“The After 60” adalah istilah yang terdapat dalam perkembangan musik
Jazz. Istilah The After 60 merujuk kepada sebuah periode waktu, yakni periode
setelah tahun 1960. Mengapa periode ini demikian penting hingga harus
dipaparkan secara khusus? Dan mengapa pula angkanya harus 60? Keramatkah angka
60? Juga dapat saja terbetik sebuah pertanyaan:”Lalu apa pentingnya bagi kita
jika kita tahu dan mengerti tentang hal-hal tersebut?” The After 60 oleh
beberapa musikolog, termasuk Prof.
Dieter Mack, seorang musikolog dari Freiburg Jerman, dapatlah dikatakan
sebagai sebuah TONGGAK. Tonggak yang sangat menentukan perkembangan Jazz itu
sendiri, sampai kepada bentuk yang kita kenal sekarang ini.
Pijakan awal kita
adalah pada sebuah genre Jazz yang dikenal sebagai FREE JAZZ. Dalam periode tahun 60-an, Free Jazz dapatlah dikatakan
sebagai “pucuk” atau ujung perkembangan Jazz saat itu. Oleh sebab itu,banyak
musikolog yang juga menggolongkan Free Jazz sebagai Jazz Avantgarde, karena
Free Jazz mengedepankan sebuah era (dalam hal ini adalah era tahun 60-an).
Dalam perannya sebagai Jazz Avantgarde, Free Jazz malah memperlihatkan
“taring”-nya. Musik-musik dalam Free Jazz lebih terasa sebagai musik seni. Ekspresi para pemusik kulit
hitam pun terdengar lebih total. Selain itu, Free Jazz juga menjalin hubungan
mesra dengan berbagai genre musik kontemporer yang tumbuh dan berkembang saat
itu.
TIPS SEPUTAR HOME
RECORDING Artikel Audio Pro, Maret 2013 oleh: Michael Gunadi Widjaja
Home recording
sekarang ini sepertinya sudah tak dapat dipisahkan dari gaya hidup sekaligus
keberadaan para pemusik.Dengan home recording berbagai ide musical dapat
diramu,diolah dan sekaligus disajikan.Bukan saja sebagai keperluan
dokumentasi,melainkan dapat juga berbicara dan bersaing di pasar industry
music.Banyak hasil rerkaman home recording yang mampu menjuadi lahan kehidupan
yang menjanjikan bagi para pemusik.
Menjadi
menarik untuk sejenak mencermati Home Recording.Ditinjau dari efisiensi
penggunaan piranti,sekaligus mencoba sedikit mengevaluasi,jika kita telah
memiliki home recording sendiri.Tak ada ruginya mengingat kembali,bahwa pijakan
utama kita saat membangun home recording adalah BUDGET.Sebuah home recording
dapat terbangun dengan biaya sangat minimal,sekaligus juga memakan biaya yang begitu
besar hingga tak terhitung.Untuk itulah,pijakan pertama kita seyogyanya adalah
BUDGET dan tetap kukuh untuk berpegang pada budget kita.
Budget yang
telah kita tetapkan dan kita usahakan agar tak banyak bergeser,mengandung
konsekuensi.Yakni kita harus membuat SKALA PRIORITAS.Misalkan kita ingin
membangun home recording dengan jalur vocal sebagai unggulan,prioritas kita
tentulah pada anggaran piranti vocal yang lebih utama.Sedangkan jika home
recording kita ingin difokuskan pada mixing ataupun mastering tentu piranti
mixing (bukan hanya mixer) yang akan kita prioritaskan.Prioritas dalam artian
mendapat pos anggaran yang paling besar.
Hal berikutnya
yang perlu mendapat perhatian extra adalah,SENANTIASA TANGGAP DAN KRITIS
TERHADAP IKLAN.Sebuah microphone yang diiklankan sebagai sangat superior,belum
tentu pas dan cocok dengan kebutuhan kita.Adalah baik jika senantiasa diingat
bahwa Home Recording adalah sebuahsystem.Misal microphone kita sangat
mahal,namun piranti lainnya tidak match dengan microphone tersebut,hasilnya
juga akan tersia-sia.
