Saya batasi dahulu semesta paparan ini dengan istilah gamelan Jawa. Karena di dunia ini ada banyak jenis dan bahkan genre gamelan. Prinsipnya, yang disebut Gamelan itu adalah Orkestra Metallophone. Tentu bisa dilengkapi dengan alat gesek, petik dan tiup. Di Indonesia saja kita mengenal, yang terkenal dan dikenal ya, Gamelan Sunda, Gamelan Jawa (ada gaya Surakarta dan Yogyakarta), Gamelan Bali. Belum lagi yang formatnya tidak sebagai sebuah “orkestra”. Di Lombok ada, NTT, NTB ada juga. Di belahan dunia lainnya kita mengenal Gamelan Thailand, Gamelan China, Gamelan Kamboja, dan Gamelan India. Maka dari itu perlu saya beri batasan bahwa tulisan ini adalah tentang Gamelan Jawa.
Sebagai orang Indonesia, tentu, dan semestinya kita berbangga bahwa kita memiliki Gamelan Jawa. Meski namanya menyandang istilah Jawa, Gamelan Jawa tentu bukan milik suku Jawa saja. Ia adalah national Treasure dan bahkan National Heritage.
Sebetulnya, Gamelan Jawa ini memang layak dibanggakan. Karena ia memiliki sistem tala yang jauh lebih kaya dari Musik Barat. Memiliki struktur sampai tatanan mikro yang juga jauh lebih kaya dari Musik Barat. Gamelan Jawa kalah populer di dunia salah satunya adalah karena orang Indonesia khususnya suku Jawa tidak melakukan ekspedisi kesana kemari dan menjajah kesana kemari. Selain itu, orang Indonesia tidak punya andil karena kalah licik dalam mengatur tata dunia secara global. Jadilah Gamelan Jawa kalah popular. Karena yang di sebelah sana melakukan penetrasi budaya dan juga hegemoni serta mahir dalam membentuk dan menyodorkan kemasan menjadi lebih menarik. Ini adalah keprihatinan dan pesimistis yang pertama. Bagaimana Gamelan Jawa bisa tetap ada dan bisa tumbuh kembang ditengah aneksasi, infiltrasi, dan hegemoni budaya barat yang strategi industrinya sungguh menarik.
