Wednesday, 5 September 2012

"Belajar Jazz" - Artikel Staccato (September 2012)

“BELAJAR JAZZ”

Artikel Staccato (September 2012)
Oleh: Michael Gunadi Widjaja



KISAH SEORANG PENCINTA JAZZ

Tulisan ini akan diawali dengan kisah seorang pengusaha. Pengusaha yang juga seorang bapak. Kegemaran utamanya adalah musik Jazz. Uang baginya bukan masalah. Bapak ini memiliki koleksi CD Jazz yang jauh lebih lengkap dari diskografi radio yang 24 jam siaran Jazz. Dia juga mengkoleksi buku-buku tentang Jazz, dari mulai riwayat para pemusik Jazz sampai pada kliping artikel-artikel tentang Jazz - termasuk artikel di Staccato…hehehehe… Tidak cukup sampai disitu,  bapak ini juga mengkoleksi score musik Jazz meskipun dia sama sekali tidak bisa memainkan instrumen musik satupun. Bahkan, segala pernik-pernik Jazz pun dia kumpulkan - dari mulai stiker, gantungan kunci, kaos (tidak termasuk bra penyanyi Jazz)…. Merasa masih kurang lengkap koleksinya, si bapak sering memenangkan lelang alat musik yang bekas dipakai para pemusik Jazz lokal maupun manca negara.


Kehidupan sehari-harinya pun tak lepas dari Jazz. Di mobilnya selalu berbunyi alunan Jazz, di rumahnya home theatre selalu siap saji dengan menu musik Jazz. Berbagai konser Jazz juga dia hadiri, termasuk harus jauh-jauh terbang ke LA hanya untuk bersalaman dengan George Benson. Si bapak memiliki seorang anak yang berusia 6 tahun, tampan seperti pianis Aryo Wicaksono. Menurut si bapak, anaknya sangat musikal dan cerdas serta memiliki kemampuan multi tasking. Anaknya itu bisa makan sambil nonton TV sambil mewarnai gambar sekaligus main video games. Multi tasking kan…hehehehehe….Persoalan mulai muncul saat si bapak ingin agar anaknya BELAJAR JAZZ.

Bapak yang pengusaha tersebut bersikeras agar si anak belajar Jazz dan bukan musik yang lain. Alasannya sangat masuk akal, bapak itu menganggap bahwa musik Jazz memiliki nilai universal yang tinggi - dari mulai Presiden Amerika sampai gelandangan di 42nd Street dekat jembatan New York, memainkan Jazz. Juga menurutnya Jazz adalah musik yang sangat sosial - tidak congkak, tidak pongah, dan tidak dipenuhi orang yang sok tahu tentang Bach dan Chopin. Menurutnya, Jazz memiliki spirit untuk berbagi, misalnya dalam Jam Session;Dan juga mengembangkan saling pengertian dan saling menghargai. Jazz juga mengedepankan rasa “bebas yang bertanggung jawab” - Bukan bebas asal menjawab. Sampai disini nyata bahwa si bapak memiliki apresiasi yang bagus akan musik Jazz. Wajar jika si bapak ingin agar anaknya belajar Jazz, meskipun belum tentu si anak berminat pada musik Jazz. Mengingat usia dan bisa saja lingkup teman-temannya, mungkin si anak lebih suka menyanyi MARS DORAEMON ketimbang mendampingi bapaknya mendengar Jazz, yang bagi si anak laksana seekor monster aneh.

Diajaknya si anak untuk mendatangi sekolah musik yang punya nama…ooopppssss…maksudnya terkenal..gito loh…wkwkwkwkw….Sekolah musik tersebut secara terang benderang memasang promo membuka (emang baju ya bisa dibuka) jurusan piano Jazz!!! Wow... Dengan penuh harapan si bapak mulai berdialog dengan receptionist di sekolah tersebut. Melihat penampilan si bapak yang sangat dandy dan perlente, tergopoh-gopoh sang receptionist memanggil (dengan hormat) pemilik sekolah yang merangkap kepala sekolah, administrasi dan juga tukang tagih school fee (alasannya efisiensi).

