Monday, 10 June 2019

Pembungkaman dalam Musik, by: Michael Gunadi | Staccato, June 2019

“PEMBUNGKAMAN DALAM MUSIK”
by: Michael Gunadi
(Staccato, June 2019)


Sebagai sebuah bentuk seni, musik, sebagaimana seni sastra, acapkali mengalami pembungkaman. Musik dibungkam. Dengan sebab musabab yang jelas, dengan prasangka, maupun dengan sebab dan musabab yang sama sekali tak jelas dan tak masuk akal. Pembungkaman tersebut, pada kenyataannya tak pernah dapat memupuskan musik. Keindahan musik tetap indah dan tetap mengalir meski dibungkam. Dibungkam pun bukan berarti komposernya hilang lenyap punah. Malahan, musibah dibungkam dapat melambungkan popularitas dan bahkan “membangkitkan kembali“ sosok komposer yang sudah tiada. Bagaimana fenomena sedemikian bisa terjadi? 

LATAR BELAKANG PERANG DUNIA II
Kita akan awali kisah dibungkam ini dengan berkelana pada jaman PERANG DUNIA II. Adolf Hitler. Dengan partai Nazional Socialismus atau NAZI. Hitler memicu perang dunia dengan propaganda. Propaganda bahwa ras Aria yang adalah ras asli Jerman, tercemari oleh anasir-anasir laknat dan durjana. Dimulailah proses purifikasi Ras Aria. Semua yang berbau dan bernuansa serta bercita rasa Jerman, dikedepankan. Dan dicarilah kambing hitam untuk si anasir najis yang laknat dan durjana, yakni Bangsa Yahudi. 


Jadi ada dua entitas dialogisme sebetulnya. PURIFIKASI DAN KAMBING HITAM. Musik, tak luput dalam kegiatan propaganda. Menteri propaganda Josef Gobel, dengan seijin dan konsep dari Adolf Hitler, membuat maklumat. Bahwa hanya ada tiga komposer yang benar-benar Jerman, yakni: BACH, BEETHOVEN, dan RICHARD WAGNER.

Monday, 6 May 2019

KESEMPURNAAN DALAM BERMUSIK - by: Michael Gunadi (Staccato, May 2019)

“KESEMPURNAAN
DALAM BERMUSIK”
by: Michael Gunadi
(Staccato, May 2019)


KONSEP KESEMPURNAAN
Dalam ranah Religius, manusia adalah makhluk yang takkan bisa dan takkan pernah sempurna. SEMPURNA itu hanya milik Sang MAHA. Meski demikian, filsafat, sebagai cabang ilmu yang menelisik esensi semua hal, mengungkapkan bahwa dalam napak tilas ehidupannya, manusia memiliki hasrat untuk mengejar KESEMPURNAAN. Dalam segala hal. Tentu juga dalam hal berkesenian dan/atau bermusik.

Hasrat manusia berpaut pada kesempurnaan untuk menghasilkan karya musik. Hasrat kemanusiaan jugalah yang menjadikan manusia memiliki tuntutan pada kesempurnaan dalam sajian musik. Sebetulnya apa sih kesempurnaan itu. Dan mengapa hasrat alamiah akan kesempurnaan memiliki begitu besar pengaruh terhadap musik. Kita akan tinjau terlebih dahulu, terminologi nya.


Kesempurnaan dipadankan dalam Bahasa Inggris sebagai PERFECTION. Terlihat dalam gambar tersebut, bahwa kesempurnaan adalah BEBAS DARI CACAT CELA.  Sementara penerapan konsepnya adalah berupa konsepsi ideal, atau kesesuaian harapan orang normal pada umumnya. Sejak dulu, pemaknaan semacam ini secara psikologis, memberi kesan bahwa kesempurnaan adalah sebuah keadaan yang “di awang-awang” dan nun jauh disana. Seorang Rohaniwati malahan pernah mengatakan begini: “Perfection consists not in doing extraordinary things, but in doing ordinary things extraordinary well.”– Arnauld, Angelique.

