Saturday, 23 June 2012

Komposisi Musik "Sebuah Pengantar Populer"

KOMPOSISI MUSIK
“SEBUAH PENGANTAR POPULER”
Oleh: Michael Gunadi Widjaja
(Komposer dan Pekerja Musik)

Artikel STACCATO edisi Mei 2012 


  

Terlebih dahulu perlu diberikan catatan tentang artikel ini. Artikel ini sama sekali bukan telaah ilmiah tentang komposisi musik. Artikel ini semata adalah sebuah pengantar tentang pemaknaan dan lingkup komposisi musik, dalam gaya populer.

Ada sebuah dialog demikian:
A          : “Mbak kuliah di jurusan apa ?”
B          : “Fakultas Seni Pertunjukan Mas……musik..”
A          : “ Mau jadi pemain piano ya, Mbak ?”
B          : “Oooo ndak, Mas…saya di jurusan komposisi “
A          : “Komposisi ???!!!! ….Waaaahhh…mau jadi pengarang lagu ya, Mbak?”

Kebanyakan orang pada lazimnya senantiasa memaknai komposisi (musik) melulu hanya sebagai bidang studi yang menjadikan orang mampu dan piawai mengarang lagu. Mengarang dan bukan mencipta. Karena untuk dapat disebut mencipta, seseorang harus berkreasi dengan material yang seratus persen baru dan belum pernah ada. ST 12, bagi Saya adalah pengarang lagu, karena materi lagunya berasal dari sistem tonal diatonis yang memang sudah ada. Berbeda dengan Arnold Schoenberg misalnya. Schoenberg adalah pencipta, karena materi musiknya berasal dari sistem Duodekatonik hasil penemuannya.

Komposisi memang terkait dengan urusan karang-mengarang lagu dan musik. Namun intisari dari beberapa kamus musik terkemuka, memberi batasan pengertian, bahwa kata “komposisi musik” merujuk pada: karya musik yang original. Telaah struktur karya musik dan proses kreasi musikal. Orang yang melakukan kegiatan komposisi musik diberi sebutan composer atau komponis.

Hasil komposisi musik dapat bersifat literer. Dalam arti tersaji secara tertulis. Bisa juga dalam bentuk ingatan. Sifat sajian komposisi musik ini bergantung pada bentuk dan perkembangan budaya manusia. Musik Klasik misalnya, hampir selalu tersaji secara literer, karena komposer musik klasik selalu memulai proses kreasinya dengan meng-konsep terlebih dahulu ide musikalnya. Berbeda dengan gendhing misalnya atau RAGA India. Komposisi gendhing sejati senantiasa dilakukan secara komunal dan kesesaatan atau real time. Lalu bagaimana dengan yang disebut sebagai gendhing karya Ki Nartosabdo? Tentu gendhing Ki Nartosabdo tidak dikerjakan rame-rame atau komunal. Bentuk demikian disebut sebagai gendhing kreasi.


Komposisi musik bukanlah sebuah bidang telaah dan studi yang mandiri. Kehadirannya senantiasa ditopang oleh bidang studi yang lain, diantaranya:

  • Ilmu Harmoni (Harmony)
Agar orang yang akan mempelajari komposisi memahami betul normatif kepatutan dan kelayakan dalam budaya manusia tentang rasa bunyi yang selaras.

  • Ilmu Bentuk dan Analisa (Form Analysis)
Untuk dapat dijadikan dasar telaah rasional terhadap materi musikal.

  • Sejarah musik (History of Music)
Untuk landasan pijak tentang perkembangan hal-hal yang telah dicapai manusia, dalam rangka menghadirkan sebuah bentuk nilai estetis seni bunyi.


Selain itu, terdapat pula pengetahuan tentang teknis komposisi. Yang paling popular adalah counterpoint atau kontrapunkt. Teknik ini berasal dari beberapa abad yang lampau. Namun sampai hari ini masih tetap dijadikan teknik utama dalam mengkomposisi musik. Dalam kontrapunkt inilah bunyi dianggap sebagai organum hidup. Yang memiliki alur, karakteristik, kecenderungan, dan sifat-sifat layaknya sebuah organisme hidup.

Komposisi musik bukan sekedar upaya penambahan repertoire. Komposisi musik adalah cerminan perjalanan budaya manusia. Perjalanan budaya dalam mengolah rasa. Untuk memaknai keselarasan bunyi. Dalam bentuknya, komposisi dapat sangat kompleks, ruwet dan njlimet. Namun bisa juga komposisi hadir sebagai aransemen yang sederhana. Memperkaya sebuah progresi akor pun sudah merupakan sebuah komposisi. Improvisasi pun termasuk komposisi. Karena pada hakekatnya, improvisasi merupakan kegiatan merangkai materi musikal, hanya saja dilakukan dengan spontan.