Sekarang
misalnya kita telah menset budget dan sudah punya gambaran piranti apa saja
yang akan kita beli.Kita masih harus mengatur mindset kita.Bahwa home recording
adalah sebuah sisterm.Dan dalam system yang demikian,peranan perasngkat
lunak,yakni sumber daya manusia,sangatlah mutlak.Senantiasa cermati kemampuan
kita.Serta terus berusaha untuk mengembangkan teknik recording kita.Dalam
keadaan nyata,sebuah produksi rekaman yang luar biasa,hadir bukan karena
kecanggihan piranti.Melainkan karena ketrampilan dan teknis sound engineering
nya.Tentu,pengalaman juga merupakan hal penting.Tidak aka nada gunanya,jika
kita membeli satu set perlengkapan home recording super canggih,namun teknik
dan ketrampilan kita hanya sebatas operator sound untuk khitanan belaka.
Berikut ini
kita akan menelisik lebih dalam,elemen-elemen utama di dalam home recording:
Vocal yang layak
Banyak orang
yang menginginkan hasil vocal yang “tebal” sebagai hasil dari olahan home
recordingnya.Hal ini dapat5 dicapai bukan semata karena microphone yang sangat
bagus,melainkan juga teknik yang mumpuni.Intinya adalah mengatur overdub,atau
menumpuk track vocal,sembari melakukan pengaturan pada kadar reverb.Tentu kadar
reverb di sini adalah sebuah “ruang maya” hasil rekaan DSP berupa aliran sinyal
digital.
Tips yang
sederhana adalah : Take lead vocal terlebih dahulu.hasilnya harus diolah agar
setidaknya mendekati keinginan kita.Setelah itu,take vocal kembali.Namun kali
ini dicoba dengan berdiri sekitar 3 feet dari mic,disbanding posisi semula.Take
kedua digabung atau overdub dengan take vocal pertama.Setelah itu baru diatur
parameter simulasi,dalam hal ini reverb,pada DSP.Bisa juga ditambahkan sedikit
delay.Tapi ini hanya penebal dan pemanis belaka.Berapa itu besar tambahannya,tergantung
sumber vocal dan sekali lagi teknik dan pengalaman kita.
Merekam Gitar Elektrik dengan Home
Recording
Sudah menjadi
rahasia umum,bahwa bunyi gitar listrik,paling ideal adalah dengan miking pada
speker amplifier nya.Banyak pemilik home recording yang meletakkan mic berharga
sangat mahal untuk miking ke speaker dan amplifier yang juga sangat mahal.Namun
hasilnya tetap mengecewakan.Inti masalahnya terletak pada sudut miking.Mic dan
cone pada speaker ampli,sebetulnya membentuk sebuah sumbu atau axis.Derajat
sudut axis inilah yang sebetulnya menjadi focus utama.tentu dengan trial dan
error.Intinya,sudut ini harus tetap diperhitungkan bersama dengan karakter mic
dan bahan dari cone speaker juga karakteristik ampli nya.Mic condenser
misalnya.akan lebih cenderung menangkap frekuensi-frekuensi dalam ruang nya
dibandingkan frekuensi yang langsung dari bunyi speaker.Jadi jika “terlalu
jauh”,maka condenser mic malahan akan membuat tangkapan bunyi yang tidak
detail.Banyak para sound engineering menempatkan mic condenser sebagai back up
bagi dynamic microphone.
