Sunday, 6 September 2015

"All about That BASS" - by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, September 2015)

"All about That BASS"
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, September 2015


DEFINISI BASS
Dalam ranah komposisi musik, bass adalah adalah bunyi dengan frekuensi terendah. Bass juga adalah alas atau dasar fondasi bagi bangunan struktur harmoni musik. Di jaman Baroque, fungsi bass terangkum dalam berbagai aturan dan pula figure nya. Maka, ranah Musik Klasik mengena; normatisasi dan figure bass sebagai: Basso Continuo, Basso Concertante dan juga Bass yang norma serta figurnya berpatokan pada karakter suara manusia (pria). Fungsi tersebut sebetulnya berubah sejalan dengan berjalannya peradaban manusia. Orang kemudian mulai mengenal Musik Populer. Dalam ranah ini, fungsi bass ditambah sebagai THESIS PEMBERAT dalam aliran irama. Lalu bagaimana dengan keberadaan bass dalam Musik Jazz?


Wednesday, 2 September 2015

MICROPHONE UNTUK INSTRUMEN AKUSTIK - by: Michael Gunadi Widjaja (Audiopro, Agustus 2015)

"MICROPHONE UNTUK 
INSTRUMEN AKUSTIK"
by: Michael Gunadi Widjaja
Audiopro, August 2015

Sumber: Audiopro, Agustus 2015

Instrumen akustik, seperti gitar klasik dan piano misalnya, memiliki kemampuan untuk memperkaya TIMBRE atau “warna” bunyinya. Perubahan timbre ini bisa dilakukan melalui instrumen itu sendiri. Misalnya perubahan sudut dan titik eksekusi petikan pada dawai gitar klasik nilon. Atau bisa juga dilakukan sehubungan dengan jarak dan posisi microphone. 

Pada saat pertunjukan panggung atau sesi rekaman, penting bagi penata bunyi atau sound engineer untuk memadukan antara image timbre yang dihasilkan instrument tersebut dengan keseluruhan image bunyi hasil reproduksinya. Jadi, sebetulnya sangat dibutuhkan sebuah microphone yang mampu bertindak juga sebagai EQUALIZER tingkat pertama terhadap sumber bunyi. Microphone demikian akan sangat membantu sound engineer dalam melakukan pengaturan balance antara treble, bass, dan middle, juga ketebalan bunyi serta seberapa besar kadar keakustikan yang ingin diekspos. Misalnya geseran jari pada fret gitar atau nuansa bunyi kayu pada piano akustik.

Monday, 3 August 2015

"CLASSIC TO JAZZ" - by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, August 2015)

"CLASSIC TO JAZZ"
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, August 2015


Terlebih dahulu, layak dipertanyakan: 
Dapatkah judul tersebut diubah menjadi JAZZ TO CLASSIC?

MENGAPA TIDAK JAZZ TO CLASSIC?
Begini duduk persoalannya. Di Indonesia, jika misalnya ada orang ingin belajar Jazz, katakanlah piano Jazz, maka yang akan diterimanya adalah segala hal menyangkut DASAR BERMAIN PIANO. Dia harus mengenal posisi bermain yang baik dan benar tanpa dapat menimbulkan cidera dan siksaan fisik lainnya (Silahkan membaca Artikel Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu “Bermain Piano Tanpa Rasa Nyeri” pada Staccato edisi Juli 2015).

Jari-jemari dan tangannya harus disiapkan untuk dapat layak tanggap terhadap geografi alat musik piano. Dia juga harus sedapat mungkin tidak buta huruf alias bisa membaca notasi balok. Lalu dia juga mendapat keterangan tentang unsur-unsur dasar musik. Kemudian dia juga diberikan porsi menu latihan harian agar keterampilan jemari tangan sesuai dengan perkembangan musikalitasnya. Hal – hal seperti itu MUTLAK ADALAH RANAH MUSIK KLASIK. Karena secara adi kodratinya, Musik Klasik lahir dan berkembang jauh sebelum Musik Jazz.

Friday, 3 July 2015

"TENSI DALAM MUSIK JAZZ" - by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, July 2015)

"TENSI DALAM MUSIK JAZZ"
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, July 2015


DEFINISI TENSION (TENSI)
Perkataan “tensi“ bagi kebanyakan orang, selalu dihubungkan dengan istilah TEKANAN DARAH dalam ranah medis. Orang akan kebingungan dan seperti kebakaran jenggot jika tahu bahwa “tensi” nya mendadak naik. Kata “tensi“ juga kerapkali dipertautkan sebagai padanan istilah tegangan. Simak misalnya ungkapan berikut ini: “Wah rapat tadi ‘tensi’ nya tinggi. Semua yang hadir wajahnya berkerut dan cemberut.” Dalam ranah musik pun dikenal istilah TENSI atau TENSION. Pengertian radikalnya tentu tidak sama dengan ranah medis dan ranah keseharian, namun esensi muatannya agaknya bisa menjadi sama.