Sering timbul sebuah persepsi unik di masyarakat. Seperti misalnya anggapan demikian: Waaah..untuk apa susah susah belajar di jurusan komposisi.Tuh si Anu… lulusan SMP doang,jrang jreng gitar… jadi deh lagu…… Dan… dia rekaman trus bisa beli rumah dan Innova lho. Lha yang lulusan sekolah tinggi musik jurusan komposisi… aduh cing, mo kredit motor aja susah…

Persepsi demikian tidak seratus persen salah, namun tentu tidak seratus persen betul. Dalam batas tertentu, misalnya sebagai ungkapan protes sosial, orang yang memiliki naluri bermusik yang tajam bisa saja menjadi composer ‘dadakan’. Hanya saja, harus tetap diingat bahwa musik memiliki dimensi yang sangat luas. Musik adalah pengejawantahan karsa dalam karya yang tidak hanya mengusung masalah cinta dan protes sosial. Musik bisa melantunkan filsafat, terkadang musik bisa menyanyikan derita tanpa harus menjadi ‘cengeng’ dan.. musik juga bisa menjadi sangat sexy, bahkan erotis. Nah, jika urusannya sudah sampai dalam tahap ini, mau tidak mau orang harus mengenyam sebuah proses edukasi dalam berkomposisi.


Komposisi musik seni, di Indonesia, belum dapat dikatakan menyejukkan. Banyak komposer handal yang lebih memilih berkiprah di komunitas manca negara. Nampaknya perlu sebuah pembudayaan untuk memberi porsi pada karya komposer lokal. Faktor lain adalah masih sulitnya mencari penerbit yang mau menerbitkan komposisi musik seni dari komposer dalam negeri. Sudah waktunya negeri ini menghidupkan sebuah asosiasi bagi para komposer Indonesia, agar komposisi yang bernuansa lokal dapat menggalang keterpaduan dalam bidang yang lain, seperti layaknya music education dan kelompok-kelompok penampil musik seni lainnya.

Mengenal komposisi musik dapat dikatakan adalah menelusuri napak tilas peradaban manusia, yang selalu mengembangkan persepsi auditifnya tentang apa yang dimaknai sebagai keselarasan bunyi, dan muara akhirnya adalah bahwa Sang Pencipta sungguh telah mengaruniakan berjuta makna dan misteri tentang bunyi.

"JUST JAZZ"

“JUST JAZZ”
Oleh: Michael Gunadi Widjaja
(Komposer dan Pekerja Musik)

Artikel Majalah STACCATO edisi Maret 2012



 

Judul artikel di atas adalah sebuah judul yang ONOMATOPOETIC. Susunan kata yang terasosiasi dengan sebuah bunyi. Sama halnya dengan istilah Dang Dut yang terasosiasi dengan bunyi kendang. Istilah JUST JAZZ adalah trademark dari mendiang Jack Lesmana. Dan dipadankan ke dalam bahasa Indonesia menjadi JAZZ SAJA. Dalam blantika Jazz, istilah atau nomenclature teknis tidaklah begitu signifikan untuk dibicarakan, karena Jazz bersifat sangat individual. Barangkali hal itulah yang merupakan filosofi terselubung dari istilah “just jazz” oleh Jack Lesmana, si macan Jazz Indonesia.

Sedemikian individualnya Jazz, hingga ada ungkapan bahwa: “JAZZ TIDAK AKAN PERNAH DAPAT DIMENGERTI NAMUN SELALU DAPAT DINIKMATI” Maka ketika ada kursus musik atau instruktur musik yang memberikan pelajaran tentang PIANO JAZZ misalnya, saya menjadi agak bingung. Macam apakah materi kursusnya? Beberapa orang “pengajar” Jazz yang saya temui, memaparkan bahwa kursus piano Jazz terdiri dari: teknik menyusun chord, ritmik sinkopasi, cara ber-improvisasi, disamping teknik fingering untuk meningkatkan keterampilan jari. Jika demikian materinya, apa bedanya dengan pelajaran piano pada umumnya? Mengapa harus ada claim bahwa “ini” pelajaran Piano Jazz?


Jazz memang memiliki ragam harmoni tersendiri, termasuk karakter harmoni dan progresinya yang memang bisa sangat progresif. Para musikolog seperti DR. Hugo Riemann dalam Jazz Harmonielehre, memang menjelaskan dengan panjang, lebar, luas, dan dalam - seputar harmoni Jazz. Namun, jangan dikira bahwa jika seseorang bisa membunyikan progresi chord disonan dengan Major 7th, half diminished, #13, altered, kemudian bisa mengklaim bahwa dirinya sedang bermain Jazz.

Harmoni - dalam hal ini chord yang disonan (orang awam menyebutnya “akor miring”) bukan monopoli Jazz. Musik klasik abad ke-20 banyak memakai harmoni semacam ini.

