Wednesday, 11 May 2022

Jejak Jazz - by: Michael Gunadi | Staccato, May 2022

JEJAK JAZZ
By: Michael Gunadi
Staccato, May 2022

 

Peringatan rekaman Jazz pertama, lebih dari 100 tahun yang lalu juga menandai awal dari perdebatan yang hingga kini masih berlangsung, demikian tulis kolomnis musik Christian Blauvelt. Kala itu lima anggota band naik lift ke Lantai 12 gedung Victor Talking Machine Company di 38th Street New York City. Kala itu, Band akan bermain. Mereka, para anggota Band, mengenakan kemeja putih dengan kerah atas dikancing dan tanpa dasi, lengkap dengan jaket makan malam hitam dengan kerah mengkilap. 



Lagu yang dimainkan kuintet ini sebetulnya  konyol, dan tidak dibuat dengan keterampilan teknis terbaik.  Momen yang paling berkesan adalah ketika klarinet meniru suara ayam jantan; sebuah cornet (terompet Militer) menirukan kuda yang merintih, dan trombon mengimitasi bunyi lenguhan seekor sapi. Tentu itu bukan The Beatles dalam show Ed Sullivan. hahahahaha. Namun itu adalah momen yang sangat penting dalam sejarah musik AS. Tanggalnya 26 Februari 1917, dan lagu baru ini, Livery Stable Blues oleh Original Dixieland Jass Band, adalah rekaman Jazz pertama. Lagu yang mereka mainkan kemudian dikenal sebagai LIVERY STABLE BLUES. (Blues Kandang Ternak ).


Thursday, 31 March 2022

Suka Musik - by: Michael Gunadi | Staccato, April 2022

SUKA MUSIK
By: Michael Gunadi
Staccato, April 2022


Ternyata tak ada satu orang pun yang tahu dengan persis, kok bisa ya musik memberi efek yang begitu besar bagi kita secara emosional. Meski demikian, aneka studi tetap dan terus menerus dilakukan untuk menguak pertanyaan tersebut.

 

MENGAPA KITA SUKA MUSIK?

Untuk menguak jawaban pertanyaan tersebut, hal yang paling logis adalah mengawalinya dengan pertanyaan: Mengapa kita suka musik? Sebetulnya ini sebuah pertanyaan yang memiliki aneka jawaban. Bergantung pada siapa yang ditanya. Tingkat pendidikan, pranata sosial, ragam budaya, gaya hidup, keseharian, sangat berpengaruh terhadap bentuk jawaban pertanyaan ini.

 

Umumnya, dapatlah dinyatakan bahwa kita suka musik karena musik memberi kita rasa nyaman. Kok bisa musik memberi kita rasa nyaman? 2021, Anne Blood dan Robert Zatorre di Universitas McGill Kanada, menyodorkan sebuah jawaban ilmiah. Dengan memakai MRI (Magneric Resonance Imaging), dapat dilihat bahwa seseorang yang sedang mendengarkan musik, mengaktivasi area otak yang dikenal sebagai limbic dan paralimbic. 


Aktivitas di area otak tersebut sangat berkaitan dengan respon kegembiraan eforia yang dialami seseorang. Sama seperti bentuk Eforia ketika seseorang melakukan kegiatan sexual, menikmati makanan kesukaannya. Rangsang Eforia tersebut dipacu oleh zat yang dikenal sebagai Dopamine. Sebuah penghantar respon syaraf.

Monday, 28 February 2022

Balada Headphone - by: Michael Gunadi | Staccato, March 2022

BALADA HEADPHONE
By: Michael Gunadi
Staccato, March 2022


Pandemi COVID-19 memang menabur beberapa perubahan yang memang memaksa manusia untuk “berubah”. Salah satu diantaranya adalah konsep tentang pertemuan. Pertemuan tak lagi dimaknai sebagai bertemu bertatap muka secara fisik. Melainkan saling jumpa melalui media. Layar kaca yang kadang hanya seiprit. Hal ini berlaku di semua segi kehidupan. Orang semakin individual. Karena berakrab akrab, apalagi dalam jumlah yang relatif banyak, merupakan resiko yang akan teramat mahal.