TENSI DALAM MUSIK JAZZ
Dalam artikel kali ini, kita akan menelisik makna TENSI dalam Musik Jazz. Terlebih dahulu mari kita simak sedikit paparan situasi berikut ini: Salah satu yang menarik – jika memang ada yang tertarik, untuk orang belajar Jazz adalah karena akornya yang “tidak biasa.” Dalam bahasa slang ala musisi, akor dengan karakter seperti itu lazim dicelotehkan sebagai “Akor MIRING.“ Dalam ranah musik teori, karakter akor demikian, diberi istilah sebagai AKOR DISSONAN. 

Tuesday, 30 June 2015

"KONTRIBUSI MIXER DIGITAL PADA PEMENTASAN OUTDOOR" - by: Michael Gunadi (Audiopro, June 2015)

"KONTRIBUSI MIXER DIGITAL 
PADA PEMENTASAN OUTDOOR"
by: Michael Gunadi Widjaja
Audiopro, June 2015 (P. 40-41)

 
 Sumber:

Terlebih dahulu, akan dipaparkan apa saja keperluan utama dan krusial dalam sebuah pementasan outdoor.

Thursday, 4 June 2015

SEKILAS TELISIK PENTATONIK (Bagian Ke-2) - by: Michael Gunadi Widjaja

 "SEKILAS TELISIK PENTATONIK" (Bagian Ke-2)
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, Juni 2015


Kita sudah membicarakan tentang asal muasal adanya tangga nada pentatonik, pada bagian ke-1. Kita juga sudah menelisik tangganada pentatonik MAYOR. Dalam bagian ke-2 ini akan dibicarakan secara agak lebih khusus tentang TANGGANADA PENTATONIK MINOR. Pentatonik Minor saya anggap cukup signifikan dan relevan dibicarakan secara khusus, mengingat pertaliannya yang sangat erat dengan Tangganada BLUES, yang adalah salah satu cikal bakal aplikasi tangganada dan modus tangganada dalam Musik Jazz Modern.

RELASI TANGGANADA MAYOR PENTATONIK & MINOR PENTATONIK
Dalam ranah musik teori, sering dinyatakan bahwa TANGGANADA MINOR PENTATONIK ADALAH MODUS DARI TANGGANADA MAYOR PENTATONIK. Apa maksudnya??? Yakni bahwa baik minor maupun Mayor Pentatonik, keduanya memiliki KANDUNGAN NADA-NADA YANG SAMA. yang berbeda adalah POROSNYA. Sehingga, meski nada-nadanya sama, namun jika porosnya berbeda, akan menghasilkan nuansa atau impresi atau rasa atau kesan musikal yang jelas sekali berbeda.

Sunday, 3 May 2015

"SEKILAS TELISIK PENTATONIK" - by: Michael Gunadi Widjaja (Staccato, Mei 2015)

"SEKILAS TELISIK PENTATONIK" (Bagian I)
by: Michael Gunadi Widjaja
Staccato, Mei 2015


MODUS DALAM MUSIK JAZZ
Dalam dua edisi, sudah dijabarkan tentang MODUS. Pengertian Modus tersebut sekaligus memberi makna baru pada lanskap tentang Musik Jazz. Jazz tidak lagi dan tidak hanya dipandang sebagai musik dengan tonalitas atau poros nada tertentu. Melainkan, dalam Jazz, semua nada dalam sebuah tangganada dapat menjadi poros tangganada baru. Dengan kata lain, Jazz bukan Musik Tonal semata, melainkan juga sebuah alur komposisi musik MODAL. 

Sudah dijabarkan juga aplikasi tangganada Modal atau Modes sebagai materi dalam komposisi dan terutama dalam improvisasi Jazz. Yang dalam esensinya mengedepankan pentingnya tangganada sebagai sebuah bahan pokok untuk membangun alur harmoni dan sebagai materi "bahasa" saat “berdialog" dalam sesi improvisasi. Selain modes atau modus tangganada yang asalnya dari Yunani, ranah Jazz mengenal pula TANGGANADA PENTATONIK. Berikut kita akan menelisik selayang pandang agar setidaknya dapat ditangkap secercah pengetahuan untuk makin lengkapnya materi improvisasi Anda.