Monday, 1 April 2019

MUSIK DAN KEBANGGAAN BERBANGSA - by: Michael Gunadi (Staccato, April 2019)

“MUSIK DAN KEBANGGAAN BERBANGSA”
by: Michael Gunadi
(Staccato, April 2019)


FENOMENA MARS
Pernah ada suatu masa di Indonesia, dimana orang keranjingan lagu MARS. Organisasi politik bikin Mars. Kampus bikin Mars. Organisasi massa bikin Mars. Bahkan sampe RT dan kumpulan emak-emak bikin Mars. 

Kenapa orang bisa keranjingan Mars? 
Ada banyak jawaban. Tetapi pada esensinya, Mars membuat kumpulan orang menjadi memiliki energi. Energi untuk bergerak memenuhi dan mewujudkan cita-cita dan hasratnya. Sebetulnya bukan hanya MARS. Semua musik, apapun genre nya mampu memainkan peran demikian. Tentu sejauh digagas dan dikreasi sebagaimana layaknya. Menurut kepatutan dan tata norma masyarakatnya.


KESENIAN SEBAGAI WUJUD RASA BANGGA BERBANGSA
Kampanye Politik, dari mulai Presidential election sampai memilih lurah, tak pernah lepas dari musik. Partai Golkar di era mantan Presiden Soeharto, bahkan merilis beberapa seri rekaman. Isinya Lagu, musik dan sejenisnya. 

Hal demikian masih berlangsung sampai hari ini. Meski tentu saja formatnya berbeda. Sebagaimana Mars, musik dalam kumpulan organisasi, mampu memberi movement spirit. Semangat untuk bergerak. Bahasa kerennya berjuang. Dan, ini yang sangat penting, musik, apapun itu, memberi PRIDE ATAU RASA BANGGA.

Friday, 1 March 2019

Tarrega's Capriccio Arabe - by: Michael Gunadi (Staccato, March 2019)

“TARREGA’S CAPRICCIO ARABE”
by: Michael Gunadi
(Staccato, March 2019)


PENJELAJAHAN DUNIA TIMUR
Sudah sejak sangat lama, bangsa Eropa menganggap bahwa Dunia Timur atau Eastern World adalah sesuatu yang unik, memancing rasa ingin tahu, dan tentu saja eksotis serta terkadang juga erotis. Tak heran, sejak lama, bangsa Eropa, melakukan penjelajahan wilayah, dan memperluas imajinasi dan hasratnya akan keunikan dan keindahan dunia timur melalui seni, khususnya musik. 

Afrika, India, Indonesia dan tentu saja Arab adalah daerah yang acapkali dijadikan sumber inspirasi karya musik bagi komposer Eropa. Beethoven dan Mozart membuat musik Mars serdadu Turki. Godowsky melakukan penjelajahan fisik dan bunyi sampai ke Jawa. Debussy membuat Arabesque yang sangat terkenal. Di jaman sekarang pun, inspirasi daerah timur dalam kreasi musik masih sangat marak dilakukan.

Saturday, 9 February 2019

"G" for Gamelan & Godowsky - by: Michael Gunadi (Staccato, February 2019)

“G” for GAMELAN & GODOWSKY
By: Michael Gunadi
(Staccato, February 2019)

  
EAST MEET WEST
Sudah terlalu banyak ulasan dan kupasan tentang pengaruh Gamelan terhadap musik budaya Eropa. Kupasannya seringkali dipertautkan dengan upaya EAST MEET WEST. Timur bertemu dengan Barat. Bagus saja sebagai sebuah ungkapan adanya persamaan. Setidaknya ada hal “sama“ yang bisa saling bertaut. Untuk menunjukkan bahwa ras umat manusia bisa bersatu dengan penuh toleran. 

Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah gagasan East Meet West melalui seni bunyi, masih relevan untuk diperbincangkan di era sekarang? Mengingat konstelasi sosial dan budaya semesta sudah sedemikian rumitnya. Orang bisa berdebat tentang hal ini. 

Namun ada satu hal yang selalu tersemburat. Bahwa apapun konstelasi sosio-kulturalnya, umat manusia di dunia ini mutlak perlu disadarkan terus menerus. Bahwa budaya adalah hasil kulminasi upaya manusia sebagai ciptaan YANG MAHA KUASA. 