Bapak                            : “Mas, nanya, disini ada kursus piano Jazz ya?”
Pemilik sekolah         : “Ahaaa…betul, Pak..kami membuka jurusan piano Jazz.
    Dengan guru  yang kami pilih Pak “
Bapak                           : “Apa seumuran anak saya gini bisa les piano Jazz, Mas?”
Pemilik sekolah         : “BISA!!!!”
 (Melihat ada kesempatan emas, langsung saja pemilik sekolah menjawab dengan   tegas dan lantang)

Jam berdetak, hari berganti, minggu terlewati, bulan terlampaui… bahkan tahun pun tertapaki. Si anak sudah berusia 9 tahun. Artinya dia sudah belajar yang dinamakan “piano Jazz” selama tiga tahun. Namun yang selalu bapaknya dengar tak ubahnya dengan anak partner businessnya yang belajar piano klasik. Etude, etude, etude, etude dan etude serta latihan dexteritas jari yang membosankan. Tak ada itu ROUND MIDNIGHT. Tak pernah terdengar lagunya Dave Brubeck, apalagi Miles Davis dan Oscar Peterson. Bapak itupun sangat kecewa.

Kisah yang panjang lebar luas dan dalam tadi memang sangat membosankan dan mungkin sama sekali tak berguna untuk dibaca. Namun setidaknya kisah tadi memberi sekelumit gambaran tentang BELAJAR JAZZ. Ada anomali di sini. Literatur mengatakan bahwa pemusik Jazz terutama pada awal lahirnya Jazz adalah mereka-mereka yang miskin kumuh dan “tidak makan” sekolahan. Mereka memainkan musik dengan passionate. Lalu kenapa orang jaman sekarang yang “makan” sekolahan, difasilitasi tetap saja sulit dalam belajar Jazz.

KATEGORI PARA JAZZ MASTER

Sebetulnya, dalam belajar Jazz kita perlu mengacu pada para pendekar Jazz/para Jazz Master.
Ada dua kategori Jazz Master:  

1. Mereka yang “dari sononya” sudah memiliki Jazz dalam sanubarinya. Yang termasuk golongan ini misalnya: Gitaris Wes Montgomery, Louis Armstrong. 
Louis Armstrong
Wes Montgomery
 
2. Mereka yang mengecap pendidikan sekolah untuk kemudian main Jazz. Dalam golongan ini misalnya: Herbie Hancock, Chick Corea, dan bahkan Oscar Peterson.

Herbie Hancock

Untuk yang kategori  No. 1 jelas tidak mungkin kita tiru. Biarlah mereka menjadi bukti kebesaran Tuhan dan tetap menjadi bagian dari legenda dunia. Kita mengacu pada golongan No.2 Herbie Hancock misalnya, dia adalah pemain piano klasik yang sangat matang dalam teknik maupun musikalitas. Begitu juga dengan Chick Corea. Hingga kini, Chick Corea tetap menggunakan lagu-lagu karya Bach untuk mengasah terus menerus teknik permainannya.

Chick Corea

Dari napak tilas para master Jazz dapatlah kita tarik benang merah, bahwa belajar Jazz bukanlah sebuah metode didaktik yang sekonyong-konyong dan instan. Seseorang, berapa pun usianya, jika ingin belajar Jazz, terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan dasar musik. Termasuk teknik-teknik dasar bagi keluwesan jari jemari ataupun organ tubuh lainnya.

Musik senantiasa memiliki dua aspek yang saling bermesraan, yaitu: aspek teknik dan aspek musikalitas. Aspek teknik dalam musik Jazz tidak berbeda dengan aspek teknik musik Klasik. Ada latihan dexteritas, speed, accuracy, finger jump, sampai bagaimana mengolah tone yang colorful. Jadi semestinya, seseorang harus lulus tingkat lanjut (advanced) terlebih dahulu, jika dia ingin belajar Jazz dengan lancar dan menyenangkan. Yang membedakan Jazz dengan genre musik lain, dari sudut pandang belajar, adalah musikalitas dan bahwa Jazz memiliki ragam improvisasi yang sangat khas.

Aspek musikalitas dalam Jazz tidaklah hal yang bisa dipelajari dengan gampang. Jazz tidak seperti musik Klasik yang literer. Dalam musik Klasik, jika seseorang berhasil membunyikan teks secara persis seperti yang tertulis, dapatlah dikatakan orang tersebut sudah menghadirkan musik yang klasik. Lain halnya dengan Jazz - ada touch, feel, dan nuance yang membutuhkan sublimasi tinggi. Lagu “In The Mood” dari Glenn Miller misalnya, pada bagian awal secara teori memang berupa rangkaian semiquaver. Namun, dalam Jazz ada aksen-aksen tertentu yang menjadikan “In The Mood” sungguh Jazz dan aksen seperti ini tidak bisa dipelajari hanya dengan guru Jazz yang punya reputasi. Orang harus sublim di dalamnya. Dengan cara masuk dalam pergaulan komunitas Jazz ataupun sering mendengar Jazz.  