 

Keadaan seperti demikian, semakin mengukuhkan private area, yang dalam batas tertentu juga merupakan isolation area. Tak terkecuali dalam ranah seni. Seni, khususnya musik, tak lagi dipandang sebagai tontonan massal. Seni memiliki dimensi baru. Sebuah perjalanan rasa, pengalaman estetis dan pergumulan manusia dengan entitas keindahan melalui ruang yang sangat pribadi. Di titik inilah, Balada headphone menjadi kisah yang tak terpisahkan dari hiruk pikuknya rona relung kehidupan manusia modern. Keberadaan headphone, memang bukan karena Pandemi COVID-19. Namun, Pandemi inilah yang makin mengukuhkan cengkeraman headphone pada realita aktifitas manusia saat ini.

Tuesday, 1 February 2022

Kompetipret - by: Michael Gunadi | Staccato, February 2022

KOMPETIPRET
SISI GELAP KOMPETISI PIANO
by: Michael Gunadi
Staccato, February 2022

 


Seorang pianis, komposer, pendidik musik dan pembaharu musik rakyat Hongaria, Bela Bartok, berkata begini: Competitions are for horses, not artists. 

Selain Bartok, Gitaris John Christopher William, seorang gitaris klasik legendaris, berkata begini: No, basically I don’t like or approve of competitions on any instrument. I don’t think music can be evaluated like a race – dalam sebuah wawancara oleh Austin Prichard-Levy, 1 Januari 2010. 

Dari dua quotes tersebut, tentu masih banyak musisi lain yang memiliki pendapat senada, bisa kita simpulkan bahwa sebagian legenda musik “membenci“ kompetisi. Alasannya senada. Bahwa seni tidak bisa atau tidak layak diadu. 

Sebetulnya, jika kita agak membuka pikiran, para tokoh dan legenda musik tersebut bukan membenci kompetisi dalam arti sebagaimana kita benci akan kelakuan buruk seseorang. Tidak demikian. Secara tersirat, beliau-beliau tersebut memberikan warning atau peringatan pada kita semua. Akan hal-hal yang akan terjadi dan bisa terjadi dalam sebuah kompetisi. Sisi kelam dan aspek yang tertabukan dalam ranah kompetisi musik. Dalam rangkaian itulah tulisan ini dibuat. Diberi judul KOMPETIPRET, Hal-hal yang pret pret dalam kompetisi musik. Maksudnya tentu bukan menakut-nakuti anda agar tidak ikut kompetisi musik. Bukan. Melainkan memberi anda petunjuk, info dan seluk beluk gamblang agar anda tahu pasti apa yang anda ikuti.

Friday, 31 December 2021

Wanted: New Normal Music | by: Michael Gunadi | Staccato, January 2022

WANTED: NEW NORMAL MUSIC
By: Michael Gunadi
Staccato, January 2022


Pada tanggal 18 Agustus 2021, liputan6.com merilis sebuah berita yang sangat mengejutkan, yakni bahwa Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan: virus Corona SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 tidak akan hilang dalam waktu cepat. Mungkin butuh waktu 5-10 tahun lagi kita tetap hidup dengan virus Corona."Pandemi ini tidak akan hilang dengan cepat. Mungkin akan menjadi epidemi. Dan, kita harus hidup dengan mereka 5 tahun atau 10 tahun lagi," kata Budi dalam konferensi pers di YouTube Kemenkeu.

