilah seperti Latin Jazz, Jazz Rock, Free Jazz, Ethnic Jazz, Fusion Jazz. Lima tahun terakhir, kita mulai terbiasa dan dibiasakan pada sebuah trend baru, yaitu yang dikenal dengan istilah SMOOTH JAZZ.

CIKAL BAKAL SMOOTH JAZZ
Smooth Jazz sebetulnya dapatlah dikatakan sebagai genre dari Musik Jazz. Pertumbuhannya mengakar pada Fusion Jazz. Esensinya adalah sebuah fusi atau peleburan, dan bukan sekedar perpaduan, dari berbagai unsur musikal. Peleburan tersebut mendapat pengaruh dari Jazz tradisional, rhythm and Blues, Funky Music, Rock, dan bahkan Musik Pop.