Saat saya belajar Jazz pada Alm. Jack Lesmana, saya dipinjami sekoper kaset. Dengan pesan agar didengar dan didengarkan sesering mungkin. Bukan untuk meniru kaset, melainkan agar nuansa dan touch, serta feel Jazz benar-benar merasuk dalam sanubari bahkan alam bawah sadar kita. Saya tahu persis bahwa Alm. pianis Bubbi Chen pun melakukan hal yang sama bagi muridnya.

IMPROVISASI

Berikutnya adalah improvisasi. Improvisasi Jazz sangat kompleks untuk dipelajari. Jazz improvisation bisa ditelaah secara metodik dan ilmiah. Namun hal itu sangat memusingkan, karena orang harus mengenal harmoni open-close terlebih dahulu. Baru kemudian diperkenalkan dengan konsep “Black Harmony” dan harmoni progresif. Barulah dia bisa mulai tertatih-tatih untuk ber-improvisasi, dan hal demikian sangat membutuhkan waktu panjang.

Banyak komposer menyadari bahwa menjadikan seseorang mampu ber-improvisasi adalah sebuah hal yang menuntut intensitas dan totalitas luar biasa. Itulah sebabnya, komposer seperti Christopher Norton, Mike Cornick memperkenalkan konsep “Jazz Literer”. Dalam Jazz literer, improvisasi tidak dilakukan spontan melainkan ditulis sepenuhnya. Daniel Barenboim pun main Jazz dengan konsep Jazz Literer. Daniel Barenboim adalah legenda musik Klasik, jadi rupanya agak aneh baginya jika melakukan sesuatu yang sifatnya spontan. Banyak kritik terhadap Jazz literer semacam ini. Para musikolog menganggap Jazz literer belum bisa disebut Jazz, karena improvisasinya bukan pengembangan potensi pemainnya melainkan sudah ditulis dan di plot oleh komposernya. Bagi saya pribadi, Jazz literer ok ok saja, sejauh rasa Jazz nya tetap terjaga.

Belajar Jazz adalah sebuah keniscayaan jika tidak dilatari dengan dasar musik yang mumpuni. Jadi, sebaiknya jika parents mengantar anaknya untuk belajar Jazz, teliti dahulu menu apa yang ada di sekolah musiknya. Karena jangan-jangan hanya tersedia menu Jazz-Jazz an belaka.


Monday, 27 August 2012

SABOR A MI


SABOR A MI


Hidup itu gak ada senangnya…gak ada enaknya…dan gak ada bagusnya sama sekali….

Jalanan Jakarta..padat,berhimpit,merayap,berdebu,panas kering menyengat

Meski mobil kita ber AC super compressor

Dalam keadaan begitu…di mobil yang kami kendarai saat itu mengalun lagu SABOR A MI
Dari sebuah car mp3 player

In Kenny G sopran sax version

Spontaneous  “someone beside me” said with deep lovely voice

“ Can you play that music ?”
“ Sure…”
“ In strip and sexy way ?”
“ Sure……”
“ on your guitar ?”

Sabor A Mi adalah lagu yang ditulis dan dikarang oleh Álvaro Carrillo Alarcón , seorang composer Mexico,dan dipopulerkan oleh penyanyi Jepang, Yoshiro Hiroshi.




Liriknya berujar: 

Tanto tiempo disfrutamos de este amor
For so long we have enjoyed this love
Nuestras almas se acercaron tanto así
our souls got so close
Que yo guardo tu sabor
that I keep your taste (1)
pero tu llevas tambien
but you also carry
sabor a mí
a taste of me

Si negaras mi presencia en tu vivir
If you would deny my presence in your life
bastaría con abrazarte y conversar
it would suffice to embrace you and to talk (2)
Tanta vida yo te di
so much (of my) live I gave to you
que por fuerza tienes ya
that you cannot help but having
sabor a mí
a taste of me

No pretendo ser tu dueño
I am not trying to be your owner
No soy nada, yo no tengo vanidad
I am nothing, I have not vanity
De mi vida, doy lo bueno
Of my life, I give the good (the best)
Soy tan pobre que otra cosa puedo dar?
I am so poor, what else can I give?