Tidak elok jika budaya, termasuk musik, menjadi ranah hegemoni. Musik adalah ranah persatuan dalam toleransi. Hal ini mutlak didengang-dengungkan terus-menerus, agar umat manusia semesta setidaknya masih punya kesadaran. Bahwa melalui budaya, manusia adalah makhluk estetis ciptaan Sang Ilahi.

Tuesday, 8 January 2019

MARRIAGE OF GAMELAN - by: Michael Gunadi (Staccato, January 2018)

MARRIAGE OF GAMELAN
By: Michael Gunadi
Staccato, January 2019


EAST MEET WEST
Hah? Gamelan menikah? Ma sapa? Judul nya memang agak lebay dan bombastis. Maklum lah, jaman now cicak jatuh saja di tafsir macam-macam. Sebetulnya sudah sejak lama Gamelan dipersandingkan. Dipersandingkan dalam sebuah konsepsi dan konteks EAST MEET WEST. Timur ketemu Barat. Hasil persandingan itu ternyata bermacam-macam. Ada kalanya Gamelan benar-benar dinikahkan dan ternikahkan. Bisa juga Gamelan hanya kawin saja. Pun bisa juga Gamelan bermesraan terus-menerus tanpa nikah dan kawin.

Kita tentu belum lupa. Sejak Tahun 80-an marak lagu Pop dan Dangdut yang bernuansa Gamelan. Seringkali, Gamelan nya hanya berupa KITSCH atau sekedar tempelan yang dilebay-lebay kan. Ada juga hasil karya Gamelan sebagaimana olahan komposisi dari Debussy, Ravel,dan Godowsky. Idiom dan lanskap serta Filosofi Gamelan yang dipakai. Sedangkan nuansa dan impressi bunyi Gamelan sama sekali tersamar. 

Ada juga yang seperti Lou Harrison. Gamelan diberi identitas yang sama sekali baru. Jodi Diamond dengan kelompok Gamelan The Son Of Lion USA, yang membuat Gamelan sebagai sebuah wahana tonal dalam kancah kontemporer pada jamannya. Jangan lupa juga Almarhum Jack Body dengan kelompok Gamelan Padhang Moncar dari Selandia Baru. Padhang Moncar menampilkan Gendhing Kreasi. Baru namun tetap bergelantungan pada akar tradisinya.

Saturday, 1 December 2018

GELIAT MUSIK KLASIK - by: Michael Gunadi (Staccato, December 2018)

“GELIAT MUSIK KLASIK”
By: Michael Gunadi
Staccato, December 2018


MENOLEH SEJENAK
Makhluk hidup itu mempunyai ciri IRITABILITA. Yakni peka terhadap rangsang. Apapun dan bagaimanapun bentuk rangsangannya. Sebagai reaksi dari kepekaannya terhadap rangsang, makhluk hidup, tentu termasuk manusia, dapat melakukan aktivitas berupa MENGGELIAT. Menggeliat ini dilakukan jika makhluk hidup tersebut: mulai tersadar dan mencoba bangkit dari kelelapan tidurnya. Atau juga makhluk hidup tersebut merasakan sebuah rangsangan yang membuatnya terekstase.

Musik Klasik, dalam esensinya adalah perwujudan dari karsa manusia seutuhnya. Karsa, termasuk di dalamnya adalah ide dan fantasi, diwujudkan dalam bentuk karya. Karya yang adalah seni bunyi. Membicarakan Musik Klasik, menjadi tak ubahnya dengan membicarakan manusia itu sendiri. Geliat manusia, sekaligus menjadi geliat karya estetiknya, Musik Klasik. 

Persolannya menjadi: ada rangsang apakah gerangan, sehingga Musik Klasik sampai harus menggeliat? Di awal 2019 ini ada baiknya kita menoleh ke belakan sejenak. Bukan karena cengeng, melainkan untuk menarik utas tali yang merentang prakiraan kita untuk masa yang akan datang.