Syncopation atau pola irama yang sinkopatik, memang adalah elemen utama dalam Jazz. Tetapi memainkan lagu BURUNG KAKATUA dengan gaya sinkop, belumlah dapat dikatakan bermain Jazz. Musik Bela Bartok penuh sinkopasi, namun musik Bela Bartok sangat tidak Jazz.

Adalah benar bahwa improvisasi adalah jiwa musik Jazz. Pertanyaannya, apakah jika seseorang bisa merangkai melodi dalam koridor progresi harmoni tertentu, lalu bisa dikatakan dia bermain Jazz atau “Jazzy”? Improvisasi memang jiwa musisi Jazz, namun bukanlah monopoli musik Jazz. Musik JS. Bach sarat dengan improvisasi, Sonata WA.Mozart juga sangat memungkinkan adanya improvisasi, dalam bentuk Cadenza* misalnya. (*Cadenza merupakan bagian akhir dalam babak karya musik, dimana solis diberi kesempatan untuk menunjukkan kepiawaian tekniknya).

  

Mudah-mudahan sampai disini kita tidak menjadi sakit kepala ya..hehehehe…lanjuuut ya… Jadi dengan demikian, apa yang membuat seseorang dikatakan bermain Jazz? Jawabannya adalah: RASA JAZZ! The Touch of Jazz. Rasa Jazz ini TIDAK PERNAH DAPAT DIAJARKAN NAMUN SELALU DAPAT DILATIH. Kok bisa begitu sih? Ya bisalah! Karena Jazz secara prinsipiil idiomatik terjadi saat para budak kulit hitam dengan tergagap gagap namun dengan musikalitas tinggi, mencoba memainkan musik klasik yang dimainkan majikannya. Dengan demikian, bicara Jazz adalah bicara rasa, bukan bicara tentang presisi keteraturan yang baku. Di konservatori musik, departemen Jazz selalu menyajikan kurikulum dan metode sebagaimana lazimnya general music education. Barulah diperdalam dengan mendengar…mendengar...mendengar...dan bermain ensembel.

Lalu kira-kira apa yang harus dilakukan, jika seseorang ingin bermain Jazz yang Jazz? Hal pertama adalah, dia harus sudah terlepas dari semua hambatan teknis bermain instrumennya. Dia harus memiliki teknik yang baik dan benar dalam instrumennya. Untuk itu, petunjuk dari music educator seperti Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu sangat perlu untuk diindahkan dan diterapkan. Juga pengetahuan harmoni dasar, dan tentu saja perbanyak mendengarkan repertoire Jazz.

Untuk sebagian orang dengan pola budaya tertentu, Jazz bisa jadi sebuah ungkapan yang sangat natural. Untuk sebagian yang lain, Jazz adalah sebuah discipline applied musical field. Namun apapun itu…ahh…let’s JUST JAZZ!!!

Napak Tilas Musik Jazz


NAPAK TILAS MUSIK JAZZ
Oleh: Michael Gunadi Widjaya
(Artikel majalah STACCATO edisi Juni 2012)


Musik Jazz pada awalnya bukanlah sebuah musik yang popular, namun dalam perkembangannya, Musik Jazz mampu mengepakkan sayap dan menghembuskan pengaruhnya pada berbagai genre musik, tak terkecuali Musik Populer. Konsekuensi dari merebaknya pengaruh Jazz dalam berbagai genre musik adalah bahwa Jazz itu sendiri menerima banyak masukan elemen dari genre musik lainnya. Inilah yang membuat sulit dan agak repot memindai ciri utama Jazz dalam ranah musikal di era sekarang ini.

Istilah JAZZ sendiri lahir belakangan setelah Blues lebih dahulu populer. Blues menjadi populer karena meneriakkan sebuah pemberontakan; Pemberontakan yang tetap berbalut nuansa estetis yang tidak chaostic. Kepopuleran Blues melahirkan sebuah pemberontakan yang lebih radikal dalam batasan pendobrakan normatif golongan kulit putih, termasuk kemapanan normatif dalam musik orang kulit putih saat itu, yakni Musik Klasik, Pendobrakan kemapanan ini dilakukan dengan menyemburatkan aura jiwa yang ingin bebas, yakni IMPROVISASI dan inilah jiwa dan kesejatian dari Jazz.

Mungkin akan menarik jika sekilas menelisik napak tilas Musik Jazz. Untuk sejenak mencecap makna akan jenis musik yang merupakan bagian sublim dari eksistensi hakekat manusia. Jazz yang identik dengan bebas bertanggung jawab.