Pasarán mas de mil años
A thousand years may pass
muchos más
many more
Yo no se si tenga amor la eternidad
I dont know whether love exist in eternity
Pero alla tal como aquí
But there just as here
en la boca llevaras
in the mouth you will carry
sabor a mí
a taste of me

(1) sabor= taste, flavor. Here it is used in a poetic way, menaing "a trace of you remains within me and you also have taken on a trace of me".
(2) to prove that I am still part of your life.

This is The Legendary LOS PANCHOS sing Sabor A Mi



And..this is My Sabor a Mi





Saturday, 18 August 2012

Artikel Audiopro (Agustus 2012) "Kawai - The Ultimate Digital Piano"

KAWAI FACTORY TOUR
“THE ULTIMATE DIGITAL PIANO”
Artikel AUDIOPRO, edisi Agustus 2012
Oleh: Michael Gunadi Widjaja



Piano digital sangat berbeda dengan piano elektrik. Piano digital adalah sebuah imitasi dari piano akustik sejati dalam sebuah sistem digital. Ada beberapa merek dan pabrik piano digital. Salah satu yang sudah mendapatkan pengakuan kelas dunia adalah Kawai digital piano.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan melakukan Kawai Factory Tour atas undangan pihak manajemen PT KAWAI INDONESIA. Dalam Factory Tour ini saya bersama dengan Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu, seorang music educator dan pianis alumnus Jerman. Selama tur, kami didampingi jajaran manajemen Kawai Indonesia, yakni Bapak Suyono (Manager Quality Control) dan Bapak Oki Hermawan Anggawinata (Manager Marketing). Juga Bapak Gunawan dari jajaran manajemen Kawai elektrik dan direktur utama Kawai Indonesia Mr. Hiroshi Ushio dan executive director Mr. Ichiro Matsuda.

 

Pabrik Kawai digital piano adalah sebuah assembly industry yang terletak di Cikampek. Nama resmi dari pabrikan piano digital ini adalah Kawai Electronic Musical Instrument, dan berada dalam unit produksi Kawai Plant 3. Seluruh proses assembly dikerjakan dengan sarana produksi canggih dan pengawasan kualitas yang prima.

Kawai mengeluarkan berbagai tipe dan seri piano digital, dan terbagi dalam empat kategori:
  • Concert Performance series (CP)
  • Concert Artist series (CA)
  • Portable Digital  (ES & EP)
  • Custom series  (CL & CN)
Tiap seri memiliki keunggulan dan fitur untuk berbagai keperluan. Seri CP misalnya, adalah sebuah masterpiece dengan keakuratan bunyi sangat presisi mendekati bunyi Grand Acoustic Piano.

Yang menjadikan Kawai digital piano berbeda dan unggul dibanding piano digital lainnya adalah bahwa Kawai digital piano memiliki area sanpling yang luas, juga sampling rate yang tinggi. Dan modus sampling ini diambil dari Shigeru Kawai, salah satu grand piano terbaik di dunia. Selain itu, mekanisme touch dari Kawai digital piano juga sangat luar biasa. Hammer action menggunakan compound material, yakni wooden dan bahan composit. Sehingga touch dari Kawai digital piano bukan saja mendekati piano sejati, melainkan sudah sangat persis. Touch respond dan sensitivitasnya sangat akurat, hammer action-nya juga memungkinkan untuk mengeksplorasi tone color.

 
 

Dalam pabrik, Miss Jelia sempat mencoba Kawai digital piano seri CP. Dan ternyata seri CP ini sangat mampu mengakomodasi kebutuhan pianis handal seperti Jelia, terutama ketika dilakukan tes dengan fast repeated hammering technique. Mekanisme hammer Kawai sangat mampu mengakomodasi teknik ini, yang di piano digital merek lain amatlah tidak mungkin.

