Wednesday, 31 July 2013

THE VOICE OF JAZZ GUITAR by Michael Gunadi Widjaja (Staccato, August 2013)

"THE VOICE OF JAZZ GUITAR"
Oleh: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, Agustus 2013


Kali ini kita akan secara khusus mengedepankan Jazz Guitar atau Gitar Jazz. Banyak hal unik di seputar Jazz Gitar yang agaknya menarik untuk disimak. Menarik untuk disimak karena bertalian erat dengan esensi Jazz itu sendiri, sekaligus dalam perkembangan musiknya.

Sebelumnya, perlu dicermati bahwa judul tulisan ini adalah THE VOICE OF JAZZ GUITAR dan bukan THE SOUND OF JAZZ GUITAR. Jadi ada pemaknaan dua istilah yang signifikan, yaitu: VOICE dan SOUND. Voice dipadankan dalam bahasa Indonesia sebagai suara, bukan sebagai bunyi. Suara merujuk pada sesuatu yang sifatnya transenden. Misalnya pada kalimat: “Let’s hear The Voice of Angels”. Mari kita mendengar suara malaikat. SUARA. Dan bukan bunyi malaikat. Istilah Sound dipadankan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Bunyi. Bunyi itu sendiri adalah sebuah materi fisika berupa gelombang yang memiliki energi. Dengan memakai kata Voice dalam judul, disini dimaksudkan sebagai penekanan. Bahwa Jazz Gitar, dalam ranah musik Jazz, bukan sekedar bunyi, melainkan adalah suara. Suara yang menyuarakan jati diri dan perkembangan musik Jazz itu sendiri.


ISTILAH JAZZ GITAR
Jazz Gitar, ditilik dari makna istilahnya, memiliki beberapa pengertian. Pengertian yang pertama merujuk pada Jazz Gitar sebagai alat musik Jazz Gitar sejati. Contoh yang paling terkenal dari alat musik Jazz Gitar adalah gitar merk Gibson buatan Amerika. Jazz Gitar digolongkan sebagai semi hollow body guitar. Artinya, body si gitar itu montok dan besar. Berbeda dengan jenis Stratocaster untuk Musik Rock, yang cenderung langsing dan kerempeng. Jazz Gitar biasa dilengkapi dengan pick up, sehingga bisa dialiri arus listrik untuk penguatan bunyinya. Body yang semi hollow, menjadikan Jazz Gitar masih dapat menghadirkan bunyi secara kuat secara akustik, tanpa dihubungkan dengan amplifier. Pengertian kedua dari Jazz Gitar adalah, Musik Jazz yang dimainkan pada gitar. Dalam keadaan ini, gitarnya bisa gitar klasik senar nylon, bisa juga gitar folk dengan senar metal, tentu saja bisa gitar elektrik kerempeng yang lazim untuk Musik Rock.

Tuesday, 9 July 2013

"JAZZ LICKS" Artikel Staccato Juli 2013

“JAZZ LICKS”

Oleh: Michael Gunadi Widjaja
Artikel STACCATO, Juli 2013


DEFINISI JAZZ LICKS
Jazz kita kali ini akan menengok, dan syukur kalau mungkin, menatap tentang JAZZ LICKS. Jazz Licks bukan berarti dua kata yang disambung. Jadi sama sekali bukan lick yang diartikan sebagai “menjilat”. Jazz licks adalah sebuah istilah. Istilah Licks itu sendiri adalah terminologi yang terdapat dalam ranah Musik Popular atau Pop. Licks dimaknai sebagai:

A lick is "a stock pattern or phrase" consisting of a short series of notes
that is used in solos and melodic lines and accompaniment.
Licks in Rock ‘n Roll are often used through a formula,
and variations technique in which variants of simple,
stock ideas are blended and developed during the solo.
 - DR. Hugo Riemann -


Tuesday, 11 June 2013

"Estetika dan Etika" Artikel Radar Tegal, 21 Februari 2013

"ESTETIKA dan ETIKA"
Oleh: Michael Gunadi Widjaja
Artikel Radar Tegal, 21 Februari 2013


MUSIK diciptakan untuk dinikmati. Karena kemerduan dan keindahan suaranya. Namun secara psikologis, musik dapat mengembangkan estetika atau keindahan. Hal ini dituturkan praktisi musik terkenal, Michael Gunadi Widjaja. Menurutnya, dengan mendalami musik, seorang anak akan belajar untuk mencintai keindahan. Dengan mencintai musik, seorang anak mampu menumbuhkan sikap apresiasi terhadap orang lain.