RAGTIME

Perkembangan Jazz diawali dengan era Ragtime. Banyak kritikus yang berujar bahwa era Ragtime adalah sebuah era saat kaum kulit hitam mencoba memainkan instrumen musik orang kulit putih, tanpa kenal aturan normatif musikalnya. Dengan kata lain, Ragtime adalah musik putih yang dimainkan dengan rasa hitam. Banyak pula musikolog yang menyebut era Ragtime ini dengan istilah “The Golden Age of Straight Piano” - Piano solo tanpa pengiring dengan norma musikal baru. Legenda dari era ini adalah Scott Joplin dengan master piecenya “The Entertainer.”


DIXIELAND

Dixieland merupakan era terpenting dalam perkembangan musik Jazz. Dalam era inilah Jazz mulai mendapat bentuk yang sedikit makmur. Mulai dipergunakan alat tiup. Orang kulit putih pun mulai tertarik memainkan musik Jazz. Meski istilah Jazz sendiri belum dikenal. Pusat dari sinkretisme budaya tersebut terjadi di kota New Orleans. Saat itu dikenal Jazz rasa putih dan Jazz rasa hitam. Jazz rasa putih masih kental dibumbui kepatuhan normatif dari Musik Klasik. Perkataan Dixieland itu sendiri merujuk pada istilah bagi Jazz rasa putih.

Istilah Jazz muncul pertama kali dalam koran San Francisco Buletin terbitan 6 Maret 1913. Saat itu Jazz ditulis sebagai “Jass” dengan dua s. Istilah Jazz seperti kita kenal sekarang barulah muncul pada 5 Agustus 1917 dalam harian The New York Sun.

Ada sebuah fenomena dalam era Dixieland ini.Yakni kiprah sang legenda Jazz, Louis Armstrong. Hit nya adalah “Hello Dolly” yang diadaptasi dari sandiwara panggung karya Jerry Herman.



SWING

Setelah melewati satu dekade timbulah era Swing. Ciri era ini adalah dipergunakannya metrum 4/4 sebagai sajian forma utuh setelah dalam era sebelumya didominasi metrum 2/4. Era Swing adalah sebuah era penting dalam napak tilas perkembangan musik Jazz. Dalam era Swing inilah musik Jazz untuk pertama kalinya diorkestrasi. Duke Ellington adalah pengukir sejarah dalam fenomena ini. Masterpiece adalah Take The “A” Train. Duke Ellington termasuk komposer yang sangat produktif. Dalam segala suasana dia bisa mengkomposisi, termasuk saat di WC. And it’s true! Kadang sketsa tematiknya disketsa dengan toilet paper.

Swing dengan orkestrasinya kemudian menjadi pakem, menjadi patokan akan rasa Jazz yang dikenal dan dipegang teguh hingga detik ini. Orang kemudian mengapresiasi beberapa stillo atau gaya dalam era ini. Ada yang menyebut Bluesy Swing, Classic Swing, Popular Swing, bahkan diklaim sebagai Mainstream Jazz. It’s ok dan sah-sah saja meski agak membuat kepala pusing ya...



BEBOP

Sifat kebebasan dalam era Swing mulai mendapat ranah yang lebih spesifik dalam era Bebop. Meski terdengar saling berkejaran dan tiap instrumen seolah berimprovisasi mandiri, sebetulnya kerangka improvisasi dalam Bebop sangatlah ketat. Di era ini Big Band pun mulai bermunculan. Yang paling fenomenal adalah big band pimpinan dari Glenn Miller yang kemudian berkembang menjadi orkes Jazz. Saat membicarakan tentang Bebop, orang tidak akan pernah lupa pada Charlie Parker dan Dizzie Gillespie dengan terompet berbentuk tanduk rusa nya.


COOL JAZZ

Kecemerlangan Swing dan Bebop pada akhirnya memudar. Saat jaman keemasan kedua aliran utama Jazz itu surut, timbulah aliran Cool Jazz. Berciri cool, halus, dan tenang. Cool Jazz banyak melahirkan legenda Jazz yang dikenang hingga sekarang. Miles Davis - sang legenda Jazz sepanjang masa, John Lewis, dan Tedd Dameron. Miles Davis meski berasal dari era Cool Jazz, Pengaruhnya mengimbas sampai pada Jazz Modern, terutama frase trumpetnya yang hemat nada namun sangat efektif. Juga penampilan Miles Davis yang dingin dan cuek menjadi kegemaran banyak pemusik Jazz


HARD BOP

Era ini dimulai saat Quincy Jones yang waktu itu masih belia, memainkan Bebop dengan gaya yang lebih modern - yakni mengorkestrasi Bebop dengan disiplin musik Klasik Eropa. Selain disiplin musik klasik Eropa juga dihembuskan sesuatu yang berbeda - dalam arti nyaris mendahului eranya. Fenomena ini dipelopori Modern Jazz Quartet yang merupakan Quartet Jazz paling melegenda. Disiplin musik Klasik dan elemen elemen kontemporer pada saat itu menarik juga aliran musik Avant garde. Bersama sama kemudian timbullah era Free Jazz.