Piano Kawai termasuk salah satu produk piano terbaik di dunia. Bersama Fazioli, Boessendorfer, dan Steinway & Sons. Nama besar Kawai dan ketenarannya merupakan fusi dari kerja keras, visi yang tajam, keterampilan, keuletan, dan yang terpenting penjiwaan slogan bahwa Kawai akan menjadi “The Future of the Piano”

KAWAI DIGITAL PIANO
“Sounds like playing on a real acoustic piano with responsive sensitive keys”

Tur dialokasikan pada Kawai piano factory plant 1, yakni unit perakitan untuk piano akustik dan grand piano. Sesampainya di Kawai plant 1, rombongan disambut Mr. Hiroshi Ushio (Presdir PT Kawai Indonesia) dan Mr. Ichiro Matsuda (Direktur pelaksana). Sebelum melakukan kunjungan ke pabrik, dilakukan presentasi oleh Bapak Rudi seputar Kawai Indonesia dan product knowledge. Menjadi menarik manakala menelisik sejenak hal-hal penting dalam presentasi tsb, agar setidaknya dapat dijadikan inspiratif tentang filosofi dan etos kerja sebuah pabrik piano terbaik di dunia dalam kiprahnya di tanah air.

SEJARAH KAWAI
(dari ki-ka) Koichi Kawai - Shigeru Kawai - Hirotaka Kawai

Kawai Corp. Didirikan oleh Koichi Kawai. Saat ia memasuki usia remaja, Koichi bekerja di industri piano. Dia adalah anggota kunci tim penelitian dan pengembangan dimana untuk pertama kalinya piano diperkenalkan ke Jepang. Seorang penemu berbakat, Koichi Kawai adalah yang pertama kali merancang dan membangun sebuah aksi piano di Jepang. Ia memegang banyak paten untuk penemuannya dan desain. Perbedaan visi menjadikan seorang Koichi Kawai mendirikan sebuah perusahaan piano sendiri. Pada tahun 1927, Koichi Kawai mendirikan laboratorium penelitian instrumen musik Kawai, dan mempekerjakan tujuh orang kerabat lainnya. Sebagai perusahaan muda, satu-satunya yang mendukung mereka adalah semangat untuk musik dan keinginan untuk memproduksi piano unggul. Prinsip-prinsip dasar Koichi dipusatkan pada kualitasm apresiasi musik, dan pencarian keunggulan.


Impian Koichi Kawai diwujudkan oleh Shigeru Kawai – the successor, anak Koichi Kawai – dalam memperluas fasilitas produksi dan mendirikan sejumlah organisasi untuk mempromosikan nilai musik. Pada 9 Agustus 1927 di Hanamatsu, Jepang, didirikanlah pabrik Kawai yang pertama. Hirotaka Kawai, presiden yang ditunjuk pada tahun 1989, tetap berkomitmen untuk menjalankan tradisi yang ditanamkan oleh ayah dan kakeknya. Dalam menegaskan filsafat mereka, ia menyatakan “At Kawai, th quest for perfection is not just an ideal, but a duty”. Di bawah bimbingan Hirotaka, perusahaan memulai sebuah program yang menginvestasikan puluhan juta dollar untuk mengintegrasikan teknologi robotika ke dalam proses manufaktur. Dia juga memimpin pendirian fasilitas manufaktur Kawai di seluruh dunia. Dengan demikian, tradisi kepemimpinan keluarga di Kawai hidup dari generasi ke generasi.

Kawai Indonesia berdiri tahun 2001, memiliki tiga unit produksi. Kawai plant 1 di Tangerang dan Kawai plant 2 & 3 di Cikampek. Akan segera terealisasi Kawai plant 4. Jika Kawai plant 4 terealisasi, maka akan didapat produk piano yang memproduksi semua produk bahan baku piano yang murni buatan Indonesia. Kegiatan utama unit produksi Kawai adalah perakitan piano dengan jumlah produksi 1000 set per bulan untuk piano akustik dan 6000 set per bulan untuk piano digital. Khusus untuk piano akustik, 40% kegiatan produksinya dikerjakan secara manual, sebagai komitmen Kawai akan hand crafted and precision untuk menghasilkan piano terbaik di dunia.

 Master Piano Artisan (MPA)

Semua produksi Kawai ada dibawah pengawasan sangat ketat dari Master Piano Artisan (MPA). Tingkat tertinggi dari MPA ini baru dapat diperoleh setelah 20 tahun mengenyam pendidikan dan tes, termasuk di Eropa.