"Menghargai karya orang lain - apa saja karyanya merupakan bagian dari sikap apresiasi. Sejumlah tokoh dunia yang namanya tercatat dalam sejarah, sebagian besar seorang apresian musik tinggi. Contohnya Presiden Amerika Ronald Reagan, Bill Clinton, dan Barack Obama. Tak ketinggalan Presiden Indonesia, Ir. Soekarno juga termasuk pencinta musik."

Dia menambahkan, pendidikan musik sangat penting bagi perkembangan jiwa anak. Musik mampu menumbuhkan sikap menghargai orang lain, serta sikap toleransi. Tidak hanya itu, musik juga dapat memupuk etika atau sikap sopan santun seseorang. Dengan musik, orang semakin berbudaya, melatih motorik halus anak.

Hidup ini perlu keseimbangan, keselarasan, dan salah satu penyeimbang adalah musik. Selain memupuk keindahan, hidup juga tambah semarak. Para tokoh dunia rata-rata adalah pencinta musik. (din)

Monday, 10 June 2013

"Synthesizer AnalogArtikel Audio Pro, Mei 2013

"SYNTHESIZER ANALOG, 
DIGITAL, dan HYBRID"
Oleh: Michael Gunadi Widjaja
Artikel Audio Pro, Mei 2013


Tulisan ini akan memaparkan perbedaan dasar antara synthesizer analog, digital, dan hybrid. Paparan tentang perbedaan masing-masing sistem sama sekali tidak mengacu pada keunggulan masing-masing. Synthesizer generasi pertama rancangan DR. Robert Moog menggunakan sistem analog. Saat digitalisasi mulai merambah kehidupan manusia modern. Sistem kerja synthesizer pun beralih pada sistem digital. Belakangan sistem digital dirasa tak mampu lagi menghasilkan bangunan bunyi yang thick, warm, and vintage tebal, hangat, antik unik. Disisi lain, orang masih memerlukan teknik pengoperasian yang relatif lebih bersahabat, yang hanya bisa didapat pada sistem digital. Sebagai jalan tengah, dibuatlah synthesizer hybrid.

Hal utama yang merupakan perbedaan mencolok antara synth analog dan digital adalah bahwa synth analog mampu menghasilkan bunyi yang warm atau hangat. Pendapat ini sebetulnya lebih bersifat subyektif. Yang dimaksud dengan warm sebetulnya adalah "kandungan frekuensi tinggi yang lebih sedikit dalam aliran sinyal gelombang bunyi". Fenomena ini secara teknis terjadi karena adanya boost frekuensi rendah. Atau malahan disebabkan kebocoran dari filternya. Manifestasinya adalah saat kita menekan tuts untuk menghasilkan nada, bunyinya akan terkolorasi sehingga kesannya ada penambahan chorus. Tambahan chorus ini secara psikologis memberi kesan thick & warm - tebal dan hangat. Pada sistem digital yang relatif lebih eksak, kebocoran filotrasi jelas tidak mungkin terjadi. Meskipun demikian, agak terlalu subyektif untuk mengklaim bahwa synthesizer digital takkan pernah dapat menyamai ketebalan dan kehangatan synthesizer analog.

Lalu bagaimana sekarang dengan synthesizer hybrid? Untuk berkenalan dengan synthesizer hybrid, ada baiknya kita tengok sejenak prinsip kerja synthesizer.

Saturday, 8 June 2013

Fantastic Suite "Wetland" for Guitar and Piano

FANTASTIC SUITE "WETLAND"
for Guitar and Piano
Composed by: Jun-ichi Nihashi


A good repertoire for guitar and piano is rare to find. 
This could be an alternative for a great repertoire, for an advanced guitarist and pianist. 


About the Fantastic Suite "WETLAND" for Guitar and Piano
This unique ensemble of the piano and guitar aspires to discover new possibilities for its medium. The theme is about fantasy and dream, that reflects the nature of wetland from the dawn until the evening with the stars. 