FREE JAZZ

Dikatakan Free Jazz karena dalam era ini banyak pengaruh musik tradisi dari banyak negara bahkan banyak benua. Take Five” oleh Dave Brubeck. Dengan materi garapan metrum 5/4 yang merupakan pengaruh musik India. “Desafinado” oleh Stan Getz (saxophone) dan Charlie Byrd (guitar) yang adalah reinkarnasi musik tradisional Brazil. Lagu “Exodus” dari Eddie Harris yang adalah sebuah bentuk lain dari musik R’n B. Kemudian ada juga pengaruh musik Timur Tengah, seperti yang dibawakan oleh John Coltrane dan Yusuf Latief.

Tahun-tahun kejayaan Free Jazz mencapai puncaknya pada sebuah festival “Jazz Meets World” atau Jazz menyapa dunia di Berlin bagian barat pada tahun 1967. Indonesia mengikuti festival tersebut diwakili oleh Indonesian All Stars yang beranggotakan: Bubi Chen, Jack Lesmana, Yopie Chen, Benny Mustafa, Maryono dan seorang klarinetis tamu Tony Scott (USA).


FUSION

Perbedaan Fusion dengan Free Jazz bisa diilustrasikan demikian: Free Jazz adalah Jazz yang menerima elemen genre musik lain, sedangkan FusionJjazz, elemen genre musik lain tersebut bukan hanya mempengaruhi melainkan berdifusi atau melebur. Jadi dapat dikatakan bahwa Fusion adalah sebuah genre original tersendiri dalam napak tilas musik Jazz.

Orang sering mengatakan bahwa Fusion bukanlah Jazz karena elemen-elemen yang terdapat pada era Mainstream teutama era Swing, menjadi pudar akibat fusi dari elemen genre musik lain. Sebetulnya idiomatik dan tata gramatik Jazz tetap dipertahankan dalam musik Fusion Jazz. Dan jiwa Jazz yakni improvisasi, dalam Fusion Jazz malahan tampil lebih kental. Hanya saja corak atau tipikal improvisasinya yang tak lagi mempergunakan kerangka improvisasi era Swing.

Secara esensial dapatlah dikatakan bahwa konsep musikal Jazz Fusion adalah:  Jazz + Rock + Rhythm & Blues + elemen genre musik outside Jazz.

Para macan Jazz yang kita kenal sekarang lebih sering mengusung Fusion Jazz, meskipun pendekatan musikal tetap saja memakai pakem Jazz yang baku. Mereka adalah Chick Corea, Dave Grusin dan terutama pianis yang sangat ekspresif Keith Jarrett.

Friday, 22 June 2012

"Home Sweet Home for Jazz"


“HOME SWEET HOME FOR JAZZ”
Oleh: Michael Gunadi Widjaja
(Komposer & Pekerja Musik)

Artikel Majalah STACCATO, edisi April 2012




JAVA JAZZ 2012 baru saja selesai berlangsung. Sebuah perhelatan akbar para insan Jazz international, di tengah hiruk pikuknya aneka produk musik industri.Yang menarik dalam Java Jazz 2012 ini adalah adanya tagline sebagai berikut: “WHERE JAZZ FINDS A HOME”. Tagline ini menjadi menarik karena setidaknya dapat memberitahukan pada kita tentang peta kesemestaan perkembangan musik Jazz di dunia dan tanah air. Sekaligus mencari gagasan baru tentang apa dan bagaimana kontribusi musik Jazz bagi tatanan kehidupan sosial masyarakat di masa mendatang. 


“WHERE JAZZ FINDS A HOME”. Kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai: Kala Jazz mendapatkan rumahnya. Rumah - sebuah ruang kehidupan yang semestinya menyenangkan dan menentramkan serta memungkinkan tiap penghuninya untuk memperkembangkan potensi dirinya. Pertanyaannya adalah, apakah diluar perhelatan semacam Java Jazz, Jazz telah mendapatkan rumahnya? 

Dalam realitanya, di tanah air, Jazz jelas kalah pamor dibanding musik industri seperti Pop dan Dangdut. Jazz juga seolah tercerabut dari ranahnya jika harus berhadapan dengan elitisme dan elegannya musik Klasik dan komunitasnya. Upaya penyebarluasan musik Jazz juga masih terpasung pada hal-hal klise, seperti siaran di radio. Komunitas Jazz memang nampaknya tumbuh dan berkembang. Hanya saja komunitas-komunitas tersebut masih terbata-bata untuk dapat membangun sebuah rumah untuk Jazz. Hambatannya seringkali macam-macam. Namun prinsipnya adalah belum adanya jalinan kesehatian antara komunitas penggemar Jazz dan para pebisnis yang notabene adalah motor penggerak event di lapangan. Jika demikian nampaknya memang mulai perlu dirintis sebuah upaya. Upaya untuk membangun sebuah rumah untuk musik Jazz. Agar Jazz dapat lebih lantang berbicara dan lebih nyata kontribusinya bagi tatanan sosial masyarakat. 


