Saturday, 4 April 2015

"MODUS" (Bagian ke-2) - by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, April 2015)

"MODUS" (Bagian ke-2)
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, April 2015



Pada bagian yang pertama telah diuraikan sejarah dan pengertian Modus atau Modes per definisi. Juga telah diketengahkan beberapa contoh aplikasi modus tangganada dalam beberapa komposisi musik. Dalam bagian ke-2 ini, akan diuraikan bagaimana semua kerumitan dan keruwetan tersebut dipakai dalam komposisi dan improvisasi Musik Jazz.

KONSEP MODUS DALAM JAZZ
Sebelum kita berbicara lebih lanjut, ada beberapa hal yang mestinya sangat perlu dipahami terlebih dahulu, seputar penggunaan modus dalam Musik Jazz. Bahwa Modus dalam Jazz adalah sebuah KONSEP. Konsep yang adalah cara berpikir para pemusik Jazz dalam berkarya, baik dalam mengkomposisi musik maupun berimprovisasi. Jadi sebetulnya, Modus adalah elemen Jazz dan bukan esensi dari Jazz itu sendiri. Para musikolog mengkonsepsikan Modus dalam Jazz lebih sebagai sebuah analisa. Agar pemusik yang oleh takdirnya tidak terlahir dalam alam Jazz asli, tetap dapat berekspresi dalam nuansa Jazz yang sejati.

Thursday, 5 March 2015

"MODUS" (Bagian I) - by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, Maret 2015)

"MODUS" (Bagian I)
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, Maret 2015



TANGGANADA (SCALE)
Hampir dapat dipastikan, terutama di tanah air kita, bahwa setiap orang yang belajar musik pasti pernah berkenalan dengan apa yang dikenal sebagai TANGGANADA. Dalam istilah yang lebih umum, tangganada sering dan malah sebaiknya disebut sebagai SCALE atau TONE LADDER. Scale sering diberi batasan sebagai urutan nada-nada dengan pola jarak tertentu dan diakhiri dengan oktaf nada yang pertama. Umumnya orang mengenali scale malah sebagai Do re Mi Fa So La Si Do.

Thursday, 5 February 2015

"JAZZ YANG MENDIDIK" by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, February 2015)

"JAZZ YANG MENDIDIK"
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, February 2015



MUSIK SEBAGAI HIBURAN SEMATA
Ketika mendengar kata “MUSIK,” maka sebagian terbesar orang akan berasosiasi pada bentuk HIBURAN. Sangat jarang bahkan dapat dikatakan sangat langka, orang di tanah air kita, yang langsung berasosiasi dengan ranah pendidikan ketika mendengar kata “Musik”. Tentu sah-sah saja dan fenomena ini nampak betul adanya. Memang dengan acuan kultur dan tradisi yang dianut sebagian terbesar penduduk Indonesia, agak sulit mengkonotasi dan mengasosiasi serta mengkonsiderasi musik dengan ranah pendidikan. Contoh nyata memang sangat tidak mendukung bagi musik untuk diekuivalenkan dengan ranah pendidikan.

Para pemusik Pop misalnya. Gaya hidupnya gemar mencari sensasi yang kadang kebablasan. Nikah cerai bagai hewan ternak. Busana yang aneh dan seolah mengidentikkan diri dengan makhluk dari alam “sana”. Belum lagi ketergantungan pada narkose dan obat-obatan. Malah beberapa pemusik Pop seolah sudah menjadikan narkotika dan obat-obatan sebagai bagian dari musical lifestyle nya

Wednesday, 7 January 2015

"Cinta Dalam Sepenggal Jazz" - by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, January 2015)

"CINTA DALAM SEPENGGAL JAZZ"
(Greetings to The New World 2015)
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, January 2015


ATAS NAMA CINTA
Dalam napak tilasnya menjalani peradaban dunia, ada satu hal yang paling banyak dibicarakan manusia, sekaligus menginspirasi kehidupannya: CINTA. Ada bermacam jenis dan sifat cinta. Ada banyak torehan yang dilakukan cinta. Ada banyak tindakan yang diambil atas nama cinta. Sepertinya cinta sudah merupakan “dewata” dalam relung kehidupan manusia. Jadi tidaklah terlalu mengherankan jika seni, sebagai satu media pengungkap rasa, juga seakan tiada hentinya mengekspos cinta. Lukisan dalam bahasanya sendiri bercerita tentang cinta, termasuk elemen pembangkitnya seperti kemontokan, kelangsingan, dan keindahan tubuh. Sastra dan prosa meliriskan ungkapan cinta dengan pernyataan verbal yang kadang menyayat terkadang juga mengharu biru. Seni kriya mengabadikan morfologi citra cinta. Dan… musik, sebagai sebuah seni adiluhung dengan gramatik yang teramat luas, tentu tak melewatkan celah untuk bisa mengungkap cinta.