Persoalan akan
menjadi lebih rumit lagi,jika gitar listriknya menggunakan DI box kemudian
dihubungkan dengan aneka guitar gig rig.Jika ini yang dihadapi home recording
kita,kita bisa mencari penyesuaian akustik ruang studio kita.Betapapun sempurna
tata akustik studio kita,lokus-lokus dalam ruang nya tidak akan mungkin
merespon bunyi dengan perilaku yang sama.Jadi kita bisa bereksperimen untuk
terlebih dahulu meletakkan ampli dan speaker pada daerah ruangan yang merespon
bunyi mendekati keinginan kita.
Hybrid Studio
Bentuk home
recording bisa saja sebuah hybrid studio.Yaitu menggunakan dua system kerja
piranti.Digital dan analog.Jadi sebagai pengolah utamanya adalah sebuah DAW
(digital Audio Workstation) dengan tambahan piranti yang bersistem analog.Hybrid
studio dibuat orang karena ada rasa,yang sekian persennya adalah
subyektif,bahwa bunyi olahan digital kurang hangat disbanding olahan
analog.Pendapat ini tentu sah-sah saja adanya.
Sebuah “teater” multimedia yang menakjubkan.Berikut kupasan
dan ulasan Slamet Abdul Syukur yang saya terjemahkan dari sebuah penerbitan
Perancis
Indonesia
negeri orang-orang gila yang bisa hidup dalam ke mustahilan. Lebih dari
Perancis yang tidak percaya ada yang tidak mungkin.
Beberapa waktu lalu, yang belum terlalu lama . . .
Seorang Slamet Gundono, yang tubuhnya pendek tapi beratnya
104 kg, membawa ukulele kecil berwarna hijau dan menyanyi seperti burung
bulbul. Atau ngomong sendirian dan kadang-kadang sambil diiringi instrumen yang
dia bawa itu. Dia seorang dalang dan menceritakan kembali dongeng Hans
Christian Andersen, dengan caranya sendiri.
Dia berdiri di depan dekor berwarna merah dengan gaya Cina
yang dibuatnya sendiri. Di sisi lain; di panggung yang sama duduk delapan
pemain musik Dutch Chamber Music Ensemble yang dipimpin Ruud van Eeten. Di
situ nanti akan muncul juga Sitok Srengenge, pelaku lain dalam dongeng. Sitok
Srengenge sendiri adalah seorang penyair.
Secara Mendadak, musik elit dan “hiburan rakyat” sudah tidak
bisa dibedakan lagi, tembok tebal yang memisahkannya selama ini, hilang. Ruang
pertunjukan dipadati kawula muda, kursi-kursi terpaksa disingkirkan dan bahkan
di luar masih di pasang layar tancap raksasa agar dapat ditonton oleh mereka
yang tidak mendapat tempat di dalam. Festival Burung Bulbul (yang) berkeliling dari Jakarta ke Bandung, Solo, Yogya dan
Surabaya.
Burung
Bulbul dan Kaisar Tiongkok,
dongeng yang ditulis pengarang Denmark Hans Christian Andersen, telah menjadi
karya musik beserta dalang. Komposernya adalah Theo Loevendie,dari Belanda.
Ceritanya terjadi di kekaisaran Tiongkok zaman dulu. Cerita tentang seekor
burung bulbul, burung betulan, dan burung-robot tiruannya.
Slamet Gundono yang raksasa itu bisa
berubah menjadi burung bulbul yang mungil. Ajaib !
Ada kalanya dia menampakkan diri di depan dekor merah,
sebagai actor yang luar biasa.Pada saat-saat lainnya dia menghilang di balik
dekor untuk menggerakkan wayang-wayang yang dibuat khusus untuk acara ini.
Burung bulbul satunya lagi, sebuah robot kecil, menjadi
sumber kegembiraan bagi para spesialis untuk mengadakan seminar-seminar tentang
kecermatan dan kehebatan otak manusia . Bagi Sitok Srengenge pelaku burung
tiruan ini, semuanya sudah dirancang sebelumnya, semuanya sudah dapat diduga,
maka tinggal membaca naskah saja, semuanya beres.
Ternyata………
Wah ! Tidak begitu !