Friday, 7 June 2013

JAZZ: "Musik Hitam Yang Putih" - Artikel Staccato Juni 2013

JAZZ: “MUSIK HITAM YANG PUTIH”
Oleh: Michael Gunadi Widjaja
Artikel STACCATO, Juni 2013


Tentu kita pernah mendengar ungkapan yang berbunyi: “Tak selamanya mendung itu kelabu”. Ungkapan semacam itu dapat kita maknai bahwa sesuatu yang tidak cerah, tidak benderang tidaklah selalu berkonotasi dengan hal yang menyedihkan, mengenaskan dan buruk. Dari pengalaman yang kita alami selama menapaki umur dunia ini, tentu kita sadar bahwa senantiasa akan ada cahaya dari kekelaman. Dalam kekelaman yang terkelam sekalipun, karena kita mempercayai akan senantiasa ada semburat kasih dari Sang Ilahi.

 ASAL MULA BLUES


Orang memang menyukai ungkapan yang mengidentikkan nuansa warna dengan suatu keadaan. Warna hitam misalnya. Nasibnya hampir serupa dengan mendung dan nuansa kelabu. Tentu kita tidak asing dengan ungkapan: “Dunia hitam, di hitamnya malam, kehidupannya hitam, sisi hitam dirinya, dan sebagainya”. Seolah telah diidentikkan bahwa hitam selalu bersetubuh dengan keburukan. Stigma ini juga merambah pandangan tentang ukuran cantik bagi seorang perempuan. Banyak iklan produk kecantikan yang  mencitrakan bahwa yang putih selalu lebih elok dan rupawan dari yang hitam. Stigmatisasi seperti ini pernah mencapai puncak kekejamannya di Amerika pada abad ke-19. Saat orang-orang negro diimpor dari Afrika untuk dipekerjakan di perkebunan.

Saturday, 25 May 2013

RADAR NEWSPAPER (May, 21, 2013)

"GUNADI TAMPIL SUKSES 
DI PUSAT KEBUDAYAAN AMERIKA"
RADAR NEWSPAPER, 21st May 2013


Gitaris Indonesia kelahiran Tegal, Michael Gunadi Widjaja, Minggu (19/5), tampil dalam konser tunggal di Pusat Kebudayaan Amerika di Jakarta. Penampilan pria ini memantapkan posisinya sebagai gitaris papan atas di Tanah Air. Hal itu dibuktikan, dengan membludaknya jumlah pengunjung. 


Gedung berkapasitas 300 penonton, ternyata didatangi lebih dari 500 orang. Sehingga membuat pihak manajemen dan sekuritas Pusat Kebudayaan Amerika pun kewalahan. Boleh jadi pertama kali sebuah pertunjukan seni musik, mendapatkan antusias publik yang luar biasa. Disamping disaksikan sejumlah warga Amerika, yang kebetulan tinggal di Indonesia. Tak ketinggalan, konser tersebut dihadiri pencinta musik dari ibukota. Termasuk para pencinta musik dari sejumlah daerah.

Konser ini mendapat sambutan hangat dari penonton. Bahkan dari situs jejaring sosial, Twitter. Sebagian besar pengunjung memuji penampilan Gunadi. Dalam konser "Disney Pianolicious", dengan direksi Jelia Megawati Heru, sore itu mendapat animo luar biasa dari Pusat Kebudayaan Amerika di Jakarta. Sambutan dari segenap penonton, disampaikan bahkan hingga selesainya acara.

Gitaris asal Tegal, Michael Gunadi Widjaja
tampil memikat dengan nomor lagu "Asturias" dari Isaac Albeniz

Dalam kesempatan itu, Gunadi membawakan nomor lagu berjudul "Asturias" karya Isaac Abeniz dari Spanyol (1860-1909). Lagu itu merupakan soundtrack dari film "The Mirrors". Saat lagu tsb dihadirkan, membuat hadirin tercekam, yang membawanya dalam suasana horor bernuansa Flamenco Spanyol yang menakjubkan. Untuk nomor kedua, Gunadi yang juga alumnus Perth Conservatory of Music, Australia (1988-1990), membawakan sebuah transkripsi dari "Cello Suite No. 1 - Prelude" karya komponis asal Jerman, Johann Sebastian Bach. Lagu karya JS. Bach sebagai tema film "The Master and Commander". Dalam lagu ini pengunjung seperti dibuat larut dalam romantisme.

Menurut pemerhati musik, yang hadir menyaksikan penampilan Gunadi mengatakan, bahwa penampilannya sangat fenomenal. Seni Musik piano dan gitar klasik bisa menjadi sangat dialogis dan menampilkan hal-hal yang dekat dengan ranah kehidupan sehari-hari. Dengan penampilannya dalam konser kali ini, Michael Gunadi Widjaja telah mengharumkan nama tanah kelahirannya. (din)