Monday, 8 December 2014

"ART AND ARTIST" - by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, December 2014)

"ART AND ARTIST"
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato Article, December 2014


Jika kita bicara dalam ranah Musik Populer, seperti ada hukum yang tidak tertulis, bahwa rupa dan penampilan si artis jauh lebih penting dibanding musiknya. Apalagi jika Musik Pop sudah berada dalam cengkeraman tangan-tangan gurita industri musik. Kita tentu telah paham, bahwa sudah terlampau banyak artis yang populer gara-gara penampilan dan video klip nya yang sensasional, namun sangat memalukan apabila melakukan live performance. Untuk mengatasi aib tersebut industri musik malahan belakangan ini semakin cerdas. Mereka mempergunakan dubbing dan lip sync. Agar kemampuan asli dari si artis tetap terkemas. Jazz adalah musik dalam skopa semesta Musik Pop. Meski JELAS Jazz bukanlah Pop, namun terminologi musik memasukkan Jazz sebagai musik di LUAR Musik Klasik. Dan ditambah pula beberapa fakta yang mengukuhkan bahwa Jazz memiliki akar dan popularitas dalam sebuah populasi tersendiri. Jika memang Jazz ada dalam semesta Musik Pop atau Populer, akankah Jazz juga mengalami fenomena ART AND ARTIST sebagaimana Musik Populer?

Friday, 7 November 2014

"SISI KELAM MUSIK JAZZ" - by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, November 2014)

"SISI KELAM MUSIK JAZZ"
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, November 2014


MUSIK JAZZ SEBAGAI IKON
Sudah menjadi sebuah maklumat bagi publik yang berkecimpung dalam ranah musik, bahwa Jazz adalah sebuah genre musik yang sangat ikonik. Jazz dapat dikatakan sebagai ikon kebebasan dan pembebasan. Jazz juga sebuah ikon bagi jeritan jiwa yang terkungkung dan termarjinalkan. Sebagai konsekuensinya, Jazz juga adalah sebuah ASA. Sebuah harapan bagi kesetaraan sosial yang bebas dari pengaruh rasisme. Hingga hari ini, Jazz ternyata masih saja bergumul, bergelut, dan berkutat dengan eksistensinya. Jazz masih saja memiliki sisi kelam yang nampaknya akan berkepanjangan untuk terus menghantui. Sebagai sebuah bahasa musik universal, tentu saja Jazz juga memberi imbas pada perkembangan musik di tanah air. Sisi kelam Jazz pun mau tak mau, suka tak suka, turut menghantui perkembangan Jazz di tanah air.

Monday, 6 October 2014

"AWAL BELAJAR IMPRO" - by: Michael Gunadi Widjaja, Staccato October 2014

"AWAL BELAJAR IMPRO"
by: Michael Gunadi Widjaja
Article Staccato, October 2014


UPAYA BELAJAR IMPROVISASI DALAM MUSIK JAZZ
Sebetulnya agak aneh ketika diistilahkan bahwa improvisasi dalam Musik Jazz akan diajarkan. Aneh karena improvisasi atau impro dalam Musik Jazz tidak pernah diajarkan dan ditutorialkan sebagaimana etude-etude dalam Musik Klasik. Jack Lesmana, macan Jazz Indonesia, pernah berkata begini: “Nada-nada dalam komposisi, dapat lahir dalam hitungan menit, jam, atau bahkan tahun. Namun nada-nada dalam improvisasi lahir hanya dalam seper sekian detik saja“ Ungkapan tersebut setidaknya menyiratkan pada kita, bahwa mestinya memang diperlukan sebuah upaya pembelajaran “yang tidak bisaa” dalam impro untuk Jazz. Keterkaitan antara ketrampilan dan kemampuan berimprovisasi dengan komposisi, secara sangat luar biasa, dikatakan oleh Igor Stravinsky sebagai “Komposisi adalah improvisasi yang terseleksi“

Pertanyaan yang paling mendasar adalah, Ok… jika memang demikian keadaannya, lalu darimana kita harus memulai belajar impro? Dunia kita sekarang dipenuhi dengan hiruk pikuk informasi yang dalam batas tertentu malahan sangat membingungkan. Nampaknya ada baiknya dan tentu tak ada ruginya jika kita mengacu pada “cara belajar” para legenda Jazz dunia. Terutama para legenda pada awal pertumbuhan dan perkembangan Musik Jazz.