 

Musik Jazz adalah bagian yang sublim dari sebuah pernyataan ketertindasan. Saat budak kulit hitam saat itu ingin agar jeritan hidupnya didengar. Menggumuli Jazz semestinya membawa kita pada satu tingkat kepedulian. Kepedulian akan ketertindasan sesama dalam beragam bentuknya dan ketertindasan semacam inilah yang telah menyemburatkan sebuah pemaknaan estetik baru dalam ranah musik, yakni Jazz. 

Musik Jazz juga dikenal kenyal terhadap berbagai bentuk dan genre musik. Semenjak era Free Jazz dan Fusion, kekenyalan ini semakin nyata dan mengejawantah. Miles Davis dengan metrum adiktif dari musik tradisional Afrika. Jazz Afro Cuban, Chick Corea dengan konsep harmoni baru yang memperkawinkan musik tradisi ala Spanyol, hingga Indonesia All Star yang mengusung Gamelan Janger Bali di tahun 60-an dan kelompok semacam Krakatau dengan eksplorasi etniknya. Mereka sepertinya ingin berujar. bahwa Jazz adalah sebuah musik yang kenyal, supel, dan ramah hingga hampir tak ada kesenjangan komunikasi dengan unsur budaya yang lain. Memberikan rumah bagi musik Jazz sama maknanya dengan mengangkat harkat persamaan dalam komunikasi antar ragam budaya. Dan bukankah tanah air kita memiliki budaya yang sungguh sangat majemuk? 

Jiwa Jazz adalah improvisasi. Pengembangan dari improvisasi nampak dalam apa yang dikenal sebagai jam session. Jam session bukan semata unjuk kebolehan individual, melainkan sebuah wujud nyata komunikasi bathin yang sangat sublim dengan media bunyi. Jam session yang improvisatoris adalah sebuah bentuk dialog budaya, dialog bathin antar individu dalam sebuah kerangka estetis. Bukankah di zaman sekarang ini kita merasa bahwa ruang dialog sudah semakin terkikis dan yang ada hanyalah dialog semu dan kepura-puraan belaka?

Ruang dialog menjadi esensial saat kita berada dalam sebuah realita sosial. Dalam pranata tatanan sosial yang pluralis dan majemuk, sebagaimana tanah air kita. Penting untuk tetap mengupayakan kesetaraan diantara pluralitas, agar setiap elemen dalam masyarakat dapat setara sehingga suara nuraninya dapat terdengar jelas oleh komunitas lainnya. Dan Jazz adalah wahana yang sangat pas untuk ruang dialog semacam itu. 

Kita tentu belum lupa ketika Dave Brubeck mengkomposisi “TAKE FIVE” - Sebuah piece dengan metrum 5/4 yang sangat tidak lazim. Metrum 5/4 tersebut berasal dari konsep RAGA pada musik India klasik. Melalui Take Five ini, Dave Brubeck mampu mengangkat khasanah musik India klasik menuju pentas dunia. Agar musik tradisi mampu menyuarakan nuraninya dan dunia mendengar serta menghargai kesetaraan wujud budaya. 

Sama halnya ketika Stan Getz mengusung “DESAFINADO” dalam Bossanova.Ada ruang terbuka.Untuk sebuah dialog budaya. Musik folkloric dari Brasil ini seolah mendapat “baju baru” dalam balutan Bossanova. Stan Getz menimpali dengan gaya improvisasi yang cool, dingin dan menyejukkan. Semburat maknanya adalah, bahwa rumah untuk Jazz identik dengan sebuah kesejukan bathiniah. 

Dunia pun mengenal lagu “WATERMELON MAN” karya Herbie Hancock yang dipopulerkan oleh Mango Santamaria. Esensi stilo atau gayanya adalah sebuah pembauran budaya - dua budaya musik rakyat, yakni: musik rakyat Afrika dan musik rakyat Cuba di Amerika Selatan. Forma seperti ini kemudian dikenal sebagai JAZZ AFRO CUBAN. Yang dapat kita permenungkan adalah, dua budaya - jika terpadu dalam ruang kesetaraan dalam suasana dialogis akan melahirkan sebuah entensitas budaya baru yang tentunya akan menjadi sangat estetis dan artistik, sebagai perwujudan pengembaraan rasa manusia akan seni bunyi. 

Seorang Eddie Harris mengarang lagu “The Exodus” - sebuah nomor Jazz R ’n B. Di kemudian hari Jazz R ‘n B akan mempengaruhi munculnya Fusion Jazz.Yang menarik disini adalah The Exodus sebagai sebuah komposisi Jazz, meneriakkan keinginan untuk “MERDEKA!” - sebuah teriakan akan kebebasan yang bermartabat dan teriakan tersebut dilantunkan dengan indah tanpa bersifat gembar-gembor dan merusak. Andai Jazz mendapatkan rumahnya, tentu semburat hal semacam ini akan turut mewarnai keluhuran budi manusia. 

Di belahan dunia yang lain ada tokoh semacam John Coltrane dan Yusuf Lateef. Mereka melakukan dialog antara esensi kebebasan kaum kulit hitam dan musik Timur Tengah. Musik Timur Tengah yang kental muatan religi, melalui ruang dialogis, mampu pula untuk menyuarakan hakekat di seputar realita sosial. 

Yang menjadi masalah sekarang adalah apa dan bagaimana upaya konkret untuk mewujudkan rumah bagi musik Jazz. A home yang bukan sekedar house bagi musik Jazz. Tentu upaya ini adalah upaya jangka panjang yang lama berbelit, butuh intensitas dan malahan mungkin tak pernah terwujud, terlebih untuk keadaan seperti di tanah air kita ini. Namun setidaknya kita diingatkan akan beberapa hal, yakni bahwa masih ada genre musik yakni Jazz yang dapat menyemburatkan nilai-nilai kemasyarakatan yang banyak mudharatnya. Nampaknya ada baiknya jika sesekali kita, yang mungkin masih asing dengan musik Jazz, menyempatkan diri untuk sekedar mendengar. Mendengar dan dengan niat tulus serta keterbukaan hati berupaya menguak makna, sekecil apapun yang bisa kita tangkap. Bukankah sebuah budaya akan tersublimasi menjadi kebudayaan jika insan komunitasnya melakukan pemaknaan yang tiada hentinya?

So, let’s build a home for Jazz, not a house but a real home sweet home for Jazz! Agar elemen kesejatian manusia kita sebagai bangsa juga dapat turut tinggal dengan sejahtera dalam rumah tersebut.

Sunday, 25 December 2011

MENGENAL EDISI URTEXT


Salah satu cirri yang melekat pada musik klasik adalah,bahwa musik klasik hadir sebagai sebuah budaya yang bersifat LITERER.Artinya,senantiasa dibutuhkan catatan tertulis bagi kehadiran musik klasik.Dengan demikian keberadaan musik klasik tak dapat dilepaskan dari keberadaan score musikal.Dan score musikal senantiasa hadir dalam bentuk tertentu.Bentuk inilah yang mempengaruhi jenis serta keunggulan dan sekaligus kelemahan score musikal sebagai sebuah materi literer.

Pada umumnya,score musikal hadir dalam bentuk :
  • Manuskrip asli dari komposernya.Hal ini banyak dialami di jaman sekarang.Terutama bagi karya musik yang bersifat pesanan.Tidak selamanya si composer menghadirkan score nya dengan tulisan tangan,Software music writer seperti Sibelius dan Music Publisher seringkali dipergunakan.Karena hasil tampilannya kerap kali lebih mudah dibaca dibandingkan tulisan tangan langsung si composer
  • Facsimile Edition.Jenis ini adalah sebuah cetakan dari manuskrip asli.jadi semacam copy foto dari tulisan tangan si composer.
  • Urtext Edition (Ur : Jerman :Original).Edisi ini merupakan pokok pembahasan kita.Dikarenakan banyak pernik-pernik di seputar urtext edition yang layak ditatap tajami sekaligus dapat memberi masukan pemahaman bagi kita di seputar budaya literer dalam musik klasik.

Secara definitive,urtext edition dimaknai sebagai : is a printed version intended to reproduce the original intention of the composer as exactly as possible, without any added or changed material.Jika kita cermati batasan makna tersebut,nampak bahwa perhatian utama dalam urtext adalah reproduksi dari elemen esensial dari focus si composer.Bukan semata tulisan tangan yang dicetak.

Dalam perjalanan sejarah musik klasik,banyak hal-hal penting terjadi di seputar penerbitan edisi urtext.Sumber utama edisi urtext adalah autograph atau tulisan asli dari si composer.namun tak selamanya seorang composer dapat menulis dengan “baik”.Beethoven misalnya.Beethoven dikenal memiliki tulisan tangan yang sangat buruk bagi komposisinya.Itulah sebabnya,edisi pertama urtext senantiasa diikuti dengan REVISED URTEXT.Edisi yang terrevisi.Ada beberapa edisi revisi urtext yang sempat dikoreksi langsung oleh si komposernya.

Edisi urtext hadir dengan harga yang relative mahal.Hal ini dikarenakan kerumitan persiapan edisi urtext.Disamping juga banyak problematika yang menyertai pembuatan edisi urtext.