ABS-CARBON
“The New Composit for Piano Action Millenium”

Masterpiece piano akustik Kawai adalah Shigeru Kawai grand piano. Menggunakan bahan komposit millenium serat karbon yang disebut sebagai ABS-Carbon (ABS: Acrylonitrile Butadiene Styrene). ABS adalah salah satu bahan yang paling dikenal dari semua komposit modern dalam semua aspek kehidupan, seperti telepon, komputer, peralatan rumah, mobil, sepeda, mobil balap Formula One, instrumen gesek, dan pesawat komersial.

ABS-Carbon merupakan bahan yang sangat kokoh dan kaku, dipergunakan untuk membuat bagian-bagian piano action yang berkenaan dengan:
  • Kekuatan - Lima puluh kali lebih kuat dari bahan kayu, sehingga memiliki daya tahan yang kuat dari perubahan suhu/cuaca 
  • Konsistensi dimensi - Secara signifikan lebih konsisten dalam ukuran dan bentuk dari bahan kayu, sehingga memungkinkan produksi nada yang lebih jernih dan presisi
  • Ketahanan terhadap pembengkakan - Tiga puluh kali lebih tahan daripada bahan kayu, sehingga posisi sekrup pada piano action tetap ketat dan hammer tidak mengalami perubahan, memungkinkan untuk melakukan sentuhan (touch), serta produksi kualitas tone yang konsisten
  • Daya tahan (longevity) dalam rentan waktu yang panjang
Desain ringan membuat piano action millenium III ini sangat cepat dan memudahkan pemainnya dalam melakukan pengulangan (repeated hammer action), dan respons bunyi yang luar biasa. Infus serat karbon ke ABS meningkatkan kekuatan material hingga 90%. Dengan ABS-Carbon, piano action dibuat lebih cepat dan ringan. Sekitar 16% lebih cepat dari bahan konvensional pada umumnya, dan tidak terpengaruh oleh kelembaban udara, sehingga hammer mechanism tidak macet seperti jika memakai bahan dari kayu. Dan pemain mempunyai kemampuan kontrol jari yang tidak tertandingi untuk bermain pianissimo. Selain itu Kawai juga dilengkapi dengan agraffes utillity pada bridge agar posisi dawai tidak mudah bergeser.

Piano Concert "PIANOLICIOUS MOMENT"


A Piano Concert
“Pianolicious Moment”
Life is like piano... what you get out of it depends on how you play it
One man gets nothing but discord out of piano; another gets harmony.
Study to play it correctly and it will give you forth the beauty...

Students & Directed by
JELIA MEGAWATI HERU

ISTITUTO ITALIANO
Jln. HOS Cokroaminoto 117, Menteng
Sunday, 7th October 2012
4.30 pm & 7 pm

performing
Classical to Modern Piano Music in all form of Solo & Piano Ensembles
1 piano 2 hands, 1 piano 4 hands, 1 piano 6 hands, and 2 pianos 8 hands

PROGRAM

1st Session
students of Jelia Megawati Heru
(early beginner - intermediate level)

in collaboration with
Shinning Stars Enrichment Center (Tegal)
Ruth Ellinger "Balloon Pop Polka" (for 2 pianos, 8 hands)
Ludwig van Beethoven “Für Elise” (for 2 pianos, 4 hands)
Martha Mier "Agent 003" (for 1 piano, 6 hands)
and many more...

2nd Session
(teacher & professional performers)

Special Performance Duo Guitar Piano
Michael Gunadi Widjaja - Jelia Megawati Heru
Astor Piazzolla "Oblivion"

Featuring: Mery Kasiman & Yoseph Sitompul
Mike Cornick Trilogy (for 1 piano 4 hands)
"Blue Piano Duets"
"Latin Piano Duets"
"Jazz Suite"

Twinkle Twinkle Little Star
Traditional - Jazz - Dang Dut
Arr. Michael Gunadi Widjaja

Golden Fingers Piano Ensembles
(for 2 pianos 8 hands)
William Gillock "Champagne Toccata"
Michael Gunadi Widjaja "Kemben"
Arr. Michael Gunadi Widjaja "Medley Indonesian Folksong"
Kevin Olson "Scott Joplin Rhapsody"

TICKET
IDR 75.000 (1 Session)
IDR 150.000 (2 Sessions)

More information
Michael 0818 288 006, pin: 288A49F3
email: elisabeth.jmh@gmail.com


ABOUT PIANO ENSEMBLES

The piano is pretty much intimate instrument that work fantastically for solo, group ensemble or orchestra. But not many know that piano alone or a bunch of guitars can be an ensemble of its own and entertain us with a rich range of melodies. A piano that is played by two people, three people, or even four people could actually give you less monotone and a more interactive performance to watch.