 

Sudah tentu, pernyataan Menkes tersebut merupakan sebuah Warning sekaligus juga arahan pada semua elemen masyarakat. Bahwa kita tidak bisa lagi hidup “bebas” seperti sebelum ada Pandemi Covid-19. dan setidaknya “belenggu” ini akan memasung kita untuk kurun waktu 5 sampai 10 Tahun. Warning Menkes tersebut tentu tidak pas jika kita tanggapi dengan kekhawatiran dan/atau ketakutan yang berlebihan. Akan lebih arif dan bijaksana jika Warning Menkes tersebut, kita respon dengan kewaspadaan sekaligus mencari terobosan dan rumusan. Akan bagaimanakah kehidupan kita di segala bidang, setidaknya untuk 5 sampai 10 tahun mendatang?

Tuesday, 7 December 2021

Duduk di Dua Kursi - by: Michael Gunadi | Staccato, December 2021

“DUDUK DI DUA KURSI”
By: Michael Gunadi
Staccato, December 2021

 


Mestinya Jika Anda pencinta Musik Klasik atau sekedar menggemari Musik Klasik pun, anda “harus” setidaknya pernah mendengar nama Friedrich Gulda. Ia adalah pianis kenamaan asal Austria. Berbedadengan pianis kenamaan lainnya seperti Daniel Barenboim, Andras Schiff, Evgeny Kissin, Gulda bukan semata pianis. Gulda adalah pemusik sejati. Lebih dari itu, Gulda adalah pemusik yang berhasil duduk di dua kursi. Kursi kemapanan musik klasik yang aristokrasi dan kursi Musik Jazz yang penuh aroma pemberontakan. Keberadaan Gulda, hanya bisa disamai oleh Frank Zappa. Pemusik yang juga berada dalam dua belahan “dunia”.



Pada 28 Maret 1999, dunia dikejutkan dengan satu berita. Bahwa Friedrich Gulda, sang pianis kenamaan, tenar dan bahkan legendaris, telah meninggal dunia. Sontak saja para pemusik, kritikus musik, kaum kerabat dan kolega, beramai-ramai memberikan tribute. Dengan macam macam cara. Ada yang melalui pidato, menggelar konser, membuat artikel, tulisan reportase dan seabreg bentuk penghormatan lainnya. Hanya selang beberapa kemudian, tiba-tiba Gulda muncul di depan publik dan seolah membiarkan para wartawan untuk tahu. Bahwa ia TIDAK/BELUM mati. Dan malahan mengumumkan akan menggelar sebuah “KONSER KEBANGKITAN. Tentu saja, berbagai kalangan menjadi terbelalak dan ternganga. Tapi itulah Friedrich Gulda. Pemusik yang tak pernah lepas dari sensasi.

Monday, 1 November 2021

Menalar Penjarian Tangganada - by: Michael Gunadi | Staccato, November 2021

MENALAR PENJARIAN TANGGANADA
by: Michael Gunadi
Staccato, November 2021


Di dunia ini, dalam kehidupan kita sebagai manusia, banyak hal yang asal usulnya tidak kita ketahui. Misalnya saja peralatan memasak batu yang ditemukan di Wajak Tulungagung yang diklaim sebagai piranti cikal bakal manusia purba. Lalu relief di Candi Borobudur yang terbilang banyak juga mengeksplorasi adegan bercinta. Bagaimana konsep pemikiran dan asal usulnya. Kemudian juga peninggalan Kerajaan Kalingga yang diklaim sudah memiliki sistem irigasi persawahan. Semua itu tidak kita ketahui pasti cikal bakalnya. Demikian juga dalam musik. Banyak yang kita tak tahu pasti, bahkan sama sekali tak tahu cikal bakalnya. Salah satunya adalah: PENJARIAN DALAM MEMAINKAN TANGGANADA.

 

Tangganada atau SCALE didefinisikan sebagai urutan nada nada dengan pola tertentu dan diakhiri oktaf nada yang pertama. Memainkan dan melatih Tangganada, disinyalir dapat meningkatkan penguasaan geografi instrumen anda.  Di Gitar Klasik, mestinya setiap siswa dan siapapun yang belajar Gitar Klasik, “wajib” memainkan Tangganada versi Maha Gitaris Andre Segovia.