Mestinya dia hafal naskahnya seperti yang sudah diteladani
Malcolm McDowell, seorang actor sejati yang pernah dipercayai memegang peran
utama dalam film Kubrik CLOCKWORK ORANGE atau dalam film Gore Vidal CALIGULA. Burung bulbul tiruan yang
dihadiahkan kaisar Jepang pada kaisar Tiongkok itu, sekalipun ada
kekurangannya, robot tersebut tetap indah penuh dengan batu-batu permata.
Perbedaan antara seorang penyair yang membaca naskah seperti
anak sekolah, burung bulbul yang aneh dan luar biasa serta ansambel musik yang
tidak sekadar betul intonasinya, tidak menjadi masalah bagi penonton. Mereka
semua gembira. Orang-orang Indonesia
mudah terpukau oleh keindahan dan tidak terlalu tertarik untuk bersikap kritis.
Sebelum The Nightingale (Burung Bulbul) karya Theo Loevendie, disuguhkan
dulu musik komponis Belanda lainnya, Roderik de Man, The
Surprising Adventures of the Baron Munchausen, berdasarkan peristiwa nyata yang tidak masuk akal. Sebuah
catatan perjalanan Friedich di Rusia. Dia hidup antara 1720-1797. Suatu
pengalaman yang demikian mencengangkan , sampai akhirnya hanya dianggap sebagai
sekadar bualan yang luar biasa. Ini menyedihkan dan dia mati dengan sakit hati.
Dari buku yang ditulis oleh Rudolf Eric Raspe, diterjemahkan ke dalam bahasa
Belanda oleh Godfried, diolah kembali oleh komponis serta dibaca oleh Sitok
Srengenge.
Begitu rumitnya ! Kita dimanjakan oleh teknologi. Hanya saja
pertanyaannya apakah ini bukan kemajuan yang berjalan mundur? Kemampuan kita
berkhayal, secara halus dibunuh oleh kemudahan. Tentunya ada cara lain
memanfaatkan video dengan sikap yang jauh lebih kreatif.
Dari segi musik, kedua karya The
Nightingale
dan The Baron sama kuatnya dengan L’Histoire du Soldat – Strawinsky yang keterbatasan
instrumentasinya dijadikan acuan untuk festival ini. Bahkan bisa menimbulkan
kesan sepertinya ketiga karya itu dibuat pada tahun yang sama. Padahal
kerjasama Strawinsky-Ramus, terjadi hampir seratus tahun yang lalu. Itu
artinya, kedua komponis tersebut berbeda dari umumnya para komponis muda yang
mudah hanyut oleh hal-hal yang baru. Loevendie dan Man sudah menemukan jati
dirinya dan tahu betul bahwa mereka tidak perlu menjadi Ligeti, Xenakis atau
lainnya.
JAZZ ROCK: "PERKAWINAN BUDAYA YANG MENGGUNCANG DUNIA" (Artikel Staccato, edisi Maret 2013) Oleh: Michael Gunadi Widjaja
Jika kita menonton acara konser
Jazz pada era sepuluh tahun terakhir ini, agak sulit bagi kita untuk menentukan
jenis Jazz apa yang ditampilkan para pemusiknya. Sebagian orang berujar, bahwa
tidaklah penting menggolong-golongkan Jazz ke dalam jenis atau alirannya. Lets
just enjoy the music whatever it is. Sebagian lagi merasa penting dengan
pemahaman klasifikasi musik,khususnya Jazz. Alasannya,bagaimana mungkin kita
dapat mengapresiasi dengan baik sebuah genre musik,khususnya Jazz, jika kita
tak paham seluk beluk dan ragam alirannya. Apapun pijakan sikapnya, nampaknya
adagium jazz senantiasa berlaku: “Jazz
tidak pernah dapat dimengerti namun selalu dapat dinikmati”. Adagium
tersebut semakin kokoh dengan sifat Jazz yang bagaikan “open source music”. Kenyal terhadap masukan semua unsur dari
beragam genre musikal. Kekenyalan Jazz menjadikannya arena “perkawinan” dari
beragam genre musik. Baik yang mentradisi maupun yang membawa panji sebagai
sebuah entitas modernitas. Salah satu modus perkawinan tersebut adalah JAZZ
ROCK.
Dari istilahnya,tentu seketika
dapat kita pahami bahwa Jazz Rock adalah gabungan dari Jazz dan Rock.Sebuah
penggabungan, yang bukan fusi. Fusi adalah peleburan. Dalam Jazz Rock, elemen
Jazz dan elemen Rock masih dapat ditengarai identitasnya. Kadang muncul juga
sebutan Rock Jazz. Inversi nama ini sama sekali tidak menunjukkan dominasi
elemen tertentu. Jazz Rock dan Rock Jazz adalah identik. Untuk lebih mengakrabi
Jazz Rock, yang adalah perkawinan berbagai elemen dari dua budaya musik yang
berbeda, ada baiknya kita tengok sekilas terlebih dahulu, perbedaan dan
persamaan antara Jazz dan Rock.
PERBEDAAN
ANTARA JAZZ DAN ROCK
JAZZ
Umumnya disajikan secara instrumental
Sajian vocal disertai teknik Scat (seperti orang berceloteh)
Jiwanya adalah improvisasi dan dilakukan dengan konsep yang
relatif bebas
Umumnya dimainkan dengan piranti musik akustik
Tata gramatika musiknya sangat progresif dengan akord-akord
berstruktur kompleks
Format musiknya adalah : Tema - tema diolah dengan improvisasi
Peran penting pada alat musik tiup dan juga piano
ROCK
Umumnya berupa sajian musik vocal dengan isi teks yang
diutamakan
Menggunakan piranti elektronis dan teknologi olah bunyi
Tata gramatik musiknya menggunakan akord dengan struktur
relatif bersahaja
Format musiknya adalah lagu berbait. Mirip lagu pop pada
umumnya
Peran penting pada gitar dan drum set
Persamaan Jazz dan Rock
adalah bahwa kedua genre musik ini memiliki sumber yang sama , yakni musik
Blues. Juga sama-sama memiliki ritme yang kuat dan ada variasi sinkopatis
(pemindahan aksen/tekanan pada pola irama). Dan sama-sama juga kurang mengolah
tema. Pada Jazz dan juga Rock,melodi pokok atau cantus firmus sering bahkan
selalu disajikan dengan jumlah kalimat musik (phrase) yang sedikit dan tidak
diolah atau bersahaja. Hal ini menjadi nyata jika kita bandingkan tema dalam
Jazz dan Rock dengan tema komposisi musik klasik.
Jazz Rock adalah sebuah
“perkawinan” - penyatuan dua budaya. Budaya ini berkait juga sikap dan gaya
hidup para pemusiknya. Di sisi inilah problematika Jazz Rock muncul. Sampai
sejauh mana sebetulnya sublimasi atau totalitas penggabungan elemen Jazz dan
Rock. Apakah elemen Jazz dan elemen Rock benar-benar memperoleh kesejajaran
dalam Jazz Rock. Hal ini menarik jika kita menyoroti sebuah kenyataan sosio
kultural bahwa:
Seorang pemusik Jazz yang oleh sebab tertentu mengarah ke Rock
akan memiliki kecenderungan untuk berperan serta dalam segi komersialisasi
musik
Pemusik Rock yang juga oleh sebab tertentu mengarahkan konsep
musiknya ke Jazz biasanya memiliki kecenderungan umtuk mengembangkan
konsep bermusik yang lebih mengutamakan “mutu”
Dari dua perilaku kultural
tersebut dapatlah dipahami bahwa senantiasa ada gap, Ada kesenjangan porsi antara elemen Jazz dan elemen Rock dalam
sebuah genre Jazz Rock. Dapat terjadi elemen jazz lebih dominan atau
sebaliknya.Namun apapun problematikanya, Jazz Rock dalam kenyataannya telah
mengguncang dunia. Bukan saja blantika musik, namun Jazz Rock juga telah
menorehkan sejarah baru dalam cara pandang penyatuan budaya dalam kerangka
estetika.
Jazz Rock lahir dan
kepopulerannya segera mengguncang dunia pada sekitar 1960. Jazz Rock pernah
mengalami masa surut, namun kemudian “lahir kembali” pada dekade 80-an. Awal
kemunculan Jazz Rock ditandai dengan terbitnya album Bitches Brew
oleh pemain terompet legendaris Miles Davis. Pengembangan Jazz
Rock kemudian dimotori oleh pemain Jazz yang tadinya berada dalam genre Mainstream Jazz - ChickCorea, kelompok Weather Report pimpinan Joe Zawinul
- pianis yang juga mantan anggota koor The Vienna Boys Choir dan juga Frank
Zappa - pemusik legendaris yang kontroversial yang berpijak pada multi
genre musikal.
Mencermati Jazz Rock sebagai
perkawinan dua budaya, nampaknya akan membawa kita untuk masuk lebih dalam
kepada pemaknaan keadaan sosial budaya dalam kehidupan kita. Bahwa sebuah
perkawinan bukanlah sebuah pengorbanan jati diri. Sebagaimana dalam Jazz Rock,
perkawinan (baca:pernikahan) agaknya harus dimaknai bahwa laki-laki dan
perempuan tetap pada akar budaya dan jati dirinya masing-masing. Keragaman itu
diletakkan dalam kesekitaran untuk mencapai harmonia atau keselarasan kehidupan
sesuai konsep kehidupan yang disepakati. Juga dalam prernikahan senantiasa ada
dominasi.Sama halnya dengan Jazz Rock, tidaklah mungkin untuk memaksakan
kesetaraan apalagi dalam bentuk persamaan proporsi peran. Namun yang penting, apapun
jenis dominasinya sejauh masih ada kerangka harmoni semua akan mengacu pada
sesuatu yang “indah.”
Merujuk pada Jazz Rock, perkawinan
dapat juga dimaknai sebagai sebuah sinergi. Semestinya lembaga-lembaga dalam
pemerintahan kita juga senantiasa bersinergi. Namun faktualnya, meski secara
hirarki ada dua lembaga yang sepadan kedudukannya, sinergi tidaklah senantiasa
berarti persamaan porsi peran dan kekuasaan. Dalam segi-segi tertentu akan
mucul dominasi. Yang esensial adalah meletakkan jatidiri pada semesta
keselarasan. Jazz Rock memberi pelajaran pada kita. Jika ingin mengguncang
dunia tidak cukup dengan tebar pesona. Namun dengan kematangan konseptual.Untuk
sampai pada harmoni kehidupan yang sejati.
Christian Leotta, pianis asal Italia menggelar resital piano di Gedung
Kesenian Jakarta pada 11 Februari 2013. Resital tersebut diselenggarakan oleh
Kementrian Negara Italia, bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Italia (Istituto
Italiano Di Cultura) dan Gedung Kesenian Jakarta.Resital terbuka untuk umum.
Ada dua hal
menarik yang sekaligus juga merangsang minat Team Staccato untuk meliput. Pertama
adalah apa yang tertulis pada publikasi Christian Leotta. Dalam publikasinya
ditulis bahwa Christian Leotta adalah pianis termuda kedua di dunia, setelah Daniel Barenboim, yang berhasil meng"khatam"kan (bukan sekedar
tamat tapi khatam) seluruh seri Sonata karya Beethoven. Catatan dari publikasi
ini menyisakan beberapa pertanyaan: apakah dengan mengkhatamkan seluruh seri Sonata Beethoven kemudian Christian
Leotta layak menyandang predikat interpretator Beethoven? Sebagaimana Glenn Gould untuk Bach dan Anton Rubinstein untuk Nocturno dari Chopin, ataukah khataman tersebut
adalah perwujudan idola Christian Leotta terhadap Beethoven, atau juga
mungkinkah ada hal-hal lain yang menyebabkan khataman seri Sonata Beethoven
perlu dipaparkan secara publik?
Hal kedua adalah,
ekspektasi sebuah bentuk interpretasi yang berbeda - bagaimana karya Beethoven
yang bermazhab Mannheimer akan diinterpretasi dengan gaya Italia yang panas dan
spontan.
Malam itu dapat
dikatakan kursi Gedung Kesenian Jakarta yang berjumlah 472 termasuk balkon, nyaris
penuh terisi. Sebagian besar hadirin adalah warga negara asing yang ekspatriat
di Indonesia. Kehadiran mereka juga menarik untuk sekedar ditelaah. Apakah para
ekspatriat itu sungguh mencintai Musik Klasik, khususnya musik piano? Atau apakah
para ekspatriat tersebut mengidolakan Christian Leotta? Atau apakah para
ekspatriat tersebut hadir karena basa basi diplomasi antar bangsa karena konser
ini resmi diselenggarakan perwakilan negara Italia?
Resital Piano
Chistian Leotta dimulai tepat pukul 8 malam. Dalam resital ini penyelenggara
tidak menyediakan programme notes secara khusus. Hanya selembar kertas berwarna
berisi riwayat perjalanan karir Christian Leotta dan judul-judul repertoire
yang akan dimainkan malam itu.
Jika kita googling
di situs video youtube, terpampang bahwa semua video dari Christian Leotta
adalah ketika sang pianis seluruhnya memainkan seri Sonata Beethoven dan memang
malam itu semua repertoire yang dibawakan adalah seri Sonata Beethoven.
Resital Christian
Leotta mengambil setting dan adab yang sudah sangat lazim dalam sebuah
pagelaran Musik Klasik. Christian Leotta memasuki panggung tanpa basa basi dan
memberikan hormat. Dia mengenakan tuxedo yang dapat dimaknai bahwa resitalnya
adalah sebuah pagelaran resmi yang tentunya telah dipersiapkan dengan
formalitas yang terjaga. Secara teknik dan musikalitas, Christian Leotta layak
disebut pianis kelas international. Dia memiliki dexterity yang baik, pedalling yang bagus, dan juga power serta kecepatan yang memadahi. Permainannya
pun bukan saja eksplorasi rentang dinamika melainkan sudah sampai pada taraf tone color.
Saat nomor pertama
bergulir, kami sempat terhenyak karena Beethoven disajikan sebagaimana halnya
Mozart. Gramatik dan retorika musik Beethoven sama sekali tak muncul. Yang ada
malahan kegenitan dan kenakalan musikal alla Mozart. Dalam nomor kedua malah
kegenitan ala Mozart semakin menjadi-jadi dan ditambah dengan romantisme yang ala
Chopin.
Mengenai hal ini
memang sah-sah saja jika orang memperdebatkan. Tetapi jika nurani ini diberi
kesempatan untuk sedikit saja berkata jujur,yang terjadi malam itu adalah
BEETHOVEN YANG MENJELMA MENJADI MOZART. Untuk sebagian orang musik malam itu
sah saja dianggap indah mengharu biru sampai mampu menggerakkan komentar BRAVO
BRAVO. Pertanyaannya adalah apa sebetulnya yang terjadi sampai sampai orang
seperti Christian Leotta yang notabene khatam semua seri sonata Beethoven
sampai menjelmakan Beethoven menjadi Mozart?
Meski demikian
kita tetap memberi respek dan apresiasi bagi Christian Leotta dan juga pihak
kedutaan Italia.Yang telah dengan sangat baik menghadirkan sebuah alternatif
dan resital berskala dunia.