The importance of the solo pianist in the world of music is beyond question, but the life of solo pianist can be lonely.  The piano ensembles offers a unique opportunity to make beautiful music with another person at the same instrument. While the basic principles of solo performance also applied, playing piano ensembles could be really challenging, for some of the pianists have found themselves playing “duels” instead of “duets”.

One of the hallmarks of any fine musical group is its ensemble. The music should sound as if played by one person. Not only the notes should come precisely together, but in the terms of style and flexibility, allowing the music to breathe...

Piano ensemble is the art of playing music together in the form of 1 piano 4 hands (two people at one piano), 1 piano 6 hands (three people at one piano), 2 pianos (two peoples at two pianos), and 2 pianos 8 hands (four people at two pianos).

The piano ensemble is, on the one hand, a genre or musical medium that stands independently on its own merits, while on the other hand it can be considered chamber music, like string quartet, where the players must be prepared to change roles instantly, from soloist – shaping & projecting melodic lines, to accompanist and back to soloist. Play with different character, and almost limitless possibilities of its own to create a beautiful music.

This is fascinating and ongoing task because music is like a kaleidoscope, constantly changing.  That’s why both verbal conversation in rehearsal and real musical dialogue are essential. A different background, temperament, and preference of each person will bring a colorful musical experience. Certainly, both partners must submerge their egos for the good of the music itself.

The process of merging with another individual in a duo or larger group of musicians, or with an audience, is the essence of communication. This communication is made possible by the silent rhythm that connects everyone. This is what allows for spontaneous magic to lift people into a perfect synchrony where everyone can perform and experience the music as one.

One of the best reasons to play an instrument is to play with others. Not only does it improve your playing. It’s great fun and a great way to make connection with the others in all sorts of ways and locations.

“Never shall I forget the time I spent with you.
Please continue to be my friend, as you will always find me yours”
– Ludwig van Beethoven –


WHY PIANO ENSEMBLES?

Nowadays music lovers often turn to recordings, television, and youtube when they want to enjoy listening at home. In the late 18th & 19th centuries, however, it was both a necessity and a great pleasure to make one's own music at home, often in the form of piano duet. The need for 20 Fingers at the piano, rather than 10 Fingers, was partially due to the desire of music lovers to play piano transcriptions of orchestral pieces, chamber works, and even opera, this being their only way of hearing such music at their own convenience, and finding that two hands were quite inadequate for this task. 

This "reading" of the scores led to a much deeper understanding of the structure and the melodic, harmonic, rhythmic content of the music than the merely passive listening in which we indulge today. The piano ensembles provided the opportunity to hear and study music compositions, and to enjoy a social interaction - making music with a friend, relative, or colleague. The use of the piano ensembles as a means of re-hearing and studying orchestral pieces was only the beginning; the best was yet to come.

Beside the joy that playing together brings, and the recital potential of the young ones (pedagogical use), it also develops musicianship. The ultimate goal for piano ensemble playing is to pay more attention, listen to themselves, others, and hence, to the total sound. "Listening," in this context, compels players to stay together and balance their parts. The art of piano ensembles playing incorporates the many aspects of beautiful, effective solo performance (singing tone, balance, rubato where appropriate, sensitive pedaling, etc.)

PROFILE

Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu.
Music Educator, Lecturer, Music Advisor, and Pianist

Jelia Megawati Heru started learning the piano at the age of 5. She continued learning Classical Piano with different music teachers in Jakarta, such as: Helen Gumanti, BA (USA) and Angelita Chandra, M.Mus. (Belgian).  

In 2001, studied piano with Jongky Goei, Master of Performing Arts, Chairman and Stage Art Manager of Marcia Haydée Ballet in Stuttgart, Germany.  

Then in 2002, she started her study in Music Education for Instrument (Instrumental Pädagogik) at Fachhochschule Osnabrück Konservatorium, Institut für Musikpädagogik – Germany, majoring in Classical Piano with Prof. Ljuba Dimowa-Florian (Hungaria), minor Vocal with Torsten Meyer, Dipl. Mus. (Hochschule für Musik u. Theater Hannover, Germany) and  Jazz Piano with Wolfang Mechsner, Dipl. Mus. (Hochschule Vechta & Münster, Germany).  