Sebuah urtext edition senantiasa dihadapkan pada tantangan : menghadirkan fakta musical se asli mungkin,sekaligus tetap mengingat hal kebebasan pemusik untuk dapat menginterpretasi.Disamping itu bentuk seperti Rondo dan Sonata acapkali menimbulkan problematika tersendiri.Pada Sonata dan Rondo banyak frase yang diulang dan di tempatkan dalam lokus terpisah.Si composer dalam tulisan tangannya sering tidak jelas menempatkan marka marka dinamika.Apakah frase sama di lain bagian juga berdinamika sama pula??..ini seringkali tak jelas.Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan kajian dan telaah dari musikolog yang sangat ahli.

Fenomena tersebut menjadikan edisi urtext terkadang menyisakan sebuah ironi.Seperti dicatat dalam leksikon Webster :
The great majority of editions labelled 'Urtext' make many more changes than their editors admit. Publishers are partly to blame; they are afraid of doing anything that might seem unfamiliar or off-putting to any potential market. Indeed they want to have the best of both worlds; for example, the Neue Mozart Ausgabe claims to offer 'an unexceptionable text from the scholarly viewpoint, which at the same time takes the needs of musical practice into account.' Whether this is a pious hope or frankly based on self-interest, the fact remains that one can't serve two masters

Terlepas dari segala kontroversi yang masih saja menyertainya,edisi urtext merupakan upaya yang senantiasa patut di apresiasi.Karna bagaimanapun juga urtext edition adalah puncak kulminasi upaya dalam tetap mempertahankan musik klasik sebagai pengejawantahan budaya literer.


Thursday, 8 December 2011

Sight Reading bagi Pemain Gitar Klasik – Sebuah Pengantar


Pengertian sight reading menurut HARVARD DICTIONARY OF MUSIC : The performance of a piece of music on seeing it for the first time

Jika kita perhatikan rumusan kamus musik Harvard tersebut,sight reading bukanlah sekedar membaca partitura dengan seketika.Tetapi sudah pada takaran performance.Menampilkan seutuhnya apa yang tekstual.Dan bagi pemain gitar,ada beberapa hal yang menjadikan sight reading layak untuk mendapat perhatian lebih seksama.

Berbeda dengan piano misalnya.Gitar dalam sejarah perkembangannya sempat dianggap sebagai piranti musical yang inferior.Barulah setelah rintisan Fransisco Tarrega dan pendobrakan oleh Andres Segovia,gitar mendapatkan pamornya.Situasi yang sedemikian menjadikan pemain gitar dituntut untuk lebih handal dalam menyikapi perkembangan musik di abad millennium seperti sekarang.

Musik di jaman sekarang banyak dipengaruhi oleh aktifitas komunitas.Dan komunitas musik,harus diakui,banyak di dominasi oleh bentuk ensemble dan orkestra besar.Forma ensemble dan orkestra menuntut kemampuan sight reading yang prima.Agar efisiensi latihan dapat tercapai tanpa harus bertele-tele.Untuk dapat eksis,pemain gitar mau tidak mau harus bias “ikut berbicara” dalam komunitas semacam itu.Dan pijakan awalnya tentu saja adalah KEMAMPUAN SIGHT READING.

Sight Reading tentu sangat berbeda dengan reading atau membaca partitura untuk keperluan pagelaran.Bukan ke sesaat(an)nya saja yang berbeda.Namun hal esensial yang membedakan adalah bahwa membaca bagi keperluan pagelaran senantiasa dilakukan dengan upaya polesan,interpretasi.Sight reading tidak demikian.Sight reading yang baik adalah mampu membunyikan apa yang tertulis secara tekstual.Secara teknis,lazimnya sight reading yang layak semestinya dapat mewujudkan :
  • Penguasaan ritmik
  • Akurasi nada
  • Frasering
  • Marka-marka musik

Bagi pemain gitar,parameter kelayakan sight reading tersebut menuntut sebuah penguasaan teknis dan ketrampilan.Gitar sangat berbeda dengan piano dalam hal fleksibilitas pencapaian nada.Juga notasi pada gitar adalah polyphone yang berada hanya dalam satu system staff.Hal ini dalam beberapa kasus dapat menjadi sangat rumit.Karena dengan system staff yang single,seorang pemain gitar dituntut untuk dapat melafalkan kalimat musik dengan ketepatan fungsional tiap jalur bunyi.

Beberapa orang menganggap sight reading adalah sebuah seni yang berhubungan dengan kodrat pembawaan seseorang.Banyak pula yang berpendapat bahwa sight reading tidak lain adalah sebuah ketrampilan teknis yang dapat dipelajari dan dilatih.Apapun sikap pendiriannya,sight reading sudah menjadi “bahasa” dalam pergaulan komunitas musik.Dan sebagaimana sebuah bahasa tutur atau sastra literer,hanya dapat terjalin jika kita membiasakan diri.Membiasakan diri untuk melakukan sight reading sebanyak mungkin secara berkesinambungan.