During her stay in Germany, besides actively performing and teaching music, Jelia attended many seminars and forum, such as: Forum Musikpädagogik I with Prof. Dr. Hans Günther Sebastian (Frankfurt am Main University); studied Solmisation Technique and Kodàly Technique from Prof. Dr. Malte Heygster (conductor of symphony orchestra Recklinghausen & Bielefeld, head master of Bielefeld music school, chapel master of chamber orchestra Köln and also an author for “Hand Book of Relative Solmisation” – Schott).  

She became an active participant in various chamber music and master class in Germany and other countries, such as: Chamber Music - Prof.  Gerard Chenuet (Nantes, France), Conducting for Ensemble and Choir - Prof. Folker Schramm (UDK, Berlin), Contemporary Music – Prof. Imgard Brockmann (Osnabrück, Germany), Choir Studio, Chamber Choir, Acapella and Arrangement – Prof. Michael Schmoll (Dean of FH. Osnabrück Konservatorium, lecturer, composer and conductor).  

Then she received her Master Degree in Music Education (as Master of Music Education – Dipl. Mus. Pedägogin) in 2005 from FH. Osnabrück Konservatorium with cum laude. In the same year, became an active performer for “Benefit Concert Tour for Aceh” in Hannover, Münster and Braunschweig - Germany.  

In 2006 Jelia went back for good to her homeland Indonesia, was a keynote speaker in Universitas Negeri Jakarta (UNJ, Rawamangun) for Comparison Study of Education System in Indonesia, active as an educator in Deutsche Internationale Schule (DIS – German School, BSD Tangerang) and joined Institut Musik Daya Indonesia since then as lecturer for subjects, such as: Music Education, Music History, History of Music Instruments, Ear Training, Music Theory and Major Piano.  

In 2007, she was a Dean of Institut Musik Daya Indonesia (IMDI) and Faculty of Music Pedagogy & Head of Piano Department. 

In 2008, She's a member of the National Music Ministry of National Education Consortium, which is tasked to develop music education curriculum for music schools in Indonesia. In cooperation with Tjut Nyak Deviana Daudsjah designed and developed Curriculum of National Standarization for Music School in Indonesia (validation by the Federal Government of National Education, known as DEPDIKNAS.  

In 2009, to contribute for the development of music education in Indonesia, she wrote books in cooperation with DEPDIKNAS “Piano Teaching’s Guide: Note-Reading and Piano for Beginner” and “Basic Music Theory (for all Instruments)” as guideline books for general music course in Indonesia. 

Now she is active as a music educator and academic advisor/consultant in various music schools - for updating & upgrading music school curriculum standard, conducting workshops to build & develop music teachers competencies, and conduct teacher’s concert (chamber music and piano ensembles).

Also active as seminator and keynote speaker in various cities in Indonesia - Universitas Negeri Jakarta, Tegal Council of Arts, Sinfonia Music Bandung, First Media Design School of Indonesia, Amazing Music Jogja Festival, and many more... 

Performer in collaboration for music education’s sake, director of piano ensembles projects „Golden Fingers“ She created event that showcased the young teachers that she developed to participated in her music program. The Golden Fingers is not just an usual piano ensembles group, but a pilot project to implement the concept of  “Music from Passion”. Jelia believes that the piano ensemble is not only about playing piano together, but it is an actual effort to liven up the music. “Golden Fingers Piano Ensembles” was invited by the Tegal Council of Arts on March 4th, 2012 at Taman Budaya Tegal, Central Java – as the soft opening for the most representative cultural arena theater of the city with capacity of 1000 seats, professional lighting, and stage. 

Read Golden Fingers Piano Ensembles Reportage
on Kawai Newsletter No. 29, 2012 (distributed all over the world):

William Gillock "Champagne Toccata"
 

Michael Gunadi Widjaja "Medley Indonesian Folksong"
 

Albert Lavignac "Gallop March"

Writer for STACCATO - the first classical music magazine in Indonesia, and her blogs (www.jeliaedu.blogspot.com & www.piano-ensembles.blogspot.com) – to shares thoughts and point of view about actualization & the importance of music education to teachers, practitioners, musicians, music lovers, students, and parents; so people could appreciate music more, feel the enjoyment of music, and get inspired by the power of music… “Music from Passion & Music for Life”  

PROFILE SLIDESHOW (Part 1)

PROFILE SLIDESHOW (Part 2)

more about Jelia Megawati Heru: